MATARAM, KOMPAS - Harga rumput laut di Nusa Tenggara Barat anjlok dalam tiga bulan terakhir, dari Rp 20.000 menjadi hanya Rp 8.000-Rp 10.000 per kilogram. Fluktuasi harga itu dipengaruhi oleh tinggi-rendahnya permintaan luar negeri yang berubah relatif cepat.
”Produsen rumput laut dunia sempat turun, harga pun naik, malah pembeliannya tanpa mengindahkan standar mutu. Namun, belakangan harga komoditas itu terus merosot,” ujar Cece Suryadi, pengusaha komoditas ekspor rumput laut di Mataram, Selasa (7/10).
Periode Agustus-pertengahan September 2008, harga rumput laut jenis katoni merangkak naik nyaris tiap hari sebesar Rp 1.000-Rp 1.500 per kg dari harga awal Rp 5.400 per kg. Situasi harga yang membaik itu, kata Cece, membuat petani berlomba-lomba menjual produknya.
Apalagi saat itu, kecuali stok rumput laut dunia dari negara produsen seperti Filipina, sedang sepi akibat perubahan cuaca dan juga terjadi aksi borong tanpa memedulikan lagi standar kualitas. Para pedagang pengumpul berani membeli rumput laut dengan kadar 45 persen, atau jauh dari standar kadar air kualitas ekspor 38 persen. Rumput laut itu diekspor ke China untuk bahan home industry.
Setelah mencapai harga tertinggi, Rp 20.000 per kg, tiba-tiba harga rumput laut itu meluncur jatuh. Sejak 10 hari menjelang Lebaran, harga rumput laut di Nusa Tenggara Barat (NTB) turun jadi Rp 15.000 per kg. Dalam waktu cepat harga terus merosot menjadi Rp 14.000 dan saat ini Rp 8.000-Rp 10.000 per kg.
”Saya pun sempat terpancing melakukan pembelian dan menjual ke penampung. Namun, stok belum habis terjual, harga sudah turun,” tutur Cece, yang rugi Rp 133 juta dari satu kontainer (20 ton) rumput laut yang belum sempat terjual.
Dinas Kelautan dan Perikanan NTB menyebutkan, tahun 2007 produksi rumput laut NTB 72.000 ton, naik dari 2006 sebanyak 56.000 ton. Tahun 2005 produksi NTB masih 35.000 ton dan 2008 target produksi 105.000 ton.