
Kendati bukan yang terbaik, namun Indonesia mencatatkan diri sebagai negeri dengan produksi rumput laut terbesar di dunia. Dalam setahun, Indonesia yang memang memiliki banyak daerah pesisir mampu menghasilkan rumput laut, baik jenis cottonii, spinosum, dan gracilaria sebanyak 150.000 ton. Barangkali, tinggal masalah waktu saja bagi negeri ini untuk menempatkan diri sebagai penghasil rumput laut terbanyak dan terbaik.
Melihat situasi ini, asosiasi-asosiasi rumput laut mulai melakukan langkah persiapan. ISF atau Forum Rumput Laut Indonesia adalah langkah langkah awal, dan Makassar mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah pelaksanaan ISF, di CCC (Celebes Convention Centre) 27 – 30 Oktober nanti. Apa saja agenda yang akan diangkat dalam ISF yang baru kali pertama di gelar di Makassar itu? Mengapa Makassar yang dipilih sebagai tempat kegiatannya? Berikut ini hasil wawancara wartawan Fajar Akbar Hamdan dengan Ketua Panitia ISF Arman Arfah, Senin 6 Okt 08.
Apa yang mendasari pelaksanaan ISF ini?
Kita melihat keadaan rumput laut secara global yang dari segi permintaan terus meningkat. Sebagai negara yang memiliki banyak daerah pesisir, keadaan ini jelas harus kita sikapi. Permintaan naik beararti produksi harus turut dinaikkan.
Dalam hal ini, masyarakat pesisir sebagai ujung tombak penghasil rumput laut harus kita persiapkan. Bagaimana mereka bisa meningkatkan produksinya, sekaligus meningkatkan kualitas rumput lautnya.
Selain itu, saat ini ada kecenderungan masyarakat Internasional untuk balik ke alam, utamanya dalam hal makanan. Rumput laut adalah salah satu bahan makanan yang sangat alami.
Meski melalui proses kimiawi, namun manfaat alami yang dikandung rumput laut masih tetap berkualitas.
Siapa-siapa saja yang terlibat dalam Pelaksanaan ISF?
ISF ini diprakarsai empat asosiasi rumput laut, yaitu ISS (Indonesia seaweed society), Asperli (Asosiasi Petani dan Pengelola Rumput Laut Indonesia), Ikatan Fikologi (Kalangan Peneliti) dan ARLI (Asosiasi Rumput Laut Indonesia). Kami berharap, ISF ini akan terlaksana secara berkesinambungan sekali dalam tiga tahun.
ISF ini juga sudah mendapatkan dukungan dari Departemen Kelautan Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemprov Sulsel, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).
Apa saja yang menjadi agenda kegiatan ISF?
Selama empat hari, kita akan memiliki banyak kegiatan. Akan ada pertemuan internasional yang akan membahas masalah rumput laut, ada forum bisnis internasional, ada pameran, bahkan kongres masyarakat tani rumput laut.
Yang paling penting adalah traning bagi petani rumput laut serta pemaparan teknologi terbaru rumput laut pada forum rumput laut. Kita juga mengagendakan kunjungan lapangan.
Negara mana saja yang akan berpartisipasi dalam pertemuan internasional?
Sejauh ini ada 19 negara yang akan ikut serta, baik dari Asia, Eropa, maupun Amerika. Yaitu Brunei Darussalam, Malaysia, Philipina, Singapura, Thailand, Hongkong, Tiongkok, Korea Selatan, Vietnam, Jepang, Chili, Maroko, Spanyol, Amerika Serikat, Perancis, Argentina, Denmark, Italia, Kanada, dan Australia.
Namun empat negara yang tergabung dalam BIMP-EAGA, yaitu Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina akan besatu kerja sama dalam sistem budidaya rumput laut.
Mera yang menjadi pseserta ada dari kalangan pelaku industri rumput laut internasional dan ilmuan. Pelaku industri yang akan datang adalah Depolo dari Chili, INA Food dari Jepang, Benson Bakae Group dari Filipina, Javier Suryaro dari Argentina dan Agarindo Bogatama dari Indonesia.
Ada juga pembicara utama dalam plenary session dari luar negeri yakni kandidat Ketua Simposium Rumput Laut Internasional Mr Iain C. Neish dari Canada, DR Ramino Rojas dari Chili dan Prof DR Ik Kyo Chuy dari Korea. Dar Indonesia adalah Prof DR. Akhmad Fauzi dari ITB.
Sejauh ini, sudah ada 60 orang delegasi luar negeri yang mendaftar sebagai peserta.
Apa saja yang diprogramkan dalam forum bisnis ini?
Yang paling penting, ISF ini akan menjadi intermediasi antara pelaku pabrik dengan petani. Ini akan menjadi kesempatan bagi kedua belah pihak untuk duduk bersama membahas masalah dan kendala dalam produksi rumput laut.
Sebab pengembangan jejaring yang baik harus memerhatikan dua aspek ini, pelaku pabrik dan petani. Kalau ini tidak jalan, pasti akan menemui banyak masalah. Dengan berkumpul dan duduk bersama, apa saja yang menjadi kendala bisa diketahui dan dicarikan solusi.
Bagaimana dengan forum ilmiah? Apa saja yang akan dipaparkan para peneliti?
Perlu diketahui, rumput laut itu punyak banyak manfaat, baik sebagai bahan pengan maupun kosmetik. Namun dewasa ini, ada peneliti yang menemukan kegunaan lain dari rumput laut. Sebab ternyata rumput laut bisa menjadi bahan baku kertas, bahkan bahan bakar alternatif.
Kalau tidak salah ada peneliti Korea yang memaparkan hasil penelitiannya, (menyangkut hal tersebut, red).
Apa yang menjadi target dari pelaksanaan ISF ini?
Kami mau menempatkan Indonesia sebagai negara produsen rumput laut terbanyak serta pusat industri rumput laut. Sebab secara matematis, Indonesia merupakan penghasil rumput laut terbanyak di dunia. Tiap tahun kita bisa meproduksi 150.000 ton rumput laut.
Kami juga ingin memperlihatkan peserta luar negeri mengenai kondisi rumput laut di Indonesia. Sebab terus terang, kita mengincar pelaksanaan ISS (International Seaweed Simposium) dilaksanakan di Indonesia. Kita menginginkan pelaksanaan simposium besar itu selanjutnya.
Pada kesempatan ini, kita akan mempromosikan Indonesai sebagai negara produsen serta industri rumput laut. Dan kalau memungkikan, ISS digelar di Makassar.
Mengapa Makassar dipilih sebagai tuan rumah ISF?
Yang pertama, Sulsel merupakan penghasil rumput laut terbesar untuk skala nasional. Sebanyak 70 persen rumput laut nasional berasal dari Sulsel. Makassar tentu sangat pantas menjadi tuan rumah.
ISF juga kami gelar di Makassar karena kita punya agenda kunjungan lapangan, yaitu ke Jeneponto untuk melihat langsung budidaya rumput laut. Kami ingin memberikan kesan bahwa Sulsel siap menjadi gerbang produksi dan industri rumput laut bertaraf internasional. Kita juga mengagendakan kunjungan budaya kesejumlah daerah. Hitung-hitung promosi untuk budaya Sulsel.