Semarapura (Bali Post) - Serangan penyakit ice-ice yang merusak tanaman rumput laut, sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Sehingga, hal itu secara pelan-pelan membunuh petani rumput laut, termasuk petani di Nusa Penida. Selain itu, kini petani rumput laut kembali menghadapi persoalan yakni ketidakstabilan harga. Pasalnya, harga produksi rumput laut hanya berpatokan pada kemauan pengepul/pembeli. Sehingga, terjadi fluktuasi secara drastis tergantung keinginan pembeli.
Kebetulan, Gubernur Bali Made Mangku Pastika berkunjung ke Nusa Penida. Petani rumput laut tak menyia-nyiakan kesempatan ketika bertemu Gubernur Bali yang baru tersebut. Dalam pertemuan di Balai Kelompok Tani Segara Bayu Banjar Sental, Ped, mereka meminta gubernur bersama jajarannya memperjuangkan kestabilan harga produksi rumput laut. Sehingga, tidak fluktuatif dengan perubahan sangat drastis. Saat ini, harga rumput laut jenis spinosum Rp 2.300/kilo dan cottoni Rp 5.000/kilo. 'Padahal, khusus cottoni, sebelumnya harganya Rp 18 ribu/kilo,' ujar Ketua Kelompok, Made Galang.
Dengan fluktuasi harga itu, ditambah serangan penyakit yang tak kunjung habis, membuat petani rumput laut selalu merugi. Hasil panen paling hanya 100 kilogram/are dengan biaya pengerjaan Rp 300 ribu. Tak hanya itu, tempat penjemuran agar kualitas rumput laut lebih bersih juga menjadi kendala petani. Termasuk pengamanan di laut dan perlengkapannya. 'Kami juga membutuhkan pembinaan-pembinaan pengelolaan rumput laut. Bibit kami juga bermasalah, apalagi musim panas seperti sekarang. Rumput laut pecah-pecah,' tambah Kades Ped, Made Sukarta.
Pastika berjanji mencarikan solusi mengatasi keluhan masyarakat. Mengingat, rumput laut merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan dunia, yakni untuk kosmetik maupun produk makanan. 'Untuk itulah, saya turun langsung untuk menyerap informasi primer. Tanpa saringan siapa pun,' aku Pastika seraya menegaskan dirinya berkomitmen membantu petani. Karena selama ini, petani merupakan kelompok yang bekerja sangat berat, namun penghasilannya sedikit.
Pada kesempatan itu, secara gamblang seorang ibu petani rumput laut, Ni Wayan Putri juga menceritakan peliknya persoalan yang dihadapi petani rumput laut. Pekerjaannya melelahkan, namun penghasilannya tak seberapa karena harga produksi dipermainkan pembeli. 'Sekarang tinggi, besok jatuh,' sebut Putri.