Kendari - Usaha rumput laut boleh jadi tidak menggiurkan lagi. Salah satu produk budidaya perikanan yang beberapa bulan lalu sempat melejit hingga Rp 20 ribu per Kg, kini anjlok Rp 8 ribu.
Hal ini menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sultra, Hotman Hutauruk, akibat permintaan pasar juga menurun. Selama ini, rumput laut banyak diekspor ke luar negeri. Pasar ekspor terbesar di Cina. Sementara di Cina sedang ada olimpiade, sehingga permintaan pun menurun.
Kendati demikian, pasar regional rumput laut banyak dibutuhkan. Seperti pabrik industri makanan membutuhkan sebagai bahan baku. "Saya sudah imbau kepada para petani rumput laut, meskipun harga anjlok, produksi harus berjalan. Harga Rp 8 ribu sudah mendapat untung. Walaupun harga Rp 6 ribu saja, petani masih untung. Kalau harga sebelumnya mencapai Rp 20 ribu, memang kondisinya sedang bagus," paparnya dalam sebuah acara.
DKP berkomit akan terus memprogramkan peningkatan produksi. Pasalnya komoditi tersebut akan terus dibutuhkan, seperti perusahaan industri makanan. Untuk itu mutu pun masih harus terus ditingkatkan, dengan harapan harga jualnya lebih tinggi dan bisa masuk pasar ekspor.
Di Sultra memiliki 20 teluk, yang bisa dijadikan lokasi pengembangan rumput laut. Jika produksi bisa maksimal, Hotman yakin Sultra bisa menjadi pusat rumput laut. "Selain rumput laut, banyak budidaya laut yang bisa kita tingkatkan produksinya. Salah satunya udang," tambahnya.