
Di tengah terpuruknya perekonomian secara makro, berakibat pada tingkat pendapatan perkapita penduduk Indonesia berada dibawah rata-rata. Kenaikan BBM, Ancaman Teroris, Flu Burung dan lain sebagainya mempunyai andil paling besar terhadap sensitifitas perkembangan pariwisata di tanah air khususnya Bali.
Bali saat ini bagaikan kota mati. Pemilik hotel sepertinya tidak bisa bertahan untuk waktu yang lama, apabila kondisi pariwisata terus seperti ini. Pemerintah bersama komponen pariwisata lainnya telah melakukan upaya untuk me-recovery Bali, tetapi sampai saat ini masih belum membuahkan hasil yang signifikan, sehingga harapan bagi dunia pariwisata masih tipis.
Dalam hal ini perlu adanya usaha alternatif untuk menunjang perekonomian masyarakat, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam dunia pariwisata agar tetap stabil. Bali, sesungguhnya adalah pulau yang kaya sumber daya alam dan ramah lingkungan. Rumput laut dapat berkembang dengan baik, tanaman perkebunan bisa berkembang, pertanian daratpun dapat diandalkan.
Banyak sekali system pertanian yang sedang digalakkan di Bali, baik secara hydroponik, Aeroponik maupun yang lain. Rumput lautpun di wilayah Bali dapat diandalkan apalagi rumput laut Bali telah masuk ke pasar Internasional, tetapi dalam upaya pengembangan rumput laut Bali diperlukan peran pemerintah dalam hal penataan, sehingga dapat berjalan sesuai dengan harapan petani.
Petani Bali khususnya Sawangan masih belum bisa all out bekerja di laut oleh karena mereka masih terbentur dengan lahan tempat pembibitan (mengikat bibit untuk ditanam), sehingga petani masih setengah hati dalam mengolah lahan pantai tersebut. Sesungguhnya pertanian rumput laut merupakan solusi terbaik bagi terpuruknya industri pariwisata.
Mengapa demikian?, karena saat industri pariwisata mengalami stress, permintaan rumput laut dipasar konstan dan bahkan harga rumput laut naik dari Rp. 5.000-5.300 per kg dengan MC=35-40% dan DC=2-4% menjadi Rp. 5.200 ? 5.500, dengan kondisi yang sama. Jadi komoditi ini mempunyai kecendrungan yang berbanding terbalik dengan perkembangan pariwisata di Bali. Sekali lagi,boleh dikatakan bahwa rumput laut sebagai alternatif solusi atas dilema yang terjadi dalam industri pariwisata.
Ironisnya, masyarakat masih larut dalam sikap gengsi, padahal pertanian rumput laut tidak memerlukan skill khusus untuk melakoninya. Apalagi pertanian rumput laut tidak mengenal musim dan tidak tergantung pada usia dan jenis kelamin tenga kerja. Pekerjaan ini dapat dikerjakan orang muda, tua, perempuan dan laki-laki bahkan anak sekolah dapat menekuni pekerjaan ini tanpa menggangu jam sekolahnya.
Dilematis memang kalau kita berbicara korelasi antara Pariwisata dengan Rumput Laut, bagaikan minyak dalam air. Karena satu sisi pariwisata memerlukan pantai yang bersih dari aktivitas apapun kecuali pariwisata, sementara rumput laut memerlukan aktivitas di sepanjang pantai. Sehingga dapat disinonimkan - bagaikan minyak dalam air -.
Hal bijaksana yang dapat dilakukan adalah bekerjasama antara pemerintah, pelaku pariwisata dan petani untuk membagi lokasi yang jelas diantara keduanya atau menjadikan pertanian rumput laut bagian dari pariwisata yang lazim disebut agrowisata. Imbasnya adalah petani dapat berkiprah tanpa harus was-was oleh penggusuran.
Kesepakatan ini telah dilakoni oleh petani di wilayah Nusa Dua, seperti Geger Samudra Indah dan Artha Segara Murti. Lahan Pertanian di wilayah ini merupakan daerah yang diplot sebagai wilayah pariwisata. Untuk wilayah Geger sudah negosiasi dengan pihak investor dalam upaya mencapai win-win solution untuk menjawab kekhawatiran petani. Hasilnya, petani Artha Segara Murti telah diberi ruang oleh investor di kawasan itu (Gunung Payung) dengan cara membagi pemanfaatan pantai yaitu dari bibir pantai sampai karang batas pantai dibagian tengah.
Petani Artha Segara Murti kelompok utara belum pasti nasibnya. Ketidakpastian tersebut menyebabkan petani masih memanfaatkan lahan pantai selagi tanah investor tersebut belum dibangun. Wilayah sepanjang pantai di kawasan Geger dan Sawangan merupakan wilayah yang subur bagi rumput laut sepanjang musim, terutama jenis cottonii sakul dan cottonii celery menggunakan system penanaman dasar dengan long line.