Jakarta, Kompas - Pengolahan rumput laut di Indonesia hingga kini belum optimal. Hanya 15 persen dari total produksi rumput laut diolah di dalam negeri, selebihnya diekspor sehingga tidak memberikan nilai tambah produk.
Berdasarkan data Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), total produksi rumput laut tahun 2007 sebanyak 1,62 juta ton atau naik dibandingkan dengan tahun 2006 yang 1,37 juta ton.
Direktur Investasi dan Usaha Direktorat Jenderal Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Farid Ma’ruf, akhir pekan lalu di Jakarta, mengemukakan, tingginya ekspor rumput laut juga menyebabkan industri pengolahan rumput laut di dalam negeri tidak memiliki jaminan pasokan bahan baku.
Rumput laut potensial dikembangkan di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Jenis rumput laut yang potensial diolah meliputi karaginan (cotonii), gracilaria, dan sargasum. Potensi produk olahan rumput laut mencapai 500 jenis produk akhir. Harga rumput laut jenis karaginan di pasar internasional saat ini mencapai Rp 18.000 per kilogram.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya DKP Made L Nurdjana mengemukakan, industri pengolahan belum mampu bersaing dalam membeli bahan baku sesuai harga pasaran internasional.
Hingga kini, terdapat 21 industri pengolahan rumput laut, sebagian mengolah rumput laut dalam bentuk agar-agar dan bahan setengah jadi.
Sementara itu, ketergantungan pemasaran kepada tengkulak menyebabkan harga rumput laut kerap dipermainkan dan pembudidaya tradisional sulit meningkatkan nilai jual.