
PRIA ini tampil apa adanya. Mengenakan baju kaus dibalut jaket hitam dengan celana jins biru. Tatkala berada di atas perahu motor miliknya, ia terlihat sangat sibuk. Ketika disapa, ia langsung mengumbar senyum.
Itulah Abet Eik, nelayan asal Desa Daiama, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao yang ditemui Pos Kupang di Pelabuhan Rakyat (Pelra) Oeba-Kota Kupang.
Turun dari perahunya, ia menenteng sebuah tas kresek hitam. Tak ada kata yang diucapkan, kecuali membetulkan pakaian yang dikenakannya sambil melempar senyum.
Mulanya ia tak mau mengaku tentang isi tas kresek hitam itu. Namun ketika ditanya beberapa kali, akhirnya ia mengungkapkan bahwa tas itu berisi uang puluhan juta rupiah. Uang itu ia dapatkan dari menjual rumput laut saat panen perdana, baru-baru ini.
Menurut suami Yakoba Bessie itu, membudidayakan rumput laut baru digelutinya lima tahun kerakhir. Ia tekuni usaha itu setelah mendapatkan informasi tentang rumput laut dari Bupati Kupang, Drs. IA Medah saat mengunjungi desanya tahun 2002 silam.
Setahun setelah itu, ia bersama istri dan anak-anaknya membudidayakan rumput laut. Dan hasilnya menggembirakan. Pada tahun 2003, keluarganya memanen 2,5 ton. Tahun 2004, hasil panennya naik lagi menjadi tiga ton, tahun 2005 naik lagi menjadi empat ton, tahun 2006 lima ton, tahun 2007 tujuh ton dan saat panen perdana tahun 2008, ia memperoleh 5,7 ton rumput laut.
Yang membuatnya senang, adalah tahun ini harga rumput laut Rp 22.500,00/kg. Harga ini sangat tinggi bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya Rp 7.200,00/kg.
Makanya saat panen perdana 20 Agustus 2008, ia mendapatkan uang yang tidak sedikit. Nilainya mencapai Rp 140 juta. Yang membuatnya tak habis pikir, adalah hanya dalam tenggat waktu tiga bulan terhitung Mei, ia mendapatkan uang sebanyak itu.
Uang ini sangat besar untuk ukuran seorang petani/nelayan. "Mulanya saya bingung mendapatkan uang sebanyak itu. Tetapi setelah saya merenung, akhirnya saya mendapatkan jawaban bahwa kalau kita mengerjakan sesuatu dengan serius, kita bisa mendapatkan hasil melimpah," ujarnya.
Ia menceritakan, ia membudidayakan rumput laut di sekitar selat Pukuafu yang terkenal dengan gelombang dan arus yang deras. Sehari-hari ia dibantu puteranya yang kedua, Yaret Eik. Sedangkan anaknya yang sulung, Yahya Eik, kini mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Kupang.
Lokasi budidaya rumput laut miliknya itu, sebenarnya tidak terlalu luas. Sebab ia hanya memanfaatkan 50 rol tali dengan bibit yang dibeli dari desa tetangga sebanyak 2 ton. "Ini baru panen perdana, satu hingga dua pekan ke depan saya masih akan panen lagi. Berarti saya masih dapat uang lagi. Dan, panen rumput laut ini baru berakhir bulan September nanti," ujarnya.
Untuk apa uang sebanyak itu? Dia menyebutkan, saat ini disimpan di bank. Dengan cara itu, uang tersebut nantinya digunakan untuk kebutuhan dan masa depan anak-anaknya.
Berangkat dari hasil yang diraup itu, Abet berharap agar para petani dan nelayan jangan sungkan-sungkan membudidayakan rumput laut. Karena usaha itu memberikan hasil yang tidak sedikit.
Kepada pemerintah Kabupaten Rote Ndao, dia meminta agar membangun jalan ke desa Daiama, karena selama ini warga kesulitan transportasi darat. "Kalau ada jalan, kehidupan kami pasti akan jauh lebih baik," ujarnya.
Dia menambahkan, saat mendapatkan uang sebanyak itu, warga terdecak kagum. Makanya saat ini mereka ramai-ramai membudidayakan rumput laut. Tak kurang dari 1.000 petani kini mengembangkan komoditi ini.