Denpasar (Bali Post) - Aktivitas pengerukan pasir di wilayah pantai dipastikan akan menyebabkan abrasi kian parah dan kerugian bagi masyarakat sekitarnya. Salah satu contoh pengerukan pasir di pantai Padanggalak sekitar tahun 2004 lalu yang menyebabkan abrasi mencapai wilayah pantai Klungkung.
Demikian komentar anggota tim ahli bidang lingkungan DPRD Badung, Nyoman Gelebet, terkait aktivitas pengerukan pasir di Pantai Geger, Peminge, Kuta Selatan. Gelebet yang ditemui di kantor DPRD Badung, Senin (25/8) kemarin menegaskan, pasir pantai yang disedot dalam jumlah besar mengakibatkan terumbu karang ambrol yang kemudian menyebabkan abrasi pantai.
Tidak hanya itu, rusaknya terumbu karang ini kemudian berimbas pada ketersediaan zat hara yang menjadi makanan rumput laut. Dampaknya, rumput laut yang kehilangan sumber makanan akan mati dan tentunya akan sangat merugikan petani sekitar yang menggantungkan hidup dari rumput laut.
Petani rumput laut dan masyarakat sekitar pantai memang paling merasakan dampak pengerukan pasir pantai. Salah satunya seperti yang terjadi di Pantai Geger. Masyarakat sekitar, menurut penuturan Kaling Sawangan, Peminge Nyoman Reta, termasuk Wakil Ketua DPRD Badung belum lama ini bahkan menolak adanya pengerukan dengan dalih proyek penataan pantai.
Kelanjutan masalah ini rencananya dibahas Rabu (27/8) melalui pertemuan antara masyarakat dan Dinas Cipta Karya Badung. Kadis Cipta Karya Badung sebelumnya mengakui pengerukan pasir pantai tersebut sudah dilaksanakan sejak lama yang akan digunakan di Sanur, Tanjung Benoa serta pengurukan Pantai Kuta. Dirinya menampik pengerukan pasir membawa dampak buruk karena sudah dikaji matang dan menggunakan sistem canggih.