JAKARTA - Produksi rumput laut mengalami kenaikan 10 persen dibandingkan tahun 2007 lalu.
Ketua Asosiasi Pembudidaya dan Pengelola Rumput Laut Indonesia (Aspperli) Arman Arfah mengatakan saat ini produksi rumput laut mencapai 150 ribu ton, sedangkan tahun 2007 produksinya hanya 135 ribu ton. "Tingginya produksi rumput laut ini juga berpengaruh terhadap ekspor ke sejumlah negara seperti China dan Jepang," katanya.
Arman menegaskan, naiknya produksi rumput laut itu juga dipengaruhi oleh kenaikan harga di pasaran dunia. Para petani, lanjutnya, makin bersemangat dalam menanam rumput laut. "Harga per kilogram rumput laut mencapai Rp19 ribu dan kami berharap harga ini akan terus meningkat sampai akhir tahun," tegasnya.
Menurut Arman, akibat tingginya harga rumput laut itu memberikan imbas kepada industri rumput laut olahan. Dia menegaskan para pemilik industri rumput laut olahan mengeluh dengan lonjakan harga rumput laut yang awalnya hanya Rp6 ribu per kilogram. "Memang kenaikan harga rumput laut ini dilematis, di satu sisi menguntungkan petani namun industri kesulitan membelinya," kata Arman.
Sementara itu, Direktur Jenderal ( Dirjen) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Martani Huseini mengatakan kenaikan harga rumput laut itu bersifat sementara.
Martani menyebutkan tingginya permintaan di China dan terjadinya bencana alam di Filiphia membuat harga rumput laut naik. "Saya khawatir dengan tingginya harga rumput laut sebab bisa saja sewaktu-waktu harganya turun drastis," katanya usai membuka diskusi Forum Rumput Laut Indonesia di Hotel Paragon, Jakarta.