Keberadaan Petani
Berakhir pada kekalahan yang tak jelas, maka petani berupaya untuk melanjutkan mata pencahariannya yang telah terusik oleh kebijakan tata ruang Kab. Badung yang memplot kawasan Sawangan sebagai kawasan Pariwisata, yang nota bene merupakan kawasan subur bagi pertumbuhan rumput laut. Dalam ketidakpastian ini, ada beberapa petani yang pindah ke arah utara yaitu ke Kawasan Geger bergabung dengan Klp. Tani Rumput Laut Geger Samudra Indah dan ada pula yang ke kawasan selatan bergabung dengan Klp. Tani Rumput Laut Artha Segara Murti yang masih eksis di Gunung Payung. Ada juga petani yang masih tetap menempati lahan kontradiktif tersebut sebelum dibangun oleh investor.
Pada hari kamis, 3 November 2005 baru ini, petani bagaikan diperciki air surgawi, setelah diadakannya pertemuan antara pemilik (pengemong/pengempon) Pura Karang Boma, yaitu I Made Regig (Jro Mangku) dan I Nyoman Sonder (tetua keluarga) Pura tersebut. Petani diberikan menempati lahan dimaksud yang berlokasi disamping muara sungai dekat lahan yang termasuk kawasan pariwisata tadi dengan kontribusi petani harus mengeluarkan kocek Rp. 100.000,-/are/bulan. Untuk sementara petani dapat bernafas lega setelah sekian bulan tak tentu nasibnya, walaupun harus mengeluarkan uang sekian banyak tetapi bagi petani tidak menjadi masalah yang sangat berat. Petani mulai saat ini kembali gencar menambah lahan tanamnya dan sangat semangat sekali melakukan aktivitas.
Kondisi Rumput Laut
Di akhir bulan September ~ Desember ini merupakan musim subur bagi rumput laut, karena curah hujan yang masih tergolong sedikit dan suhu berkisar 30 - 34 drajat celcius. Ini merupakan kesempatan bagi petani untuk memproduksi rumput laut untuk semua jenis cottonii. Walaupun ice-ice dan tumbuhan pengikat kadang-kadang menjadi benalu tetapi bagi rumput laut bukan termasuk simbiosis parasitisme yang merupakan bahaya besar bagi pertumbuhan rumput laut, khususnya di kawasan Badung Selatan yaitu daerah Sawangan, Geger Peminge, Kutuh, Ungasan dan Pecatu. Justru yang merupakan ancaman besar bagi petani rumput laut kawasan Badung Selatan adalah bulan Agustus sampai dengan pertengahan September setiap tahunnya, karena pada bulan-bulan tersebut ikan-ikan besar turun dan memakan rumput laut dengan sangat ganasnya, serta bulu babi berduri pendek saat baru lahir tersebut akan sangat mengganggu pula bagi pertumbuhan rumput laut. Inilah bulan-bulan yang sangat mengkhawatirkan bagi petani yang sering kali petani gagal panen pada bulan tersebut. Tetapi saat ini dengan adanya rumput laut jenis cottonii sakul yang ditanam oleh kebanyakan petani di Badung Selatan ini menjadikan mereka dapat menekan relatif lebih kecil ancaman tersebut.
Harga rumput laut kering dengan kadar air 35% - 40% dijual dengan harga berkisar antara Rp. 5.000 - Rp. 5.300 per Kg. Untuk kandungan Gelnya relatif masih kurang karena kecendrungan masa panen petani relatif masih muda berkisar antara 35 - 40 hari. Dalam hal ini crop logger daerah Sawangan dan Peminge masih berupaya untuk memberikan informasi tentang pentingnya kandungan Gel yang optimal, akan dapat menguntungkan bagi petani itu sendiri dan pabrik.
Pemasaran Rumput Laut Badung Selatan
Untuk sementara, pemasaran rumput laut di kawasan Badung Selatan masih menggunakan pengumpul lokal seperti misalnya kepada Bapak Wayan Lidug, Bapak Wayan Ronci, Bapak Nyomang Roneng, Bapak Made Koser dan Bapak Made Tanggi, yang untuk selanjutnya akan dikirim ke pengepul besar yaitu Ibu Komang Ribek.