
Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, menantang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) masuk ke bisnis perikanan dan kelautan, mengingat potensi laut dan ikan yang dimiliki Indonesia sangat luar biasa.
"Potensi laut dan ikan yang dimiliki Indonesia sangat luar biasa. Namun, dalam pengembangannya, Indonesia kalah dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam," kata Freddy seperti disampaikan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Hipmi, Erwin Aksa, usai bersama pengurus lainnya bertemu Menteri Kelautan dan Perikanan itu di Jakarta.
Menurut Erwin, Freddy mengatakan, risiko bisnis di sektor kelautan dan perikanan tidak sebesar minyak dan gas.
"Pernah suatu ketika, datang pengusaha yang mengeluh sudah mengeluarkan lima juta dolar AS, tapi minyak belum juga keluar. Lalu, saya sarankan supaya pengusaha tersebut berbisnis di rumput laut saja," kata Erwin menirukan Freddy.
Freddy juga menyarankan agar Hipmi berbisnis dengan modal kecil, tapi memberi keuntungan jangka panjang.
"Jangan mudah terpikat dengan usaha berskala besar," katanya.
Menteri mencontohkan, saat ini komoditas rumput laut menjadi primadona ekspor.
Dengan harga rumput laut di tingkat petani Rp18.000 per kg, lanjutnya, maka Hipmi dapat memanfaatkan peluang bisnis dalam pemrosesan dan akses pemasaran.
Erwin Aksa mengatakan, pihaknya sedang menjajaki pola kemitraan melalui pelatihan, pembinaan, termasuk permodalan dengan petani rumput laut.
"Kami siap mengembangkan bisnis rumput laut," katanya.
Ia menjelaskan, dengan anggota sekitar 30.000, Hipmi memiliki jejaring sosial dan ekonomi di sektor kelautan.
Selain rumput laut, Freddy juga menyarankan Hipmi masuk di sektor pengadaan BBM.
"Kita baru memiliki 200 SPDN (stasiun pengisian BBM dalam negeri) dan masih perlu banyak lagi," katanya.