
SITUBONDO-Di bidang kelautan dan perikanan, Pemkab Situbondo memiliki visi mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera, maju, dan mandiri. Tentunya, dengan bertumpu kepada pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan secara efeketif, efisien, dan berkesinambungan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Situbondo Edy Susilo mengatakan, untuk membangun masyarakat pesisir menjadi generasi biru yang tangguh, pihaknya telah dan tengah mengambil kebijakan kongkrit yang langsung menyentuh masyarakat pesisir. Di antaranya, pengembangan usaha perikanan hemat BBM. Kenaikan harga BBM membuat nelayan kecil menjerit. DKP pun mencoba mengembangkan pola pembinaan nelayan kecil melalui diversifikasi usaha budidaya rumput laut yang hemat BBM.
DKP membina nelayan pancingan, jaring gill net, dan payang alit. Mereka merupakan komunitas nelayan kurang beruntung dalam memperebutkan sumberdaya ikan laut. ''Mereka kita bina berbudidaya rumput laut Eucheuma cottnii yang hemat BBM. Itu sekaligus berfungsi filter biologi bagi perairan laut untuk menekan global warming," terang Edy.
Saat ini telah berkembang pesat pembudidayaan rumput laut di perairan Besuki sebanyak 550 unik rakit. Di Desa Gundil, ada 250 unit long line dan rakit. Di Desa Gelung, 850 unit rakit dan Desa Agel baru percobaan lima unit rakit.
Pengembangan budidaya rumput laut oleh DKP bersama masyarakat pesisir memakai pola cluster. Pada lini dasar sebagai basis produksi sekaligus quality control produk dibina penyuluh perikanan melalui kelompok-kelompok pembudidaya rumput laut. Pola lini kedua, pemkab menyediakan pabrik pengelola rumput laut setengah jadi (chip), yang saat ini butuh calon pengelola profesional. Pada lini ketiga, akan menjalin kerjasama dengan buyer luar negeri sebagai pasar terakhir. ''Untuk menunjang permodalan kelompok pembudidaya rumput laut, DKP juga menjalin kerjasama dengan Bank Jatim melalui kredit lunak ketahanan pangan," terangnya.
Kebijakan konkrit lainnya adalah pengembangan sarana pusat pendaratan ikan. Dijelaskan, produk perikanan tangkap, yang bersifat musiman dan mudah rusak membuat harga ikan selalu tidak stabil. Ujung-ujungnya, nelayan yang dirugikan. Untuk mengatasi itu, DKP mengembangkan sarana dan prasarana di beberapa pusat pendaratan ikan, yang memiliki potensi besar hasil tangkapan ikannya. ''Yakni pusat pendaratan ikan di Pondok Mimbo dan Besuki,'' sebutnya.
Dengan sarana itu, diharapkan mutu produk perikanan tangkap para nelayan dapat dipertahankan dan mampu bersaing di pasar, dengan harga yang layak. ''Sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga nelayan,'' cetusnya.