
Sulawesi Selatan diharapkan menjadi sentra produksi rumput laut dunia pada tahun 2015 menggeser Chili karena prospek budidaya rumput laut di daerah ini cukup besar dan mampu mengisi pasar dunia.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sulsel, Syahrun di Makassar, mengatakan, saat ini, areal pesisir yang dapat menjadi lahan budidaya rumput laut mencapai sekitar 250 ribu hektar.
Bila lahan seluas ini dimanfaatkan secara baik untuk pengembangan rumput laut, maka diprediksi Sulsel bisa memproduksi 500.000 ton rumput laut sekali panen.
Menurut dia, satu hektar lahan dapat memproduksi sekitar 1,5 hingga dua ton rumput laut kering dengan masa budidaya hanya 45 hari.
"Kita berharap agar pemanfaatan lahan di pesisir untuk budi daya komoniti ini dapat mengantarkan Sulsel sebagai pilar industri rumput laut dunia," katanya.
Ia menambahkan, target produksi rumput laut Sulsel tahun ini adalah 657.965 ton yang terdiri atas 300 ribu ton rumput laut jenis euchema sp dan selebihnya jenis glacellaria dan cottoni.
Sementara itu, staff khusus Departemen Koperasi dan UKM, Irma Lena mengatakan, produksi rumput laut yang dihasilkan Sulsel kelak menjadi salah satu solusi dalam menangani masalah pengangguran dan kemiskinan.
Menurut dia, bila 250 ribu hektar potensi lahan yang dimiliki Sulsel dimanfaatkan secara baik untuk budidaya, diperkirakan dapat meyerap sekitar satu juta tenaga kerja.
Ia mengatakan, masyarakat yang fokus terhadap bisnis rumput laut tingkat kesejahteraannya menjadi lebih baik khususnya mereka yang berada di daerah pesisir.
"Kami tidak bisa memberikan angka-angka mengenai kontribusi rumput laut terhadap pengentasan masyarakat miski tetapi indikatornya bahwa sejak fokus dalam bisnis ini, mereka yang sebelumnya tidak memiliki sepeda motor dan barang-barang mewah lainnya, kini sudah memilikinya," Jelasnya.
Menurut Irma, mayoritas masyarakat miskin adalah para nelayan yang hidup di sekitar daerah pesisir. Mereka yang menggantungkan hidupnya sebagai nelayan tidak dapat berbuat banyak saat tarif BBM mengalami kenaikan ditambah lagi produksi tangkapan mereka tidak cukup banyak membantu.
Namun saat beralih menjadi petani rumput laut, tingkat kesejahateraan mereka mengalami perubahan dan menjadi lebih baik karena produksi komoditi ini sangat menjanjikan.