
AMARTA bekerja sama dengan SEAPlant.Net, sebuah LSM berbasis di Makassar, memperluas produksi rumput laut di Propinsi Sulawesi Utara. Hingga hari ini, 30 pembibitan rumput laut telah berdiri di daerah Kwandang dan Teluk Lemito, dekat Gorontalo. Pembibitan tersebut memberikan pinjaman dalam bentuk sarana produksi rumput laut pada 150 petani. Pinjaman tersebut kemudian dibayarkan kembali dalam bentuk barang setelah empat hingga enam minggu produksi.
Pada pertengahan bulan April, staff dari AMARTA dan SEAPlant.Net melakukan sebuah penelitian di kedua teluk. Dalam kunjungan ke Teluk Kwandang, ditemukan bahwa petani disana menanam satu varietas rumput laut yang belum dikenal. Varietas tersebut berwarna hijau dan memiliki nodul-nodul yang berbeda dari varietas umum pada thallus-nya. Varietas ini dapat merupakan cultivar baru dari Kappaphycus alvarezii, atau bahkan spesies baru yang disebut sebagai Kappaphicus striatum. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai ”kulit buaya” karena penampilannya. Para petani mengatakan bahwa mereka mengumpulkan varietas tersebut dari teluk dan mulai membudidayakannya sejak empat tahun yang lalu.
Ini dapat menjadi temuan yang sangat penting di industri rumput laut Indonesia, karena kultivar yang saat ini ditanam, Kappaphycus alvarezii, berasal dari perairan Filipina. Kultivar yang paling umum dibudidayakan ini disebut sebagai Tambalang. Adanya spesies lokal, yang produktif dan memiliki kandungan carrageenan yang baik, dapat meningkatkan produksi rumput laut Indonesia.
SEAPlant mengirimkan sampel rumput laut ”kulit buaya” kepada pengolah rumput laut untuk menguji kandungan carrageenannya. Hasil pengujian awal cukup positif, sehingga program ini sekarang akan menentukan tingkat pertumbuhan di beberapa lokasi, untuk diperbandingkan dengan tingkat pertumbuhan Tambalang. Pengujian berikutnya akan menentukan apakah tingkat pertumbuhan tinggi dapat berlangsung stabil sepanjang tahun. Tingkat pertumbuhan Tambalang umumnya mengalami penurunan antara bulan September dan Februari. Penelitian tersebut diikuti dengan lokakarya yang disponsori oleh AMARTA, untuk petani-petani rumput laut di masing-masing lokasi. SEAPlant.Net memandu lokakarya yang terdiri dari pelatihan dan perencanaan teknis tersebut.
Surat kabar The Jakarta Post meliput lokakarya tersebut dalam artikelnya menyatakan bahwa ekspor rumput laut dari Indonesia telah mengalami peningkatan dari $49 juta di tahun 2006, hingga $57 juta di tahun 2007, terutama karena naiknya harga carrageenan. Artikel tersebut mengutip pernyataan Marcel Taher, yang adalah pembeli rumput laut utama di wilayah Lemito. Ia menekankan pentingnya fasilitasi bantuan keuangan untuk perluasan pertanian rumput laut. AMARTA dan SEAPlant.Net sedang melakukan studi kelayakan adanya fasilitas simpan-pinjam yang dimiliki oleh petani yang dapat menangani hambatan tersebut.