
Jika kita para petani rumput laut di Indonesia giat bekerja keras dalam menghasilkan rumput laut berkualitas tinggi, maka kesempatan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara produser dan pemasok rumput laut unggulan di dunia dapat tercapai menggeser posisi negara tetangga kita, Filipina.
Grafik tentang produksi pertumbuhan Cottonii di samping ini bersumber dari presentasi Farley L. Baricuatro dari Indo-Pacific Sourcing Center FMC BioPolymer pada Kongress Rumput Laut ke-6 yang diadakan di Zamboanga, Filipina pada bulan Juli 2005 yang lalu.
Dari grafik ini dapat kita lihat bahwa produksi rumput laut Indonesia,Vietnam dan Kamboja (IndoChina) stabil mengalami pertumbuhan dalam 5 tahun terakhir dan telah mengambil kurang lebih 5 % pangsa pasar rumput laut produksi Filipina setiap tahunnya. Pada tahun 2001, Indonesia hanya memproduksi 31,000 ton rumput laut, namun pada tahun 2004 Indonesia mampu memproduksi 55,000 ton rumput laut dengan kadar air 38 – 42 %. Telah terjadi pertumbuhan produksi sebesar 21 % sejak tahun 2001. Filipina yang selama telah menjadi pemasok rumput laut unggulan dunia dalam 3 tahun terakhir ini mengalami penurunan produksi. Hal ini menjadikan Filipina yang tadinya mampu memenuhi permintaan pasar global sebanyak 80 % kini hanya mampu memenuhi 68 % dari permintaan pasar global tersebut.
Apa yang disampaikan di atas tadi sebenarnya merupakan kabar baik bagi kita. Namun sayangnya hingga saat ini harga rumput laut di Indonesia masih berada di bawah harga rumput laut Filipina.
Dua tabel yang akan disajikan berikut ini menginformasikan perbandingan harga rumput laut antara Indonesia dan Filipina.
Tabel 1 menunjukkan bahwa tren harga ekspor rumput laut jenis cottonii di Indonesia berada di bawah tren harga ekspor Filipina. Pada bulan September 2005, ekspor cottonii Indonesia hanya mencapai Rp 5,5 – Rp 6 juta/ton , sementara harga ekspor cottonii Filipina dapat mencapai Rp 8,5 juta/ton.
Tabel 2 menunjukkan bahwa harga lokal rumput laut jenis cottonii di Indonesia hanya mencapai kurang lebih Rp 4,700/kg (harga lokal di Surabaya), sementara harga lokal rumput laut jenis cottonii di Filipina dapat mencapai Rp 6,270/kg (harga lokal di Cebu).
Dari apa yang disampaikan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kualitas rumput laut yang dihasilkan Filipina masih berada di atas kualitas produk rumput laut kita.
Mudah-mudahan informasi ini dapat memberikan masukan kepada kita untuk terus giat memproduksi rumput laut yang memiliki kualitas tinggi yang sesuai dengan permintaan pasar.
Sumber : “Informasi Terkini Rumput Laut Asia Tenggara Tahun 2005”
Presentasi Farley L. Baricuatro - Indo Pacific Sourcing Center, FMC BioPolymer
Pada Kongress Rumput Laut ke-6 Mindanao, 8 – 9 September di Zamboanga, Filipina.