
Mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin, dan situasi laut yang berombak besar di sekitar perairan Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), menyebabkan nelayan enggan melaut. Mereka memilih beralih profesi menjadi petani rumput laut.
Namun, di saat petani rumput laut belum bisa menikmati hasil panenannya, tengkulak telah lebih dulu membayarnya. Memang, keberadaan tengkulak di satu sisi bisa membantu petani yang membutuhkan dana cepat. Namun secara tidak langsung, keberadaan mereka juga menjerat "urat leher" petani.
Para tengkulak atau pengumpul, biasanya mendatangi petani langsung di tempat pembiakan rumput laut di wilayah Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton (48 kilometer barat Kota Bau-Bau).
Setelah itu, mereka yang membawa uang kontan, langsung siap membayar rumput laut dalam keadaan basah dengan harga Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogram. Sedangkan rumput laut kering, mereka bayar dengan harga Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogram.
Harga yang dibayarkan para tengkulak ini jelas di bawah harga pasaran yang biasanya mencapai Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per kilogram dalam keadaan basah, dan rumput laut kering yang mencapai Rp 12.500 hingga Rp 15.000 per kilogram.