
Potensi pengembangan rumput laut di Indonesia sangat luar biasa karena memiliki daerah perairan tenang yang diperkirakan mencapai delapan juta hektar, kata Dirjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Made L Nurjana, di Jakarta.
Ia mengatakan permintaan rumput laut saat ini semakin besar karena tidak hanya untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri tetapi juga untuk ekspor. Saat ini baru dua jenis rumput laut yang telah dimanfaatkan, yakni glacilaria yang biasa dibuat agar-agar dan cotonii yang menghasilkan karaginan (sejenis tepung).
"Yang belum dimanfaatkan cukup banyak. Di antaranya ada rumput laut yang dapat dijadikan bubur kertas dan ada juga yang dapat dimanfaatkan menjadi biofuel," ujarnya.
Ia mengatakan, DKP sedang mengembangkan teknologi "polyculture" untuk pengembangan udang windu, rumput laut, dan bandeng, yang sudah dimulai di daerah Lampung, Jawa Timur, dan Pantura Jawa. Namun dibutuhkan dana bagi pembudidaya untuk mengembangkan teknologi tersebut dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dirasakan belum menyentuh lapisan pembudidaya kecil.
"Butuh dana lima juta untuk pembudidayaan dan nilai tersebut cukup besar. Karena itu mereka sulit untuk bangkit," katanya.
Produksi rumput laut terus meningkat dari tahun ke tahun dan berdasarkan angka statistik sementara dari Ditjen Perikanan Budidaya (DJPB), produksi rumput laut pada 2006 mencapai 1,37 juta ton naik menjadi 1,62 juta ton pada 2007. Sementara ekspor rumput laut selama 2000 baru tercatat 23.073 ton dan naik menjadi 94.073 ton pada 2007.