MAKASSAR: International Finance Corporation (IFC) menilai Indonesia memiliki potensi untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumput laut industri di China yang diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 123.000 ton pada 2012.
Negeri Tirai Bambu itu saat ini mengimpor sekitar 55.000 ton rumput laut setiap tahun, yang sebagian besar berasal dari Indonesia dan Filipina.
Sebanyak 70% pabrik pengolahan di China diketahui telah mengimpor langsung dari pedagang Indonesia. Pertumbuhan permintaan rumput laut tersebut menyusul perkembangan pesat industri kerajinan di China.
Selain China, pasar industri di negara Eropa dan Timur Tengah yang juga tengah menggeliat merupakan pasar besar bagi rumput laut Indonesia. Potensi devisa komoditas ini semakin signifikan seiring dengan kenaikan harganya.
"Kebutuhan karaginan di China itu terus melonjak. Bahan bakunya terutama berasal dari Indonesia dan Filipina, ditambah sedikit dari Hainan. Kalau Indonesia bisa memacu produksi sampai dobel pun pada 2012, saya yakin semua terserap ke sana [China]," kata Program Manager IFC-Advisory Service, Bruce Wise, di Makassar, kemarin.
IFC mencatat produksi rumput laut Indonesia pada 2006 sekitar 110.000 ton, sudah dua kali lebih besar dibandingkan dengan 2000, saat produksi baru berkisar 50.000 ton. Sekitar 90% rumput laut itu diekspor.
Daerah sentra rumput laut di Nusantara a.l. Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Bali. Sebanyak 50% produksi negeri ini dihasilkan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Menurut Bruce, Indonesia mampu memacu produksi hingga 250.000-300.000 ton pada 2012. Syaratnya, produktivitas ditingkatkan dan lahan baru dibuka.
"Indonesia pernah meraih produksi dobel dalam waktu enam tahun dari 2000-2006. It's possible. Apalagi Filipina sekarang sudah menjadi net importer," kata Bruce.
Koordinator SEAPlant.net Dina Saragih mengungkapkan permintaan terhadap cottonii jauh melebihi produksi.