
Bali tidak hanya punya Kuta, Kintamani, Ubud, Uluwatu, Sanur, Nusa Dua, atau Tanah Lot. Masih ada Nusa Lembongan, pulau kecil dan gersang di tenggara Pulau Bali, yang menyuguhkan obyek wisata bahari yang berair sebiru batu safir, suasana kepulauan yang sunyi dan masih 'perawan' dibanding Bali yang hiruk-pikuk, dijejali banyak turis, dan banyak polesan demi kepentingan industri pariwisata.
Penduduk Nusa Lembongan mengandalkan rumput laut sebagai sumber penghidupan. Hasil pertanian lain tidak banyak memberi harapan karena pulau tersebut tandus. Hanya jagung dan singkong, dalam jumlah terbatas, yang bisa tumbuh, tidak ada cerita tentang obyek pariwisata yang menarik.
Nusa Lembongan bisa di akses dari Pelabuhan Desa Sanur di Denpasar dan Pelabuhan Tribuana di Bali Timur dengan kapal-kapal kayu. Dua jalur tersebut merupakan rute tradisional Bali-Nusa Lembongan-Nusa Ceningan untuk penduduk lokal. Kapal-kapal kayu itu dilengkapi bambu penyeimbang yang disebut kantih di kanan-kiri demi mengurangi guncangan saat menerjang ombak. Sementara pemberangkatan dari Benoa khusus untuk wisatawan dengan kapal-kapal carteran yang moderen.
Nusa Lembongan berada satu gugus dengan Nusa Penida dan Nusa Ceningan namun Nusa Penida lebih besar sementara Nusa Ceningan lebih kecil. Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan terhubung oleh jembatan gantung sepanjang 300 meter. Sepeda motor bisa melintas di jembatan itu. Secara administratif Nusa Lembongan yang memiliki luas 615 hektar itu masuk wilayah Kabupaten Klungkung, Bali.
Pulau ini memang tandus dan gersang. Dataran tertinggi di sini hanya 50 meter dari permukaan laut. Musim hujannya hanya sebentar yaitu dari Desember sampai Februari dengan intensitas curah hujan rata-rata 1000 mm per tahun. Tanaman yang tumbuh di sini hanya jagung, singkong dan kacang-kacangan, kelapa, dan mangga. Air bersih juga terbatas, penduduk harus gali sumur sampai kedalaman 60 meter untuk bisa mendapatkan air. Listrik hanya hidup malam hari.
Penduduk lokal, sekitar 5.000 orang dan terbagi dalam dua desa, umumnya mengandalkan rumput laut untuk menyambung hidup. Yang lain bekerja sebagai pegawai negeri dan pegawai hotel atau resor.
Selat sempit antara Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan merupakan lokasi penanaman rumput laut yang ideal. Air laut di kawasan itu tidak dalam dan itu memudahkan petani untuk menanam dan merawat rumput laut.
Rumput laut jenis alga merah (rhodophyta) tumbuh alami di selat itu dan hasil panennya telah diekspor ke sejumlah negara Eropa serta Jepang. Rumput laut jenis itu bisa menjadi bahan baku kertas dan bisa diolah jadi bioenergi.
"Rumput laut telah banyak membantu orang-orang di sini. Dulu, atap rumah orang-orang di sini dari alang-alang. Beberapa tahun terakhir industri pariwisata juga sudah masuk ke sini tetapi kami bisa seperti sekarang, lebih karena rumput laut," kata Jack, pemadu wisata sekaligus petani rumput laut. Jack yang punya nama asli Kadek merupakan pemuda setempat. Banyak atap rumah penduduk di pulau itu sekarang dari terbuat dari genteng.
Sebelum rumput laut menjadi tumpuan, masyarakat setempat mengandalkan jangung, singkong dan kelapa. Tetapi karena musim kering yang panjang tidak banyak yang bisa dihasilkan dari lahan tandus itu. Banyak warga yang bertransmigrasi ke daerah lain ketika itu. Berkat rumput laut, sekarang mereka tidak lagi bertransmigrasi.