Chilie dikenal sebagai jawara produsen rumput laut berkualitas prima karena memiliki sistem pembibitan yang wahid
GEBRAK (Gerakan Bersama Rakyat) penanaman rumput laut telah dicanangkan oleh pemerintah. Target produksi rumput laut pun telah ditetapkan. Tak main-main, Dirjen P2HP-DKP, Martani Huseini, dalam sebuah seminar di Jakarta mengatakan, pada 2008-2009 Indonesia ditargetkan akan menjadi negara penghasil rumput laut terbesar di dunia. Tak hanya itu, pada 2020 Indonesia mentargetkan akan menjadi negara penghasil produk olahan rumput laut terbesar di dunia. Sebagai catatan, saat ini Indonesia menjadi penghasil rumput laut jenis Gracilaria terbesar kedua setelah Chilie.
Semua kalangan berharap, pemerintah tidak sekadar mengejar target secara kuantitas saja. Kualitas rumput laut yang akan dihasilkan pun harus menjadi perhatian serius. Jika masalah ini diabaikan tentu akan berdampak pada tidak lakunya rumput laut yang dihasilkan oleh para pembudidaya di tanah air di pasar Internasional. Salah satu faktor penting yang menjadi penunjang keberhasilan target-target tersebut adalah adanya kebun bibit yang mampu menghasilkan bibit-bibit rumput laut yang berkualitas.
Sadar akan hal ini, pemerintah pun mengembangkan kebun bibit seperti yang telah dilakukan oleh Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. “Peran BBAP Situbondo adalah menyediakan bibit dengan membuat kebun bibit rumput laut Gracilaria di instalasi yang terletak di Pulokerto-Pasuruan,” ujar Slamet Subyakto, Kepala BBAP Situbondo. Lokasi tersebut dikenal dengan nama Pusat Pengembangan Bibit Rumput Laut Gracilaria. Menurutnya, bibit Gracilaria yang dikembangkan tersebut diambil dari tambak-tambak yang ada di Bekasi dan Sidoarjo. “Untuk Pasuruan khusus mengembangkan spesies Gracilaria verucosa,” Slamet menambahkan.
Selain mengembangkan kebun bibit Gracilaria di Pasuruan, BBAP Situbondo juga berencana akan mengembangkan kebun bibit di kawasan-kawasan sentra budidaya Gracilaria. Tujuannya untuk memasok bibit bagi para pembudidaya rumpu laut di kawasan tersebut. “Dan secara rutin, kebun bibit yang ada di kawasan-kawasan sentra budidaya mendapatkan pasokan dari pusat pengembangan bibit rumput laut di Pasuruan,” kata Slamet. Saat ini instalasi milik BBAP Situbondo mampu memproduksi 150 ton bibit Gracilaria dalam satu siklusnya.
Disamping Gracilaria, BBAP Situbondo juga membangun kawasan kebun bibit untuk spesies Euchema cottonii (kotoni) di Pacitan, Blitar, Rembang, Tuban, Lamongan, Situbondo dan Banyuwangi. Selain pihaknya, Slamet mengatakan, kebun bibit kotoni juga dikembangkan oleh Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok.
Bukan Kebun Bibit Ideal
Atas upaya pemerintah dengan kebun bibit rumput laut ini, Muhammad Misbakhun, Pemimpin PT Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) –produsen tepung agar di Pasuruan— punya komentar tersendiri. Menurutnya, apa yang tengah dikembangkan pemerintah saat ini belum mencerminkan sebuah kebun bibit yang ideal. “Kebun bibit itu harus jelas asal usul bibitnya! Bukan dengan mengambil bibit-bibit yang bagus dari tambak-tambak yang ada, lantas dibiakkan untuk kemudian diberikan kepada para pembudidaya.” Demikian cetus Misbakhun. Dengan kata lain, sebuah kebun bibit harus mampu menghasilkan bibit yang benar-benar baru dan berkualitas.
Lebih lanjut Misbakhun menerangkan, sebuah kebun bibit harus memiliki rumput laut turunan pertama (F1) yang biasanya dihasilkan melalui metode kultur jaringan. “Kebun bibit di luar negeri biasanya menggunakan metode kultur jaringan untuk menghasilkan bibit-bibit baru yang berkualitas.” Turunan pertama dari hasil kultur jaringan tersebut kemudian disimpan di suatu tempat. Dari F1 tersebut, akan dihasilkan rumput laut turunan keduanya (F2). “Turunan kedua itu yang nantinya akan dikembangkan di tambak untuk diperbanyak sebelum disebar kepada para pembudidaya. Atau mungkin bisa dikembangkan lagi sampai turunan ketiga (F3), dengan catatan kualitas rumput laut yang dihasilkan masih bagus,” terangnya.
Tak berhenti di situ, pengelola kebun bibit harus bisa menetapkan sampai berapa kali siklus bibit tersebut bisa dibudidayakan di tambak, tanpa kualitas dari rumput laut yang akan dipanen menurun. “Semua itu harus melalui penelitian yang intensif,” imbuh Misbakhun. Menurutnya, Chilie telah melakukan hal tersebut sejak 1970-an. Terutama untuk spesies Gracilaria sp. Sehingga tak heran, selain terkenal sebagai negara penghasil Gracilaria terbesar di dunia, Chilie juga dikenal mampu menghasilkan Gracilaria dengan kualitas prima. “Chilie sudah memiliki sistem pembibitan yang sangat baik,” ujar Misbakhun.
Misbakhun tak menampik, untuk membangun kebun bibit yang ideal dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, proses penelitian membutuhkan waktu yang panjang. Mulai dari menemukan bibit berkualitas melalui metode kultur jaringan sampai menentukan berapa kali bibit tersebut bisa digunakan di tambak. “Jadi jangan heran jika swasta jarang yang tertarik untuk mengembangkan kebun bibit yang ideal semacam ini,” imbuhnya.
Besarnya dana yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kebun bibit yang ideal juga diungkapkan oleh Soerianto Kusnowirjono, Seaweed Development & Export Director PT Agarindo Bogatama, “Membangun kebun bibit yang ideal membutuhkan dana yang tidak sedikit.” Dia juga mengakui, selain membutuhkan dana yang besar, untuk membangun sebuah kebun bibit juga diperlukan keahlian khusus, karena dibutuhkan riset yang mendalam mengenai bibit rumput laut yang akan dikembangkan. “Sebaiknya ini dilakukan oleh pemerintah, karena swasta agak sulit untuk terjun ke sana,” usul Soerianto.