
Sebagai bahan pangan, rumput laut dikenal mulai dari 300-6000 SM khususnya di China, Korea dan Jepang. Awal abad ke-4, penggunaan rumput laut secara komersial dimulai, dimana varietas coklat dan merah lebih banyak digunakan daripada hijau. Jenis-jenis yang popular di dunia dan mempunyai nilai komersial tinggi adalah: NORI (Porphyra, rumput laut merah) yang dianggap sebagai “makanan kaisar” ; WAKAME (Undaria, rumput laut coklat); dan HIZIKI (hizikia). Contoh pengolahan varietas rumput laut coklat adalah:
Laminaria dikeringkan,
Undaria pinnatifada diasinkan sebagai camilan dan bahan soup serta
Hizikia fusifome yang dikeringkan dan direbus. China, Korea dan Jepang merupakan konsumen dan industri rumput laut terbesar di dunia dengan kebutuhan 6 juta ton / tahun rumput laut basah dengan nilai sekitar US$ 5 milyar.
PORPHYRA sebagai bahan utama NORI mempunyai kandungan protein yang dapat dikonsumsi yang tinggi. NORI dijual dalam paket lembaran tipis sckitar 30 gram dengan ukuran 10-12 cm2, uncooked atau lightly baked dan digunakan untuk membungkus sushi. Bentuk lain dari NORI adalah cooked, salsed dimakan sebagai snack atau ditabur diatas nasi atau mie. Produksi dunia NORI tahunan mencapai sekitar 90.000 ton kering dengan nilai lebih dari US$ 1,46 milyar. Pasar Amerika Serikat untuk jenis ini tumbuh pesat, dimana pada tahun 1990 dengan nilai sekitar US$ 25 juta, dan terus tumbuh sekitar 12-15 % hingga tahun 2000an. Jepang memproduksi Phorpyra sekitar 600 ton /tahun, dimana sekitar 75 % nya diolah menjadi produk bernilai tinggi - NORI. Harga NORI sekitar US$ 16.000 dollar / ton.
LAMINARIA mulai dibudidayakan di Jepang sekitar tahun 1950-an. Beberapa waktu yang lalu ilmuwan China berhasil mengurangi masa tanam dari 2 tahun menjadi 1 tahun. Saat ini produksi di China sudah jauh melebihi 1,5 juta ton basah dimana sebagian besarnya digunakan sebagai bahan KOMBU dan ALGINAT. Budidaya besar-besaran jenis ini terjadi di Jepang, China dan Korea dimana produksi kering mencapai sekitar 1 juta ton dengan nilai US$ 3 milyar. China merupakan produsen edible seaweeds terbesar dengan jenis utamanya
L. Japonica dengan produksi sekitar 5 juta ton per tahun yang mayoritasnya digunakan sebagai bahan K0MBU. Harga KOMBU sekitar US$ 2800/ ton.
UNDARIA sangat popular di Korea. Bentuknya lebih tipis dan lebih Iezat dibandingkan dengan KOMBU. Undaria dijual dalam bentuk salted products disimpan pada suhu 10 derajat Celcius. Total produksi dunia sekitar 33.000 ton kering dengan nilai US$ 230 juta. Sebagai negara yang terkenal dengan fesyien dan kulinernya, Perancis mulai memperkenalkan edible seaweed jenis ini ke pasar Eropa. Sementara itu, KOREA Selatan mengembangkan jenis
Undaria pinnatifada dengan produksi sekitar 800 ribu ton / tahun dimana lebih dari separuhnya diolah menjadi WAKAME. Harga Wakame sekitar US$ 6900 / ton.
Sekilas perdagangan internasional rumput laut yang dapat dimakan diwarnai dengan permintaan yang terus meningkat selama 50 tahun terakhir. Kebutuhan tersebut tidak dapat sepenuhnya dipenuhi dari stock alam dan sekarang sekitar 90 % nya berhasil dipasok dari hasil budidaya. Industri ekstrasi rumput laut terus berkembang setelah Perang Dunia II, sehingga mulai terjadi kekurangan bahan baku dari alam dan mendorong industri budidaya berkembang pesat. Ekstraksi rumput laut menghasilkan 3 jenis hydrocolloids, senyawa pengental dan pembentuk jelly yaitu: alginat, agar-agar dan karaginan. Dengan hitungan kasar, 1 juta ton rumput laut basah yang diekstrak dapat menghasilkan hydrocolloids sebesar 55.000 ton dengan nilai US$ 585 juta. Raksasa industri hydrocolloids berada di Denmark dan Amerika Serikat.
ALGINAT mulai diproduksi secara komersial sejak tahun 1930. Umumnya diekstrak dari rumput laut coklat yang budidayanya berkembang pesat, dimana harganya mulai mahal karena untuk memenuhi kebutuhan industri. Nilai produksi tahunan alginat sekitar US$ 213 juta. Penggunaan alginat adalah sangat luas mulai dari industri briket batubara, kosmetik keramik, keju, es krim, pasta gigi, cat, ban, semir dan kertas. Tak tertutup kemungkinan dimasa mendatang penggunaan produk turunan dari rumput laut ini semakin meluas lagi.
AGAR-AGAR di temukan pada tahun 1658 di Jepang dari hasil ekstraksi algae merah dengan air panas. Saat ini produksi agar-agar sebagian besar menggunakan rumput laut hasil budidaya. Kebutuhan agar-agar dunia sekitar 10.000 ton, tahun dengan konsumen utama: Jepang (2000 ton/ tahun), Amerika Serikat (1000 ton / tahun, dimana 80 % nya berasal dari impor), Jerman dan kali (masing-masing 210 - 400 ton/ ton). Negara Asia lainnya yang banyak menggunakan agar-agar adalah Thailand, Singapura dan Malaysia.
KARAGINAN telah dikenal sejak abad 19 dan semula dikembangkan dari rumput laut merah kecil Irish Moss yang biasa tumbuh di perairan dingin. Industri karaginan berkembang pesat dengan ditemukannya berbagai jenis rumput laut lain yang mengandung karaginan tinggi dan dapat dibudidayakan di perairan tropis dengan biaya relatif murah. Volume pasar sekitar 15.000-20.000 ton / tahun dengan penyebaran Eropa (35 %), Asia Pasifik (25 %), Amerika Utara (25 %) dan Amerika Selatan (15 %). Penggunaan karaginan mayoritas untuk industri makanan dan kosmetika.
Rumput laut dapat juga digunakan sebagai bahan pakan yang mempunyai khasiat sangat baik untuk menyehatkan dan meningkatkan reproduksi ternak. Tahun 1960 Norwegia telah mempelopori industri bahan additive pakan yang dibuat dari tepung rumput laut coklat kering. Sekitar 50.000 ton rumput laut basah menghasilkan 10.000 ton bahan pakan dengan nilai US$ 5 juta.
Bagaimana dengan Indonesia?
Ekspor mayoritas masih dalam bentuk kering matahari dari jenis Gracillarta spp. Euchema cotonii dan E. Spinosum dengan tujuan China, Hong Kong, Spanyol, Jepang dan Philippina. Nilai ekspor rumput laut berkontribusi sekitar 1 % dari total ekspor hasil perikanan.
Rumput laut dapat dikembangkan dengan cepat secara massal dengan biaya relatil murah pada lingkungan yang sesuai. Indonesia mempunyai perairan yang sangat luas dan mendukung untuk rumput laut, oleh karenanya rumput laut saat ini menjadi salah satu program revitalisasi Perikanan Budidaya. Species yang dikembangkan antara lain
Gracillaria spp (agarofit, penghasil agar-agar) dan
Euchema spp (karaginofit, penghasil karaginan). Titik-titik kritis pada pengembangan industri rumput laut diantaranya: ketersediaan bibit bermutu. pengetahuan dan ketrampilan para pembudidaya untuk menghasilkan produk prima guna meningkatkan posisi tawar kepada para pedagang pengumpul, serta masih rendahnya kesesuaian (link and match) antara industri pengolah dengan para pembudidaya.
Jenis-jenis rumput laut lain yang berada di perairan Indonesia diantaranya dari kelompok rumput laut coklat yaitu
Laminaria, Dyctyota apiculata, Hydroclathrus clathrus, Padina australis, Sargassum aqulifolium, Sargassum polycystum, Sargassum siliquossum, Turbinaria ornata dan
Turbinaria conoides.