
Bioetanol yang dihasilkan dari rumput laut ditanam di perairan Bangka dan Belitung, sekaligus untuk memperbaiki kerusakan biota laut akibat aktivitas penambangan timah apung.
Ketua Yayasan Babel Hijau, Syahidil, di Pangkalpinang, mengatakan, penanaman itu merupakan hasil kerja sama antara Yayasan Green Babel dengan dua pengusaha dari Korea Mr. Chun Ho dan Kim Wen.
Bioetanol digunakan untuk bahan baku BBM. Rumput laut yang menghasilkan bioetanol itu dikenal ramah lingkungan dan berperan dalam mendorong meningkatnya populasi ikan.
Ketertarikan pengusaha Korea tidak terlepas dari tanggung jawabnya menggunakan balok timah untuk keperluan industri mereka.
"Mereka ikut tergerak untuk memperbaiki kondisi lingkungan di Bangka dan Belitung melalui penanaman rumput laut," ujarnya.
Areal penanaman rumput laut nantinya mencapai ribuan hektare. Tahap awal yayasan telah menginformasikan lokasi-lokasi yang memungkinkan dilakukan penanaman dan tim dari Korsel selanjutnya menilai kelayakan lokasi yang ditunjuk.
Syahidil menegaskan, jenis rumput laut yang ditanam adalah khusus untuk keperluan bioetanol dan berbeda dengan rumput laut untuk makanan dan kosmetik.
Yayasan nantinya akan bekerja sama dengan swasta untuk mengolah rumput laut menjadi energi yang dibutuhkan untuk keperluan bahan bakar.
Investasi rumput laut berasal dari pengusaha Korea sebagai bentuk kepedulian atas rusaknya lingkungan akibat aktivitas penambangan timah.