Rumput Laut ‘Targetkan Nomor 1 Di Dunia Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja’
Jumat, 25 Apr 2008 - Sumber: rafflesia.wwf.or.id - Terbaca 5865 x - Baca: 04 May 2026
"Budidaya rumput laut harus terus dikembangkan dan ditingkatkan produksinya agar bisa memberdayakan dan mengentaskan masyarakat miskin di pesisir pantai." (Freddy Numberi)
Sebagai negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia seharusnya menjadi produsen terbesar rumput laut di dunia, yang saat ini masih dipegang oleh Chili. Guna meraih gelar tersebut, Pemerintah lewat Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menargetkan 1,5 juta hektar perluasan lahan budidaya rumput laut.
RUMPUT laut sebagai komoditas ekspor seharusnya bisa menjadi alternatif dalam upaya pengentasan kantong-kantong kemiskinan yang selama ini banyak terdapat di daerah pesisir pantai. Daerah-daerah miskin itu, ternyata sangat cocok untuk pembudidayaan rumput laut.
"Di kantong-kantong kemiskinan itu umumnya penghasilan pertanian atau perkebunannya rendah, namun ternyata daerah seperti itu sangat cocok untuk budidaya rumput laut," kata Made L Nurjana, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, DKP. Menurut Made, budidaya rumput laut ini sangat mudah dan berteknologi sedehana. Sehingga para petani tidak akan sulit mengembangkan jenis tanaman ini. Apalagi, pangsa pasar dan kegunaan rumput laut ini makin besar.
"Salah satu kegunaan rumput laut, adalah sebagai bahan perekat pesawat terbang. Jadi tanaman ini sudah dibutuhkan oleh industri strategis di dunia. Padahal budidayanya cukup ditanam di laut tanpa perlu pakan dari pembudidaya," ungkap Made.
Meski cara budidayanya mudah, laja perkembangan budidaya rumput laut ini lamban. Pasalnya, kata Made, modal usaha dari perbankan masih seret. Perbankan lebih senang rnengucurkan kredit ke perusahaan kakap ketimbang para U K M .
Dua Rumput Laut Seharga Berlian
Ada dua kelompok rumput laut yang telah menjadi komoditas budidaya bernilai ekonomi, yaitu Gracilaria sp. dan Eucheuma sp. Kedua rumpun ini telah berhasil dibudidayakan dan telah diperdagangkan secara luas karena dibutuhkan dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri. Indonesia dengan pantai yang dimilikinya, juga membidik dua rumpun rumput laut tersebut.
Kelompok agrofit (gracilaria) hasil akhirnya berupa agar-agar (tepung, batang dan lembaran agar), sedangkan kelompok karaginoff hasil olahannya berupa tepung karaginan. Kedua kelompok tersebut memiliki karakteristik yang berbeda secara biologis maupun bisnis, sehingga membutuhkan strategi pengembangan yang berbeda.
Kelompok pertama memiliki nilai jual yang relatif rendah, karena kebutuhan dunia industri terhadap hasil ekstraknya lebih terbatas, hanya sebagai pakan organisme herbivore, seperti abalone dan ikan baronang.
Meski demikian, usaha budidaya jenis ini dapat dilakukan di air tambak yang genangannya stagnan, relatif keruh, salinitas dan suhu air berfluktuasi besar, sehingga dapat diintergrasikan dengan udang dan bandeng. Kelompok kedua memiliki nilai jual yang lebih tinggi namun membutuhkan lokasi yang spesifik dengan persyaratan ketat, yaitu perairan pantai yang jernih, suhu dan salinitas stabil, ada gerakan air yang cukup kuat, dan dibudidayakan di perairan pantai dan laut yang membutuhkan sarana transport laut.
2009, Produsen Terbesar
Di Dunia Guna meningkatkan kontribusi rumput laut terhadap pembangunan nasional, maka selama periode 2006-2009 ditetapkan sasaran pengembangan areal seluas 10.500 Ha jenis Gracilaria sp. dan 1.500.000 Ha jenis Eucheuma sp. Program pengembangan dari kedua kelompok tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi peningkatan produksi sebesar 400.000 ton gracilaria sp. dan 1.500.000 ton Euchema sp.
Sampai saat ini negara dengan produksi Gracilaria sp. tertinggi adalah Chili, sedangkan produsen terbesar di dunia untuk Eucheuma sp adalah Philipina. Jika program ini terlaksana maka pada tahun 2009 Indonesia menjadi producen terbesar di dunia, baik untuk Gracilaria sp. maupun untuk Eucheuma sp.
Untuk mencapai sasaran tersebut perlu upaya yang tepat didasarkan atas karakteristik biologis dan bisnis serta sebaran areal potensi. Strategi yang ditetapkan adalah :
pengembangan secara bertahap di daerah yang potensial
penyediaan bibit yang cukup dan berkualitas melalui pengembangan kebun bibit
pembinaan yang intensif dan
pendekatan sistem agribisnis.
Upaya lain untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut ini, ditentukan juga oleh area pembibitan. Musim optimal untuk hidup dan pertumbuhan rumput laut tidak sepanjang tahun. Akibat gangguan penyakit dan kondisi alam yang menyulitkan untuk bekerja, seringkali kegiatan budidaya terpaksa dihentikan.
Pada awal musim tanam biasanya bibit harus disediakan dari lokasi lain. Kemampuan menyediakan bibit di awal musim tanam ini menentukan tingkat produksi, sehingga setiap lokasi pengembangan perlu dilengkapi dengan kebun bibit yang dikelola secara khusus.
Sasaran total area pengembangan kebun bibit rumput laut
align="center">Jenis Rumput Laut
align="center">2006
align="center">2007
align="center">2008
align="center">2009
Gracilaria sp.
590 Ha
707 Ha
848 Ha
1.000 Ha
Eucheuma sp.
884 Ha
1.060 Ha
1.237 Ha
1.500 Ha
Makin Untung Dengan Sistem Aquabisnis
Produk rumput laut Indonesia hingga saat ini sebagian besar masih diperdagangkan dalam bentuk bahan baku kering matahari. Pangsa pasar sebagian besar masih mengandalkan pasar ekspor dengan pelabuan ekspor yang masih terbatas.
Sentra produksi yang terbesar memerlukan rantai transportasi yang panjang. Untuk mengoptimalkan besaran manfaat yang diperoleh masyarakat pembudidaya, maka seluruh segmen usaha harus dapat diintegrasikan. Untuk menjawab berbagai persoalan, yang dihadapi akibat rantai panjang tersebut, maka pola pengembangan terbaik adalah melalui pendekatan agribisnis.
Pola aquabisnis rumput laut adalah pola pengembangan melalui pendekatan kawasan dengan kegiatan hulu hilir yang terintegrasi. Pola ini dijalankan melalui bisnis kemitraan antara pembudidaya dengan mitra pabrikan atau eksportir dengan prinsip saling memahami, membutuhkan, saling menguatkan dan menguntungkan.
Entaskan Keluarga Miskin Di Pesisir
Penyerapan rumput laut Gracilaria sp. di tambak jika dikaitkan dengan upaya perbaikan mutu air untuk pengembangan usaha udang pila sederhana atau polikultur dengan bandeng, maka dalam 1 Ha tambak yang dikelola oleh 1 keluarga, bisa mempekerjakan 3 anggota keluarga. Dengan demikian, para keluarga miskin di daerah pesisir bisa diberdayakan dan menjadi produktif. Menurut Made, tinggal persoalannya, bagaimana memberikan modal awal kepada mereka agar bisa memulai berbudidaya.
"Satu hektar lahan, biasanya membutuhkan biaya sebesar Rp 6 hingga 7 juta. Nah dari modal itu, keuntungan bersih pada pembudidaya sekitar Rp 1,5 juta. Dengan hasil itu seharusnya perbankan bisa lebih berani lagi memberikan kredit lunak kepada mereka," tandasnya.
Sementara, pengembangan rumput laut Euchema sp. 1 Ha terdiri dari 5 unit usaha. Setiap satu unit usaha membutuhkan tenaga kerja 5 orang sehingga 1 Ha lahan membutuhkan tenaga verja sebanyak 15 orang. Menurut laporan dari DKP, penyerapan tenaga kerja di sektor ini terus meningkat. Pada tahun 2005, untuk jenis Eucheuma sp., mencapai 110.490 orang, 2006 mencapai 132.630 orang. Sementara untuk jenis gracilaria tahun 2005 menyerap 14.733 orang, tahun 2006 menyerap 17.685 orang tenaga
kerja.
Alih Teknologi Lewat Pilot Projek
Ketersediaan lokasi untuk budidaya rumput laut, secara umum belum tereksploitasi secara optimal. Sehingga potensi pengembangan belum dapat dipastikan. Indikasi-indikasi visual dan pengukuran parameter biofisik belum dapat dijadikan jaminan suatu areal secara spatio temporal dapat ajau tidak sebagai budidaya rumput laut. Untuk itu, penelusuran dengan cara ujicoba terus dilakukan. Ujicoba ini melingkupi, (1) seleksi
bibit unggul adaptif; (2) penerapan teknik kultur yang tepat guna; (3) prediksi terhadap musim-musim tanam dengan kondisi optimum. Untuk mengefektifkan langkah-langkah dalam upaya pengembangan, maka pada setiap kawasan diperlukan pilot projek.
Pilot projek adalah sarana sosialisasi dan alih teknologi dalam rangka percepatan upaya penumbuhan kesadaran dan minat. Untuk lebih mengefektifkan sasaran pilot projek maka dalam pelaksanaannya, harus dilakukan pada lokasi yang tepat, daya dukung lingkungan yang maksimal, lokasi strategis, berada di tengah-tengah areal pengembangan masyarakat, melibatkan kelompok secara aktif dan pendekatan secara komprehenship.