Untitled Document
Senin , 04 Mei 2026 | L O G I N |    
  home kami produk jasa berita infoharga komunitas galery transaksi  
Untitled Document
   
M e d i a  
Berita
Litbang
Publikasi
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Port Data
 
   
 
 
 
Berita / Litbang
 
 
 
Jangan Abaikan Mutu Rumput Laut
Kamis, 17 Apr 2008 - Sumber: www.rumputlaut.org - Terbaca 5578 x - Baca: 04 May 2026
 
Jannes Eudes Wawa



Tiga tahun terakhir, seolah menjadi era kebangkitan rumput laut. Di mana-mana antusiasme masyarakat untuk membudidayakan komoditas itu sungguh luar biasa. Gairah tersebut bukan tanpa dasar. Maklum, rumput laut hanya memerlukan waktu 45 hari untuk layak dipanen dengan didukung biaya produksi yang sangat murah dan teknologi yang rendah. Harganya pun menggiurkan, berkisar Rp 5.000 - Rp 7.500 per kilogram.


Salah satu contoh di sepanjang pesisir pantai dari Takalar hingga Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan, nyaris tidak ditemukan lagi lokasi penjemuran ikan. Kawasan pantai itu telah berubah menjadi tempat penjemuran rumput laut. Demikian juga di pesisir selatan Pulau Bali yang bukan termasuk daerah wisata, dulu cenderung dibiarkan merana. Kini, wilayah tersebut telah berubah menjadi ”ladang” rumput laut.


Bahkan, di Bali yang pada lima tahun lalu usaha budidaya rumput laut hanya pada kawasan sekitar belasan hektar, kini meningkat tajam menjadi sekitar 350 hektar. Luar biasanya lagi, sejumlah masyarakat yang dulu tergolong sangat miskin, setelah menekuni budidaya rumput laut status mereka terdongkrak menjadi kelompok sejahtera. Potensi di Pulau Dewata itu mencapai 1.500 hektar.


Jika tahun 1999, volume produksi nasional hanya 157.232 ton, pada tahun 2003 menjadi 285.653 ton atau naik 17,26 persen. Sementara itu, volume ekspor tahun 1999 hanya 25.084 ton atau senilai 16,284 juta dollar AS, tahun 2003 menjadi 40.162 ton atau 20,511 juta dollar AS. Namun, kenyataan di Sulawesi Selatan dan Bali sungguh kontras dengan yang terjadi pada daerah lain di Kawasan Timur Indonesia. Di Flores, Maluku, dan daerah sekitarnya, gairah warga setempat yang dulu begitu tinggi membudidayakan rumput laut kini merosot lagi.


Persoalannya, pertama, usaha budidaya tersebut tidak didukung dengan pemasaran yang terpadu. Setiap hari, mereka selalu berhadapan dengan tengkulak yang cenderung menekan harga dengan dalil biaya pengangkutan kapal yang mahal dari Flores ke Surabaya. Hal itu terjadi karena industri pengolahan, baik setengah jadi dan jadi hanya beroperasi di Pulau Jawa. Akibatnya, harga rumput laut kering berkualitas terbaik di tingkat pembudidaya di Flores, Maluku dan sekitarnya masih rendah. Kedua, kurangnya penyediaan bibit rumput laut yang berkualitas. Padahal, setiap bibit hanya boleh dipakai paling banyak empat kali musim tanam secara berturut-turut. Setelah itu harus diganti dengan bibit baru. Langkah tersebut adalah bagian dari upaya menjaga stabilitas mutu produksi. Artinya, pengalokasian dana untuk usaha perikanan seharusnya didasarkan potensi yang dimiliki daerah itu. Semakin banyak potensi, makin besar pula dana yang dialokasikan. Ketiga, tidak adanya tenaga penyuluh yang khusus menangani rumput laut. Lalu, keempat, belum adanya tata ruang yang membagi lokasi untuk usaha pembudidayaan.


Dari keempat masalah itu, pemasaran menjadi persoalan paling serius. Di sini tugas pemerintah mendorong pendirian industri pengolahan rumput laut di sekitar lokasi produksi. Manfaat yang bisa dipetik, antara lain memutuskan mata rantai tengkulak dan meningkatkan harga di tingkat pembudidaya. Bahkan, pembudidaya takkan lagi dibebankan biaya transportasi. ”Lebih penting lagi, pembudidaya akan mengetahui secara transparan kualitas rumput laut seperti apa yang diinginkan industri,” kata Mozes Kuremas, rohaniwan yang menjadi penggiat usaha budidaya di Flores.


Mozes juga menilai kehadiran industri pengolahan di luar Pulau Jawa merupakan bagian dari pemerataan dan keadilan pembangunan nasional. Minimnya investasi swasta di daerah, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) telah membuat pencari kerja yang mencapai ratusan ribu orang itu menggantungkan masa depan sepenuhnya pada sektor pegawai negeri sipil (PNS). Padahal, jumlah PNS yang diangkat setiap tahun sangat sedikit. Ketimpangan itu di satu sisi mengakibatkan jumlah pengangguran terus meningkat. Pada sisi lain berpeluang menimbulkan masalah sosial yang kompleks dan rumit.


Filipina Lebih Unggul


Harus diakui potensi budidaya rumput laut di Indonesia sungguh sangat besar, yakni sekitar 2 juta hektar dengan potensi produksi mencapai 46,73 juta ton per tahun. Namun, kini baru dimanfaatkan sekitar 350.000 hektar. Seiring dengan kesadaran untuk memberdayakan potensi tersebut mulai tumbuh dan berkembang di seluruh daerah, volume produksi rumput laut pun bakal meningkat tajam. Bahkan, bukan tak mungkin Indonesia bakal muncul sebagai produsen rumput laut terbanyak di dunia.


Akan tetapi, apakah cukup dengan menyandang predikat tersebut? Rasanya terlalu prematur, sebab pertanyaan yang muncul berikutnya adalah apakah kualitasnya pun termasuk yang terbaik di dunia? Sadar atau tidak, saat ini kualitas rumput laut Indonesia tergolong yang paling rendah. Filipina termasuk memiliki rumput laut berkualitas tinggi. Di sana, komoditas itu telah memiliki kekuatan gel mencapai 750 gram per sentimeter persegi. Adapun di Indonesia hanya 550 gram per sentimeter persegi. Namun, itu pun belum tercapai. Yang ada baru berkisar 200 gram-235 gram per sentimeter persegi. ”Artinya, mutu rumput laut di Indonesia masih sangat rendah.


Penyebab utama adalah tidak ada standardisasi mutu sehingga semua pembudidaya dan pembeli semaunya memanen dan membeli tanpa memedulikan kualitas produk. Apalagi, bentuk rumput laut yang berusia 30 hari dan 45 hari nyaris tak berbeda,” kata Direktur Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Hari Eko Arianto. Misalnya, di Madura, Jawa Timur. Banyak pembudidaya yang setelah memanen, rumput laut itu direndamkan lagi ke dalam air laut selama semalam, baru dikeringkan. Tujuannya, meningkatkan berat komoditas tersebut. Jika rumput laut yang langsung dikeringkan biasanya dari setiap delapan kilogram basah dihasilkan sekilogram kering. Sebaliknya, kalau direndam lagi dengan air laut, maka empat kilogram basah mampu menghasilkan satu kilogram kering, sebab kadar garam meningkat. Cara kerja seperti itu menguntungkan pembudidaya, tetapi sangat merugikan industri pengolahan. Alasannya, setelah diolah yang dominan adalah kadar garam bukan rumput laut. ”Itu sebabnya banyak industri pengolahan selalu menolak membeli rumput laut yang berasal dari Madura,” jelas Singgih Widodo, ahli rumput laut lainnya.


Seiring maraknya usaha budidaya rumput laut di Indonesia harus segera diikuti dengan penetapan standardisasi mutu produk. Langkah itu penting, sebab dalam banyak kasus para pembudidaya memanen komoditas tersebut pada usia 30 hari. Padahal, seharusnya pada usia 45 hari baru boleh dipanen. Akibatnya, kualitas rumput laut dan produk ikutan lain selalu rendah dan tidak laku dijual di pasar domestik dan internacional.


Setelah diselidiki, kesalahan bukan hanya dilakukan pembudidaya, tetapi juga pembeli. Bahkan, kadang pembeli yang mewajibkan pembudidaya merendamkan rumput laut ke dalam air laut sebelum dikeringkan. Praktik buruk tersebut dilakukan guna memenuhi kuota penjualan kepada perusahaan pengolahan, baik di dalam maupun di luar negeri. Penampung biasanya sudah memberi jaminan kepada industri pengolahan guna menyuplai bahan baku rumput laut sekian ton per bulan.


”Untuk memenuhi kuota segala cara dipakai, termasuk memaksa pembudidaya merendamkan rumput laut ke dalam air laut setelah dipanen,” tambah Th Dwi Suryaningrum, ahli rumput laut dari Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. ”Jika praktik seperti ini dibiarkan terus, otomatis dijadikan senjata bagi pesaing Indonesia guna melakukan kampanye negatif di pasar dunia. Kerugian Indonesia pasti lebih besar lagi, sebab rumput laut bakal tak berharga. Karena itu, harus segera dicegah sedini mungkin.
 
 
 
More Berita
 
1 . Pelatihan Integrated Ulva spp. Value Chain Training
  Selasa, 28 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 56 x
2 . DPR Dukung Rumput Laut dan Singkong Jadi Pengganti Plastik Impor
  Senin, 20 Apr 2026-https://www.babelinsight.id/ - Terbaca 65 x
3 . Pengiriman Ulva sebagai Bahan Baku Industri Terus Meningkat
  Jumat, 10 Apr 2026-Irna Aswanti Ibrahim - Terbaca 93 x
4 . Tren Akuakultur Semakin Menjauh dari Target Iklim, Rumput Laut Ditinggalkan
  Selasa, 07 Apr 2026-https://www.suara.com/ - Terbaca 107 x
5 . KM Logistik Nusantara 5 Tambah Kapasitas untuk Dukung Pengiriman Rumput Laut
  Selasa, 31 Mar 2026-https://radartarakan.jawapos.com/ - Terbaca 117 x
6 . Kunjungan KKP ke Jasuda, Olahan Rumput Laut Sulsel Siap Naik Level
  Jumat, 27 Mar 2026-Dian Maya Sari - Terbaca 138 x
7 . Potensi Rumput Laut sebagai Sumber Energi Terbarukan
  Rabu, 25 Mar 2026-https://bahasa.newsbytesapp.com/ - Terbaca 155 x
 
 
 
More Litbang
 
1 . Pengembangan Pewangi Ruangan Ramah Lingkungan Berbasis Ekstrak Rumput Laut dan Kulit Jeruk
  Selasa, 07 Apr 2026 - https://www.formosa.news/ - Terbaca 97 x
2 . Inovasi Hijau dari Laut: Rumput Laut Lokal Berpotensi Jadi Sumber Antioksidan dan Antibakteri Alami
  Selasa, 31 Mar 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 116 x
3 . BRIN Gali Potensi Rumput Laut dalam Pengembangan Obat Modern
  Jumat, 27 Mar 2026 - https://brin.go.id/ - Terbaca 147 x
4 . Peneliti UNDIP Kembangkan Teknologi Inovasi Pengering Rumput Laut
  Rabu, 25 Mar 2026 - https://kemdiktisaintek.go.id/ - Terbaca 151 x
5 . Cara Membuat Karagenan Rumput Laut yang Praktis
  Senin, 09 Mar 2026 - https://jualmesinrumputlaut.wordpress.com/ - Terbaca 248 x
6 . Manfaat Jelly Berbahan Rumput Laut untuk Berbuka, Dukung Asupan Serat Selama Ramadan
  Senin, 02 Mar 2026 - https://lifestyle.bisnis.com/ - Terbaca 231 x
7 . “Rumput Laut + Magnet + Biomassa E. coli” untuk Menangkap Tetrasiklin dari Air
  Senin, 23 Feb 2026 - https://unair.ac.id/ - Terbaca 236 x
 
 
Untitled Document
https://dpmn.pasamanbaratkab.go.id/ https://said.bondowosokab.go.id/ https://lejuk.belitung.go.id/ https://dinkes.sijunjung.go.id/ https://prancis.fkip.unila.ac.id/ https://dokar.dishub.grobogan.go.id/ https://tengah.magelangkota.go.id/ https://bpm.univpgri-palembang.ac.id/ https://dukcapil.sumbatimurkab.go.id/ https://laikateks.fmipa.uho.ac.id/ https://dpmd.hulusungaiselatankab.go.id/ berita hari ini produk kecantikan Belajar di Rumah Jadi Lebih Produktif Tips & Saran Ampuh Agar Nggak Cepat Bosan Peluang Bisnis UMKM Terbaru 2025 rahasia wanita mastering slot machine poker online manfaat obat kuat slot games https://ffnagajp1131.org/
http://acr.ffvelo.fr/ http://ecbc.ffvelo.fr/
SLOT GACOR # Link Login Situs Game Online Resmi & Gampang Maxwin Hari Ini BOS01 : Agen Slot Gacor Maxwin Hari Ini Provider Hits Slot88 Dan Slot777 Online 2025 BOS911 : Situs Slot Gacor Terbaru & Link Login Slot88 Resmi 2025 Bos01 Bos01 Bos911 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos01 Bos911 Bos01 Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01 Bos01 Lumbung4d Bos01
Team JaSuDa
Kerjasama Kami
Mitra Kami
Cara Pesan Produk
Berita | Litbang
Terminal JaSuDa
Amarta Project
Info Harga RL
Galeri Photo
Statistik Website
Visitors 1,641,871 Kali
Member JaSuDa 10,757 Org
Buku Promosi 809 lihat
Konsultasi Online 2764 lihat
Jl Politeknik 14 Pintu Nol Unhas Tamalanrea Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
PT. JARINGAN SUMBER DAYA (JaSuDa.nET)
All Rights Reserved. Created 2005, Revised 2022. Hosted IDW
Asosiasi dengan SiPlanet Foundation dan Afiliasi dengan Posko UKM JaSuDa
Developed by Irsyadi Siradjuddin