
Kabupaten Badung memiliki sentra-sentra pertanian rumput laut yang tersebar di sejumlah wilayah. Jika ditotal, potensi lahannya mencapai 125 hektar. Dari jumlah tersebut yang telah dimanfaatkan sekitar 105 hektar. Dengan luas lahan tersebut Badung menghasilkan rumput laut kering yang siap diolah sekitar 41.538,62 ton pada tahun 2007 lalu, atau dengan nilai nominal sekitar hampir Rp 25 milyar.
Sisa lahan potensial sebanyak 20 hektar lagi, pengembangannya masih terbentur sejumlah kendala. Kendala itu di antaranya keadaan geografis pantai yang sulit dijangkau. Wilayah perbukitan di sekitar pantai masih menjadi penghalang upaya pengembangan.
Kendala lain justru terjadi karena ulah manusia. Alih fungsi lahan untuk sektor pariwisata, memiliki andil cukup besar. Kebutuhan akan view bagi hotel ataupun vila memaksa petani bergeser dari lahan pertaniannya. Lahan pertanian dicaplok pagar dan bangunan pihak investor. Petani tidak berdaya ketika hal itu berlangsung. Dan, ini terjadi terutama di wilayah Kuta Selatan.
Lantas ini salah siapa? Bukan salah petani atau investor, tetapi semestinya pemerintah sebagai pemegang kebijakan punya andil sangat besar untuk ini. Di mana pemerintah seharusnya bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi petani untuk mengembangkan usahanya.
Di Sawangan, misalnya, gara-gara ada pembangunan vila sekitar tahun 2004 lalu, petani setempat tergusur. Pihak pengembang yang telah mengantongi izin tidak mau pantai ''dikotori'' lahan rumput laut. Lantas petani digeser dan ditata ulang. Lahan pertanian rumput laut yang dulunya seluas 40 hektar terpaksa disusutkan. Menjadi hanya sekitar 20 hektar.
Lahan tersebut dikelola untuk 100 orang anggota kelompok tani yang sekarang bernama Artha Segara Murti. Padahal, sebelum adanya penggusuran lahan, jumlah petani yang menggantungkan hidupnya berjumlah 252 orang. Cukup ironis nasib petani, padahal jika ditanya kualitas, baik petani maupun pemerintah setempat berani berbangga hati. Apalagi di daerah pantai Sawangan dan Geger yang punya predikat terbaik di Badung.
Kualitas rumput laut Badung jauh lebih baik dibandingkan rumput laut di daerah Nusa Penida yang notabene punya kuantitas produksi lebih besar ketimbang Badung. Apa indikator hal tersebut? Tidak lain harga jual rumput laut kering di tingkat petani Badung yang jauh lebih tinggi yakni Rp 7.000 per kilogram.
Wayan Rembeng dan rekannya, petani rumput laut di daerah tersebut menuturkan, saat ini hasil panen yang mereka dapatkan mengalami sedikit penurunan. Jika sebelumnya panen ditotal selama tiga bulan mereka bisa dapat 700 kg tiap tiga bulan, sekarang panen berkisar satu kampil per bulan (satu hingga dua kuintal). Saat panen, para pengepul akan datang mencari mereka. Di mana hasil panen ini nantinya dibawa terutama ke Surabaya.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Badung Putu Oka Swadiana didampingi Humas I Wayan Netra dan staf Statistik dan Perencanaan Ketut Agus Sujana menyebutkan, saat ini terdapat 12 kelompok tani rumput laut di wilayah Badung. Tersebar di wilayah Kutuh sebanyak 5 kelompok, Sawangan (1), Ungasan (2), Pecatu (3) dan satu kelompok di Geger.
Tujuh ribu ton rumput laut khususnya jenis Eucheuma Cottonii berhasil diproduksi kelompok nelayan di wilayah Badung tiap bulannya. Sementara untuk total produksi mencapai 41.538,62 ton pada tahun 2007. Jumlah tersebut masih kalah dengan produksi pada tahun 2006 yang mencapai 54.060,22 ton.
Penurunan kuantitas produksi itu banyak dikatakan akibat kualitas bibit yang ada sekarang telah menurun. Diperkirakan, faktor genetik yang diturunkan termasuk kondisi alam saat ini banyak berandil besar.
''Bibit sekarang kualitasnya sudah tidak bagus lagi. Perlu semacam peremajaan dengan mengganti yang baru. Faktor pemanasan global, juga ikut andil terutama dalam peranannya merangsang pertumbuhan gulma di sekitar tanaman rumput laut,'' kata Netra.
Untuk itulah, saat ini Pemkab Badung khususnya Diskanlut tengah mengupayakan pengadaan bibit yang didrop dari Filipina sebanyak 20 ton untuk membantu petani, terutama yang tergabung di dua belas kelompok tani yang ada di wilayah Badung. Sesuai rencana, pada tahun 2008 ini sudah mulai disalurkan dengan pelaksanaan yang ditenderkan. Bantuan bibit disesuaikan dengan luas dan jumlah petani yang ada di masing-masing wilayah.