
RUMPUT laut milik petani di Kepulauan Nusa Penida kini diserang penyakit ice-ice sehingga tidak mampu menghasilkan sebagaimana diharapkan untuk mata dagangan ekspor.
Jangankan memanen rumput laut untuk mata dagangan ekspor, supaya bisa menghasilkan hanya untuk bibit saja sudah bersyukur.
Di kawasan Nusa Penida alias “Bali Seberang Lautan” itu dikembangkan rumput laut jenis
Eucheuma cottonii sejak tahun 1980-an, baru kali ini budidayanya itu terkena serangan penyakitnya paling parah.
Serangan penyakit berlangsung sejak 2007 dan hingga sekarang belum teratasi dengan tuntas. Budidaya rumput laut masyarakat pesisir pantai Nusa Penida, merupakan produk terbanyak di Bali.
Produksi sekitar 104 ribu ton basah/tahun hasil dari panenan sekitar 260 ha dari potensi yang ada seluas 290 ha (Ant, 11/2). Kualitasnya pun terbaik sehingga mata dagangan itu laku keras untuk memenuhi permintaan konsumen di sejumlah negara dengan tujuan utama ke China, Jepang dan Taiwan.
Kini kondisinya terbalik. Disamping terserang penyakit busuk batang, suhu air laut yang terjadi belakangan ini juga kurang menguntungkan dalam menghasilkan budidaya berkualitas untuk keperluan pabrik antara lain pula untuk jenis bahan baku agar-agar.
Ternyata penyakit ice-ice tidak saja menyerang budidaya rumput laut milik petani di Nusa Penida, tetapi juga pernah merugikan petani rumput laut Sulawesi Utara (Sulut) yang pernah merugi sekitar Rp 20 milyar tahun lalu.
Akibatnya, realisasi ekspor rumput dari Bali selama 2007 hanya mengumpulkan devisa 5.273 dolar AS, anjlok hingga 97,8 persen dibandingkan dengan tahun 2006 yang mencapai 243.520 dolar AS.
Hal itu terjadi, kemungkinan pula karena perdagangan rumput laut produksi Bali ke luar negeri melalui Jawa Timur, sehingga perolehan devisanya tidak tercatat di Bali seperti dikemukakan Kasubdin Daglu Disperindag Bali, Ni Wayan Kusumawathi (Ant, 12/2).
Kita prihatin, ekspor salah satu hasil budaya petani pesisir Bali merosot. Animale cuaca yang tidak bersahabat niscaya berpengaruh pada suhu laut belakangan ini yang kurang menguntungkan.
Padahal, Bali tahun 2006 mampu mengekspor 418 ton rumput laut dan tahun 2007 merosot drastis menjadi hanya 1,9 ton saja. Kita harapkan keluhan petani pembudidaya rumput laut di Nusa Penida akibat serangan penyakit ice-ice mendapat perhatian sehingga kembali menghasilkan produk ekspor yang prospektif.