
Sabun mandi ramah kulit, tanpa bahan kimia berbahan dasar rumput laut dan kulit udang
Beragam bentuk sabun aneka warna dipajang dalam satu pameran di ibukota beberapa waktu lalu. Tak ada yang istimewa dari sabun tersebut selain penampilannya yang bening dan terkesan lebih mewah dibandingkan produk serupa yang banyak dijumpai di pasaran. Tetapi begitu mendekat, akan langsung tercium beragam aroma rempah-rempah khas tropis.
Menurut pembuatnya, sabun tersebut bukan sabun biasa yang menggunakan bahan-bahan kimia, melainkan terbuat dari karaginan (hasil ekstraksi rumput laut Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum) dan kitosan (chitosan/hasil ekstraksi kulit udang, kepiting dan ikan). Inilah salah satu produk turunan rumput laut tingkat akhir yang telah berhasil diproduksi di Indonesia.
”Untuk produk sabun dari karaginan dan kitosan, kita yang pertama dan satu-satunya di Indonesia,” ujar Linawati Hardjito, produsen sabun rumput laut tersebut. Soal aroma yang tak biasa tadi, menurut Lina sengaja dilakukan agar tidak bisa ditiru. Sebab aroma rempah-rempah tersebut diekstrak secara langsung dari tumbuhan dan belum ada sintesisnya. ”Inilah uniknya! Biasanya sabun menggunakan aroma bunga yang sudah sangat biasa, tapi ini lain karena menggunakan aroma rempah-rempah seperti pala, jahe, kayu manis, cengkih, dan lainnya,” katanya.
Kerjasama Riset
Lina yang Ketua Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB mengatakan, sabun dari rumput laut dan kitosan merupakan bagian pengembangan teknologi rumput laut yang dilakukan Departemen THP IPB dengan sebuah eksportir ornamental invertebrata laut, sejak 2003.
Kerjasama tersebut adalah konsekuensi yang harus dilakukan THP IPB ketika pertama kali mengajukan proposal penelitian pengembangan rumput laut kepada Kementerian Riset dan Teknologi. ”Karena sifatnya kemitraan maka kami harus menggandeng rekan swasta yang akan memasarkan produk kami,” kata Lina. Maka, penelitian pun berjalan dengan kucuran fulus Riset Unggulan Kemitraan (RUK) sebesar Rp 400 juta selama 2 tahun.
Usaha lebih difokuskan pada budidaya rumput laut melalui program pemberdayaan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil bekerjasama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Sementara, pengolahan kitosan merupakan hasil penelitian mandiri dari Departemen THP sejak 1988. ”Produk kami tidak bisa tunggal karaginan saja. Karena semua produk menggunakan kitosan sebagai pengawet,” ujar Lina. Ia mengaku pihaknya bisa memproduksi karaginan 600 kg/bulan, kitosan 300 kg/bulan dan kitin 600 kg/bulan. Dan sebagai pendukung dalam riset dan pengembangan teknologi, THP IPB mendapat bagi hasil sebesar 5% dari omset penjualan.
Ekstraksi dari Alam
Dalam formula sabun produksi Lina ”dan partner” tersebut, karaginan berfungsi sebagai pelembab dan pelembut kulit (skin conditioner). Lina menyebutkan, bahan baku karaginan untuk sabun ini adalah dari rumput laut jenis kotoni dan spinosum. Perbandingan komposisi pemakaian masing-masing rumput laut disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk sabun padat, pemakaian kotoni lebih banyak daripada spinosum. Ini karena kotoni bisa membentuk gel meski harganya lebih mahal. Sedangkan untuk membuat sabun cair, pemakaian spinosum lebih banyak untuk menghasilkan kekentalan sabun yang seperti susu dan warna yang lebih jernih.
Sabun dari rumput laut bisa untuk mempertahankan kelembaban kulit. Selain itu juga berfungsi melembutkan kulit sebagai hasil interaksi antara karaginan dengan karoten kulit. ”Kalau memakai sabun ini, tak perlu memakai lotion kulit lagi. Sabun ini bahkan juga bisa digunakan untuk muka,” kata Lina setengah promosi.
Sedangkan kitosan berkhasiat sebagai antioksidan dan antimikroba. Kitosan diyakini bisa menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi kulit primer dan sekunder seperti Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis and Streptococcus pyogenes. Dan sifat antioksidatifnya bisa mencegah sabun menjadi tengik selama penyimpanan.
Karena seluruh bahan bakunya menggunakan bahan-bahan alami maka tak heran jika harga sabun ini relatif mahal dibandingkan dengan sabun mandi umumnya. ”Semua bahan diekstrak langsung dari alam, makanya mahal,” Lina beralasan. Sebatang sabun mandi harganya mencapai Rp 15 ribu, bahkan untuk jenis sabun mandi beraromaterapi harganya Rp 25 ribu/potong. Lina tak menampik, sasaran pasar produk sabun ini adalah kalangan masyarakat menengah ke atas plus memenuhi permintaan dari pasar luar negeri. Lina mengaku produksi sabun tersebut kini mencapai 10 ribu potong (pieces) dalam tiga bulan.