
Nusa Tenggara Barat, merupakan provinsi kepualauan yang memiliki wilayah laut yang lebih luas dibandingkan wilayah daratan. Luas daratannya, 20.152,15 km2, sedangkan luas wilayah perairan lautnya mencapai 29.159,04 km2. Meskipun wilayah perairannya lebih luas daripada daratan, selama ini pemanfaatan sumber daya dan kekayaan laut di NTB masih belum maksimal.
Padahal, kekayaan dan sumber pendapatan masyarakatnya sebenarnya lebih besar berada di laut. “Harus diakui bahwa selama ini pemerintah lebih terfokus pada pemanfataan potensi daratan, sementara pemanfaatan potensi pesisir dan laut, relatif masih kurang,” kata Gubernur NTB Drs. H.L. Serinata, saat panen raya budidaya rumput laut, di Dusun Serewe, Desa Pemokong, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, beberapa waktu lalu.
Mengingat besarnya potensi sumber daya laut, kini Pemerintah Provinsi NTB mulai memberikan perhatian untuk melakukan pemanfaatan maksimal terhadap pengembangan potensi yang cukup besar tersebut. “Bukan hanya bertani di darat, tetapi untuk mendapatkan beras, pemerintah pun bisa mendapatkannya dengan mengembangkan budidaya laut. Hasil laut yang melimpah itulah nantinya dapat digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan hidup lainnya,” kata Serinata.
Salah satu komoditi budidaya laut yang diandalkan dan berpotensi besar dikembangkan di NTB adalah budidaya rumput laut. Selain potensinya yang besar, usaha budidaya rumput laut akan jauh lebih menguntungkan, mengingat proses budidaya hanya membutuhkan waktu sekitar 45 hari.
Yang lebih menguntungkan lagi, menurut Gubernur, aspek pemasarannya. Karena itu rumput laut merupakan salah satu komoditi ekspor yang cukup menjanjikan. Potensi areal budidaya rumput laut di NTB mencapai sekitar 22.768 hektar, dengan jumlah produksi tahun 2007 sebesar 72.509 ton. Produksi ini mengalami peningkatan 31,28% jika dibandingkan produksi tahun 2006 sebesar 55.233 ton. Tahun 2008 ini total produksi budidaya rumput laut diproyeksikan meningkat menjadi 105.138 ton atau naik 45%, sesuai target produksi yang ditetapkan dalam program revitalisasi perikanan budidaya Provinsi NTB khususnya untuk komoditi rumput laut.
Target produksi tersebut optimis dapat dicapai, mengingat besarnya potensi perairan pesisir dan laut yang cocok digunakan sebagai lokasi kegiatan budidaya rumput laut. Terlebih lagi dilihat dari manfaatnya. Rumput laut memiliki multifungsi, bukan hanya sebagai bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi yang tinggi, juga dapat diolah menjadi bahan baku obat-obatan, industri kecantikan seperti kosmetik, dan cat.
Industri pengolahan rumput laut dalam bentuk carragenan, seperti jelly, dodol, dan produk olahan lainnya, baik oleh industri pabrikan maupun industri skala rumah tangga yang di NTB sudah cukup ramai. Kini, produk olahan yang berbahan baku rumput laut ini merupakan salah satu ikon makanan khas Provinsi NTB, yang kerap dijadikan oleh-oleh.
Sebagai wujud komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam pengembangan potensi kelautan terutama rumput laut ini, pada panen raya rumput laut di Dusun Serewe, Pemokong, Lombok Timur, Gubernur NTB menyerahkan bantuan peralatan dari Departemen Perikanan dan Kelautan, berupa antara lain: 1 unit eskavator, 15 unit kendaraan operasional penyuluh dan bantuan masyarakat, berupa peralatan coolbox, mesin pompa air untuk tambak garam dan sejumlah bantuan peralatan lainnya.
”Semua bantuan tersebut, tentu bukanlah sekadar sebagai wujud makin tingginya komitmen pemerintah terhadap potensi masyarakat pesisir. Tujuan yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana berbagai bantuan peralatan tersebut, nantinya benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sarana atau modal oleh masyarakat petani/nelayan, terutama dalam usaha pengembangan budidaya rumput laut, sehingga nantinya potensi pesisir yang cukup besar ini benar-benar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Gubernur.