Senin, 31 Mar 2008 - Sumber: http://ikanmania.wordpress.com - Terbaca 6658 x - Baca: 04 May 2026
A. Asumsi
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam perhitungan analisis kelayakan investasi untuk aspek keuangan ini adalah sebagai berikut :
Proyek budidaya rumput laut 250 rakit apung dengan ukuran 7 x 7 meter diusahakan secara kelompok oleh 5 orang petani nelayan plasma.
Setiap rakit apung terdapat 500 titik tanaman rumput laut atau 125.000 titik tanaman untuk 250 rakit apung.
Dengan masa produksi selama pemeliharaan 45 hari, setiap titik menghasilkan 0,8 kg rumput laut basah atau total produksi selama 1 periode adalah 100.000 kg.
Frekuensi produksi dalam satu tahun sebanyak 6 kali
Produksi dalam satu tahun (6 x 100.000 kg) atau 600.000 kg rumput laut basah.
Rendemen sampai dengan kering asalan 10 persen atau diperoleh 60.000 kg rumput laut kering (kadar air 30 - 35 %) dalam satu tahun.
Harga jual rumput laut kering Rp 5.000 – 6.000 per kg ditingkat petani/nelayan.
Total biaya investasi Rp 72.875.000 dan biaya tenaga kerja Rp 67.800.000 per tahun ditambah biaya perahu Rp 7.500.000.
Jumlah pinjaman yang diperlukan per kelompok Rp 50.000.000 atau 10.000.000 per petani/nelayan.
Skim kredit yang digunakan adalah kredit bank, dalam analisis ini dipergunakan hitungan dengan tingkat bunga sebesar 21% per tahun.
Masa pengembalian pinjaman 9 bulan dan tidak ada grace period.
B. Kebutuhan Biaya Proyek
Kebutuhan biaya proyek terdiri atas biaya investasi dan biaya tenaga kerja. Biaya investasi adalah biaya yang diperlukan untuk pengadaan sarana produksi terdiri atas : Pengadaan bambu, tali nilon, tali rafia, tali jangkar, jangkar, bibit, tempat dan alat penjemuran dan pondok tunggu. Biaya tenaga kerja dapat dirinci atas : biaya pembuatan rakit, pengikatan bibit, merajut tali gantungan, memasang setting di laut, pemeliharaan tanaman, pembuatan jemuran, biaya operasi perahu, biaya panenan dan pasca panen.
Rincian biaya proyek diuraikan sebagai berikut :
Biaya Investasi
Periode 1:
Rakit Apung : Rp 25.625.000
Bibit (Eucheuma cottonii) : Rp 12.500.000
Tempat dan alat penjemuran : Rp 4.500.000
Sampan Perahu ketinting : Rp. 3.500.000
Rumah tunggu : Rp 3.000.000
Jumlah investasi periode 1 : Rp 49.125.000
Periode 2 : Rp 0
Periode 3 :
Rakit apung : Rp 11.875.000
Periode 4 : Rp 0
Periode 5 : Rp 0
Periode 6 :
Rakit apung : Rp 11.875.000
Total investasi : Rp 72.875.000
Pada periode ketiga dan keenam dilakukan penggantian bambu dan tali rafia untuk rakit apung, sedangkan tali ris dan jangkar masih dapat digunakan sampai satu tahun operasi (6 periode). Dengan dilakukan penggantian bambu dan tali rafia pada rakit apung, maka biaya tenaga kerja pada periode ketiga dan keenam pun mengalami peningkatan, yang masing-masing periode sebesar Rp 4. 875.000.
Biaya Tenaga Kerja
Periode 1: Rp 13.987.500
Periode 2: Rp 13.687.500
Periode 3: Rp 8.812.500
Periode 4: Rp 8.812.500
Periode 5: Rp 13.687.500
Periode 6: Rp 8.812.500
Total Biaya Tenaga Kerja : Rp 67.800.000
Biaya Operasi Perahu
Periode 1: Rp 1.125.000
Periode 2: Rp 1.125.000
Periode 3: Rp 1.125.000
Periode 4: Rp 1.125.000
Periode 5: Rp 1.125.000
Periode 6: Rp 1.125.000
Total Biaya Operasi Perahu : Rp 7.500.000
* Total Biaya Proyek per Tahun : Rp 148.175.000
Kebutuhan biaya proyek selama periode pertama adalah :
Biaya Investasi : Rp 49.125.000
Biaya tenaga kerja : Rp 13.987.500
Total : Rp 64.362.500
C. Sumber Dana
Sumber dana untuk membiayai proyek budidaya rumput laut ini diperhitungkan berasal dari kredit perbankan dan modal sendiri yang dikumpulkan dari kelompok petani nelayan. Kebutuhan modal awal sebesar Rp 64.362.500 dapat diperkirakan terdiri dari kredit Rp 50.000.000 dan sisanya Rp 14 362.500 dari sumber modal sendiri.
D. Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan finansial adalah pendekatan untuk mengetahui apakah suatu proyek layak atau tidak dilaksanakan. Pendekatan yang digunakan dalam analisan ini terdiri dari : Proyek Cash Flow, Proyek Rugi/laba, Net Present Value, Internal Rate of Return (IRR) dan Pay Back Period.
Proyeksi Arus Kas
Proyeksi arus kas (cash flow) merupakan perhitungan jumlah dana yang masuk dan keluar selama umur proyek. Arus kas masuk proyek adalah kredit dan hasil penjualan rumput laut kering.
Total cash inflow tahun 0 sama dengan total cash out flow sehingga diperoleh net cash flow nol. Pada tahun 1 s.d. tahun 4 diperoleh net cash flow positif/surplus berturut-turut sebesar Rp 64.276.919, Rp 78.051. 250, Rp 78.051.250 dan Rp 78.051.250. Kredit dapat dilunasi dalam satu tahun pertama produksi.
Proyeksi Rugi/ Laba
Proyeksi rugi/laba dihitung dari selisih penerimaan penjualan dan total biaya (biaya produksi, penyusutan, bunga dan pajak). Proyek ini mampu menghasilkan laba setiap tahunnya. Profit margin pada tahun 1 sebesar 33,13 % dan tahun-tahun berikutnya 32,52 % per tahun. Break even point tahun pertama dapat dicapai pada produksi 33,186 kg dan tahun-tahun berikutnya 31.566 kg.
NPV, IRR, Dan PAY PERIOD
Net Present Value (NPV) dihitung berdasarkan selisih antara nilai sekarang penerimaan yang akan diterima dari hasil penjualan produksi rumput laut dikurangi dengan nilai sekarang atas biaya yang akan dikeluarkan selama umur proyek termasuk pembayaran pajak. Nilai NPV proyek ini dengan menggunakan tingkat bunga i = 21 % selama umur proyek (4 tahun adalah Rp 186.894.685). Internal Rate of Return (IRR) yang merupakan besarnya tingkat penerimaan kembali dari usaha rumput laut atas biaya masukan, yang diperhitungkan sebagai tingkat bunga yang mempersamakan nilai sekarang penerimaan dengan nilai sekarang total biaya yang dikeluarkan selama umur proyek (nilai sekarang netto sama dengan nol), menunjukkan tingkat yang relatif cukup besar (IRR=183,9 %). Pay back period dengan memperhitungkan tingkat bunga 21 % akan dicapai dalam waktu 9 bulan.