Bumi panas, produksi cottonii anjlok, pabrikan karaginan berebut, pengusaha nasional kelimpungan. Klaster jadi alternatif solusi.
Permintaan yang tinggi akan karaginan dan turunannya di pasar global ternyata berdampak menyulitkan pengusaha karaginan dalam negeri. Pasalnya, di sisi lain pasokan rumput laut dunia saat ini sedang turun akibat gagal produksi di berbagai negara terkait dengan meningkatnya panas bumi. Sementara industri karaginan dan berbagai turunannya justru kian berkembang dan membutuhkan pasokan rumput laut jenis cottonii (
Eucheuma cottonii) sebagai bahan baku dalam jumlah besar.
Cokelat hanyalah satu contoh produk makanan yang menggunakan karaginan, hasil olahan cottonii. Masih ada es krim, sosis, nugget sampai permen yang juga memanfaatkan karaginan. Bahkan industri farmasi, kosmetik, tekstil dan industri pembuatan pesawat ulang alik pun menggunakan bahan baku karaginan. Riset membuktikan lebih dari 500 jenis produk akhir karaginan. Tak ayal, permintaan rumput laut sebagai bahan baku karaginan pun membengkak.
Hal itu menurut Direktur Usaha dan Investasi-Ditjen P2HP-DKP Farid Mairuf, menyebabkan banyak rumput laut dijual langsung kepada pembeli asing. Dengan alasan, harga yang ditawarkan lebih bagus. Alhasil industri karaginan nasional kesulitan mendapat bahan baku cottonii. Direktur Utama PT Indonusa Algaemas Prima (PT IAP), Sasmoyo S. Boesari ditemui terpisah pun tak menampik fakta tersebut. Menurut keterangannya, pembeli asing berani membeli dengan harga USD 900 C USD 950 untuk tiap ton cottonii kering asal Indonesia (sekitar Rp 8.000,- lebih per kg). Sedangkan pabrikan lokal hanya sanggup membelinya di level kisaran Rp 7.000,- per kg. Itu pun menurut pabrikan lokal sudah jauh dari batas harga normal selama ini, Rp 6.000,- per kg.
Cottonii Nomor Wahid
Keadaan ini tak lepas pula dari fakta rumput laut cottonii asal Indonesia secara luas telah diakui sebagai rumput laut berkualitas nomor satu di dunia. Sebagai berkah atas letak geografis di zona tropis yang membuat lautnya sangat kaya mineral. Global warming (pemanasan global) telah menyulitkan produksi rumput laut di tempat lain. Makanya negara-negara lain berbondong-bondong berburu rumput laut ke Indonesia, kata Sasmoyo menguatkan. Bisa ditebak, pengusaha lokal pun dipaksa gigit jari.
Celakanya lagi, kondisi langka rumput laut ini dimanfaatkan oleh tengkulak sehingga membuat harganya melambung. Para spekulan ini berperan besar menentukan harga rumput laut di pasar. Selama ini belum ada harga rumput laut yang ditentukan oleh pasar, kata Farid.
Kenyataan pahit ini diamini Sasmoyo. Menurut dia, terjadi kepincangan mekanisme distribusi rumput laut di pasar akibat ulah tengkulak. Petani merasa menjual rumput laut dengan harga yang murah. Sebaliknya pihak pabrikan merasa telah membeli rumput laut dengan harga mahal, ujar Sasmoyo.
Klaster Jadi Jawaban
Farid pun khawatir akan perkembangan usaha karaginan nasional. Sekarang orang akan malas membuat karaginan karena merasa menjual yang mentah saja sudah laku, ujarnya. Padahal rumput laut olahan akan memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar. Dan dalam jangka panjang akan punya arti besar bagi kelangsungan agribisnis rumput laut tanah air.
Sasmoyo menjabarkan, jika harga rumput laut cottonii mentah sekitar USD 900 per ton, maka produk turunan pertamanya ATC (Alkali Treated Cottonii chips) mencapai USD 3.500 sampai USD 4.000 per ton. Kemudian produk turunan ke dua yang dalam bentuk tepung (powder-Semi Refined Carrageenan/SRC) harganya telah berlipat menjadi USD 7.000 sampai USD 9.000 per ton. Sedangkan harga RC (Refined Carrageenan) yang merupakan produk turunan ke tiga lebih fantastis lagi yaitu mencapai USD 15 sampai USD 20 ribu per ton!
Saat ini Indonesia baru bisa menghasilkan olahan rumput laut berupa ATC, satu diantaranya adalah PT Indonusa yang merupakan produsen terbesar di tanah air. Ada juga yang sudah bisa membuat SRC tapi dalam volume kecil, sebut Sasmoyo.
Melihat cerahnya prospek industri olahan rumput laut dunia dan besarnya potensi pengembangan di Indonesia, Farid mengatakan bahwa pihaknya kini tengah gencar membangun industri rumput laut nasional berbasis klaster. Program ini akan memusatkan produksi rumput laut dalam satu kawasan dengan melibatkan sejumlah perusahaan yang membentuk hubungan kerja sama fungsional dari subsistem usaha hulu sampai hilir.
Sistem klaster tersebut terbagi dalam tiga wilayah utama yaitu zona I yang menjadi hulu (resources). Tugas utama zona ini adalah menyediakan rumput laut sebagai bahan baku industri. Kemudian zona II dipusatkan untuk kegiatan pascapanen. Zona ini membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat dan swasta (pabrikan) serta koperasi. Selanjutnya adalah zona III yang menjadi tempat pengembangan industri pengolahan rumput laut. Di sini pihak pabrikan atau swasta sangat diharapkan peranannya sebagai penghela.
Farid menjelaskan, sistem klaster ini akan menjadi jawaban atas permasalahan tata niaga rumput laut nasional. Pabrikan dalam negeri tak akan berkompetisi dengan pembeli luar negeri untuk memperoleh bahan baku. Dengan sistem klaster, aset dan pelaku rumput laut bisa diberdayakan, kualitas bahan baku dapat dioptimalkan sejak dari penanaman. Dan kebutuhan hidup petani bisa terpenuhi karena pembayaran dilakukan secara mingguan. Selain itu, ada proses nilai tambah pada setiap tingkat produksi.