
Pengalaman para petani di desa Palilolon, kabupaten Lembata, NTT, dua tahun lalu kini terulang kembali. Tepatnya sejak bulan Juni 2007 lalu kondisi rumput laut di Palilolon mulai rusak. Gejalah awalnya ditandai oleh adanya ice-ice kemudian rumput laut rontok. Juga muncul semacam lumut yang menempel di rumput laut yang menyebabkan pertumbuhan rumput laut tidak sehat. Kondisi ini yang mengakibatkan hampir semua petani berhenti dari aktivitasnya di laut, tali-tali yang ada di bawah ke darat dan disimpan untuk sementara. Mereka mengalihkan pekerjaannya ke darat dengan menanam jagung dan kacang hijau pada musim hujan. Mari kita bekerja lagi di kebun supaya bisa hidup!, demikian Pak Ali Sili mengajak teman-temannya.
Selama kurun waktu ini ada beberapa yang coba terus mengikat rumput laut di kaplingnya hanya sekedar untuk mendapatkan bibit. Herannya bahwa kerusakan ini hanya terjadi di desa Palilolon sedangkan kawasan di sekitarnya tidak mengalami kerusakan. Menurut beberapa petani, kerusakan ini disebabkan oleh lumpur panas yang dikeluarkan gunung Batutara yang terletak di sebelah utara Palilolon pada bulan Mei lalu.
Akan tetapi saat ini petani mulai kembali lagi ke laut karena kondisi rumput laut sudah mulai membaik. Tali-tali yang selama ini disimpan, sekarang dimanfaatkan lagi. Dengan membaiknya rumput laut ini, maka rencana agar koperasi mekar laut membali rumput laut kering akan dimatangkan lagi dan bila semuanya sudah siap maka rencana itu akan dikerjakan pada bulan maret 2008 ini.