
Pengembangan budi daya rumput laut di Sumatera Utara akan diperluas mengingat peluang ekspornya masih tinggi.
Pengembangan komoditas ini akan dilakukan antara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut bekerja sama dengan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumut. ”Sebagai proyek percontohan, kami telah melakukan uji coba di lahan seluas 64 hektare (ha) di Desa Selotong, Kecamatan Sicanggang, Langkat. Pengembangan secara keseluruhan akan dimulai Maret 2008,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Sumut Bidang Perbankan dan Keuangan Gunawan Tio disela rapat pimpinan provinsi (Rapimprov) Kadin se-Sumut di Medan.
Dia mengatakan, pengembangan budidaya rumput laut akan memanfaatkan lahan eks tambak udang, khususnya di sepanjang pantai timur Sumatera yang telah ditelantarkan penambak. Sebab, komoditas udang dinilai tidak lagi menjanjikan. Dalam program ini, Kadin menyiapkan lahan seluas 10.000 ha dengan produksi rata-rata 500 ton per bulan. Menurutnya, jika rencana ini tercapai, pasokan akan tercukupi dan Sumut bisa membangun pabrik pengolahan rumput laut.
Kepala Bapedalda Sumut Syamsul Arifin mengatakan, rumput laut bisa mengembalikan fungsi ekosistem dengan rekayasa ekologi sehingga menghasilkan komoditas ramah lingkungan. Berdasarkan data saat ini, luas hutan mangrove yang ada di Sumut sebesar 350.000 ha. Dari total tersebut yang sudah beralih fungsi menjadi tambak udang sebesar 40%. ”Hutan mangrove paling luas ada di Langkat. Tapi karena degradasi, jumlahnya semakin berkurang. Dari total yang tersisa itu, masih ada lagi beberapa hektare yang terlantar karena dialih fungsikan ke perkebunan sawit” ujarnya.
Salah seorang penambak rumput laut, Ricky Kho menambahkan, jenis rumput laut yang sangat potensial dikembangkan adalah jenis
Gracilaria verrucosa. Rumput laut ini merupakan jenis hibrida dan dibidik pasar ekspor mengingat harga dan kualitas cukup bersaing. ”Selama ini sentra produksi rumput laut hanya di Sulawesi. Bibit yang ada di sini juga diambil dari sana. Di Sumut, lokasi pengembangan yang paling pas adalah di sepanjang pantai timur” katanya. Berdasarkan pengalamannya saat ini Sulawesi mampu menghasilkan rumput laut sekitar 24 ton/ha/tahun, sedangkan Sumut bisa mencapai 32 ton/ha/tahun. Sementara itu, harga jual di tingkat pengumpul, untuk rumput laut dengan kadar air 20–30% atau disebut kering sekitar Rp3.000–6.500 per kg.
Sementara harga ekspor untuk jenis olahan setengah jadi berkisar USD- 2.600–2.800 per ton. ”Kami sangat berharap pengembangan ini dapat berjalan baik karena masa tanam dan panen komoditas ini cepat jadi petani punya kesempatan besar untuk meraih pasar ekspor” ucapnya. Sebelumnya, Kasub Dinas Perikanan dan Kelautan Sumut Robert Napitupulu menyatakan, akan memanfaatkan tambak eks budidaya udang di Sumut untuk rumput laut.
Saat ini, kata dia, ada sekitar 80% tambak udang yang sudah tidak dimanfaatkan di sepanjang pantai timur dan barat Sumut. Robert menambahkan, langkah ini diambil setelah melihat petani di Kabupaten Langkat berhasil menemukan jenis rumput laut yang sesuai untuk dibudidayakan di tambak. Sehingga, potensi tambak udang yang sekarang menganggur bisa dimanfaatkan. “Pengembangan klaster rumput laut merupakan program Diskanla sejak tahun lalu. Namun rencana tersebut terkendala pemilihan jenis rumput laut yang sesuai.