Harga Eucheuma cottonii jadi melambung jauh di atas harga logis
Hujan yang berkepanjangan beberapa bulan terakhir telah menyebabkan produksi rumput laut nasional turun sekitar 20%. Selama dua bulan terakhir, di Sulawesi Selatan terjadi penurunan produksi cottonii (
Eucheuma cottonii) sampai 20%, ujar Arman Arfah, Ketua Koperasi Perikanan Masyarakat Pesisir Indonesia (Kospermindo). Penurunan produksi cottoni di Sulsel menurut Arman secara langsung akan berpengaruh terhadap produksi nasional, karena 80% produksi cottoni Indonesia berasal dari daerah tersebut. Ia pun menyebut, penurunan produksi rumput laut saat ini juga dialami beberapa daerah lain di tanah air.
Kondisi ini tak pelak membuat harga cottoni melambung di pasaran. Beberapa pabrikan mengatakan harga cottoni sekarang jauh di atas harga logis, kata Arman menambahkan. Dia menyebutkan standar normal harga cottoni di pasaran adalah Rp 4.000 - Rp 5.000 per kg. Kini melonjak jadi Rp 6.000 - Rp 7.000 per kg di tingkat pengumpul. Sementara di tingkat petani, berkisar antara Rp 5.000 - Rp 6.000 per kg.
Untuk jenis gracilaria (
Gracilaria sp.) yang ditanam di tambak, meski juga terjadi penurunan produksi tetapi hal itu tidak sampai mempengaruhi harga. Arman mengatakan bahwa Kospermindo telah menjalin kerjasama dengan Asperli (Asosiasi Rumput Laut Indonesia) dan juga PT. Agarindo Bogatama (produsen agar) untuk menetapkan standar harga gracilaria. Kisarannya adalah Rp 3.000 - Rp 4.000 per kg. Di luar koperasi kami, harga di tingkat petani bisa jatuh di bawah Rp 2.000, papar Arman.
Waktu Pengeringan Bertambah
Penurunan produksi rumput laut baik untuk cottoni maupun gracilaria menurut Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia, Jana T Anggadiredja secara terpisah, lebih disebabkan oleh bertambahnya waktu untuk pengeringan rumput laut. Biasanya rumput laut bisa kering dalam satu atau dua hari, tapi berhubung musim hujan maka butuh waktu 4 sampai 5 hari, kata Jana. Penambahan waktu pengeringan ini terpaksa dilakukan petani demi memenuhi standar kandungan air.
Hujan, kata Jana, sebenarnya secara langsung tidak mempengaruhi pertumbuhan cottoni. Hanya saja, akan cukup merepotkan bagi petani cottoni yang menggunakan sistem rakit di laut. Pasalnya, musim hujan biasanya disertai oleh gelombang pasang di laut. Hal ini menyebabkan kerusakan pada rakit. Arman menambahkan, hujan akan membuat rumput laut cottoni jadi lebih berat sehingga tali ris mudah patah.
Meski demikian, tidak mempengaruhi pertumbuhan cottoni. Musim hujan bahkan memberikan keuntungan sendiri. Yaitu timbulnya up welling (arus balik yang menyebabkan pengadukan) di laut. Ini cukup menguntungkan karena up welling membuat nutrisi jadi lebih banyak, katanya.
Sementara untuk gracilaria, pengaruh hujan cukup besar, terutama untuk lokasi tambak yang jauh dari pantai. Tambak yang jauh dari pantai pasang-surutnya kecil sehingga salinitas air tambak akan turun, ujar Jana menjelaskan.