
Bicara tentang rumput laut di kabupaten Sikka, orang akan ingat tentang aktivitas masyarakat Kojadoi, Parumaan, Dambila, Pangabatang, dan daerah di sekitarnya. Masyarakat di daerah ini terkenal sebagai nelayan handal yang mencari ikan sampai ke perbatasan perairan Australia.
Akan tetapi sejak mereka menggeluti kembali kegiatan budaya rumput laut yang difasilitasi oleh project Coremap fase I (2001-2004),masyarakat yang dulunya sebagai nelayan mulai beralih ke jenis usaha ini.
Kegiatan di ladang pada musim hujan, mencari ikan seperti sebelumnya mulai ditinggalkan. Sekarang aktivitas mereka sehari-hari hanyalah rumput laut.
Keuletan dan keseriusan masyarakat di daerah ini telah membawa hasil dalam perbaikan ekonomi keluarga. Mereka merasa pekerjaan ini lebih mudah dari pada pekerjaan2 lainnya dan mudah mendapatkan uang dari pekerjaan ini.
Setelah melihat hasil dari kegiatan budiaya rumput laut di Kojadoi dan sekitarnya, masyarakat di pesisir utara dan selatan Maumere tertarik dengan usaha ini dan mulai mengusahakannya juga. Saat ini kalau kita jalan-jalan di pesisir utara mulai dari Ndete (bagian barat) sampai ke Wailamung (bagian timur), kita akan melihat di sepanjang pesisir ini sudah terdapat banyak rumput laut. Juga beberapa lokasi di selatan Maumere, yaitu di Lela dan Bola, dan bahkan di pulau PaluE sudah banyak rumput laut. Data terakhir menunjukkan jumlah petani di daerah ini mencapai 600-an petani.
Usaha ini umumnya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Selain itu didukung oleh beberapa orang yang memiliki modal dan oleh lsm seperti Plan International yang menyiapkan peralatan kepada petani, seperti di Wailamung dan Darat Pante yang merupakan lokasi dampingannya.
Dari fakta ini, ke depan rumput laut bisa menjadi salah satu komoditi andalan kabupaten Sikka.