
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menargetkan volume ekspor rumput laut naik sebesar 12,5 % atau 12,59 juta ton pada 2008.
Direktur Usaha dan Investasi Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP, Widodo Farid Ma`ruf, di Jakarta, Selasa, mengatakan, sampai saat ini Indonesia menjadi penghasil rumput laut terbesar dengan produksi mencapai 87,75 juta ton atau senilai US$50,11 juta di tahun 2007.
Namun, lanjut dia, ekspor rumput laut terbesar masih dalam bentuk primer atau bahan baku. "Kami berharap dengan terbentuknya klaster rumput laut di Indonesia, maka minimal ekspor kita dalam bentuk chip (ekstrak)," ujarnya.
Rumput laut akan memiliki nilai jual lebih tinggi lagi, kata dia, jika diolah menjadi tepung karaginan. Harga tepung tersebut mencapai US$10 per kg.
Data BPS yang diolah DKP memperlihatkan terjadi peningkatan ekspor rumput laut setiap tahunnya. Data 2004 mencatat ekspor rumput laut mencapai 50,11 juta ton dengan nilai US$24,32 juta.
Pada 2005 volume ekspor rumput laut meningkat menjadi 60,22 juta ton dengan nilai mencapai US$35,55 juta. Jumlah tersebut naik pada 2006 menjadi 95,58 juta ton dengan nilai US$49,58 juta.
Namun, DKP memperkirakan pada 2007 volume ekspor rumput laut mengalami penurunan menjadi 87,74 juta ton dengan nilai US$50,11 juta.
Menurut Farid, belum adanya koperasi atau Badan Usaha Milik Petani (BUMP) yang khusus mengurusi rumput laut membuat para ijon menjadi pengumpul bagi para agen. Hal tersebut merugikan para petani rumput laut, serta industri berbahan dasar rumput laut dalam negeri.
"Oleh karena itu, sampai saat ini sangat sulit mengetahui secara pasti produksi rumput laut di dalam negeri," katanya.
Dengan adanya klaster, kata dia, akan terbentuk koperasi atau BUMP yang menjadi jembatan bagi petani budidaya rumput laut dengan industri di dalam negeri, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.