
Harga rumput laut meroket, saat ini harga ditingkat petani (kekeringan 35% dan kadar kekotoran 2 – 3 % di Bulukumba) mencapai Rp 6200/kg. Harga ini sudah meningkat 65% dari harga dibulan yang sama pada tahun lalu. Anehnya kebanyakan petani masih mengharapkan kenaikan yang lebih tinggi.
Petani yang ingin cepat kaya dalam waktu singkat tidak lagi memperdulikan mutu karena rumput laut yang kotor, muda dan basah pun masih dibeli oleh sebagian pembeli yang juga tidak peduli mutu dan mencari untung sesaat. Kondisi ini terus mengangkat harga dan menurunkan mutu rumput laut di tingkat petani.
Pihak industri pengolah rumput laut dan exporter saat ini mengalami banyak kesulitan. Tiga prosessor dari Makassar, Surabaya dan Jakarta mengaku bahwa saat ini mereka tidak mampu memenuhi order yang sudah mereka terima karena tingginya harga, rendahnya mutu dan kurangnya ketersediaan rumput laut. Salah satu industri pengolah yang berbasis di Denmark menyatakan
”Tidak ada seorangpun di pihak industri yang mampu memperbaiki kondisi pasokan. Jika harga cottoni terus merangkak naik maka sangat berbahaya karena sebagian besar pasar akan beralih dari kappa karaginan yang dihasilkan oleh cottonii ke bahan pembentuk gel (agar) dan pengental lainnya yang lebih murah atau industri berhenti memproduksi produk-produk gel karena biaya produksi yang tinggi.”
Menurut Shemberg, salah satu pembeli yang berbasis di Cebu (Philipina), mutu rumput laut Indonesia saat ini memburuk ditandai dengan kekuatan gel (gel strength) rendah yang menurun sebanyak 20% dan warna lebih gelap. Penurunan gel strength ini ditengarai oleh kurangnya umur panen. Benarlah apa yang dikatakan oleh seorang pembeli senior dari FMC, ketika industri kesulitan mencari bahan baku karena pasokan rumput laut berkurang, harga rumput laut merangkak naik dengan mutu yang lebih rendah rendah.
Shemberg saat ini membeli SRC
(semi refine carrageenan) untuk pakan hewan
(Pet Food Grade) seharga
$ 4,85/kg FOB. Secara sederhana, perhitungan biaya produksi SRC Pet Food Grade per Kg adalah sebagai berikut ini.
Tabel Perhitungan Biaya Produksi SRC Pet Food Grade per Kg
align="center">Bahan Baku |
align="center">Jumlah |
align="center">Satuan |
align="center">Harga (Rp) |
Rumput laut kering |
3 |
kg |
21.000 |
Alkohol |
0,2 |
lt |
5.000 |
NaOH |
0,2 |
kg |
2.500 |
Biaya lain-lain |
- |
- |
20.000 |
Jumlah |
|
|
48.500 |
Dari perhitungan diatas jelaslah bahwa industri pengolah rumput laut saat ini berada dalam kondisi yang sangat sulit. Beberapa pabrik di Surabaya bahkan sudah menutup proses produksi SRC dan karaginan beralih menjadi eksportir rumput laut kering. Kondisi ini mengakibatkan industri rumput laut di negeri kita sebagai penghasil cottonii nomor satu di dunia sejak 2005, mengalami kemunduran.
Semua pihak mengetahui bahwa Indonesia kehilangan kesempatan meraih US$ 192 juta (Rp 1,8 Triliun) dari penambahan nilai penjualan cottonii yang diproses. Pada akhir 2006 Indonesia mengekspor 96,000 ton rumput laut kering dan hasil olahannya dengan total penerimaan US$ 62,6 Juta (Rp 58,8 Milyar). Sementara itu tetangga kita Philipina yang “hanya” mengekspor 30.000 ton, mampu memperoleh penerimaan sebesar US$ 71,7 Juta. (Rp 67,4 Milyar). Mengapa perbedaannya sangat besar? Karena Philipina terus mengurangi export rumput laut kering dan lebih banyak mengekspor produk olahan rumput laut.
Melihat kondisi diatas sudah saatnya Indonesia sebagai penghasil terbesar cottoni dunia menyadari keunggulannya. Tidak ada tempat lain di dunia ini yang mampu mengungguli keuntungan komparatif Indonesia. Saran kami kepada para petani yang kami hormati, mari kita jaga mutu, jangan biarkan industri dalam negeri kita mati. Jika industri pengolah rumput laut di negeri kita hidup, maka petani juga akan hidup. Jangan tergoda dengan keuntungan sesaat dan godaan pembeli yang mencari untung dengan mengorbankan mutu. Rumput laut yang basah, kotor dan tidak cukup umur sangat cepat membunuh industri yang pada gilirannya juga pasti membunuh petani. Bukankah sangat indah jika anak cucu kita bisa hidup makmur dengan usaha yang kita geluti sekarang. Oleh karena itu usahakanlah rumput laut untuk
jangka yang panjaaaaaaaaaaaaaang.