
Juku Ejaya saat ini telah melakukan pengiriman pertama ke PT. Sri Arjuna Wijaya sebagai tindak lanjut dari kotrak pembelian rumput laut antara Pak Zubair sebagai Lead farmer dan juga sebagai ketua kelompok tani rumput laut Juku Ejaya, Bulukumba. Mekipun di saat ini rumput laut yang kurang banyak akibat kondisi alam yang buruk meskipun pada dasarnya rumput laut bisa tumbuh dengan baik, namu keadaan cuaca yang mengharuskan para petani untuk lebih berhati-hati kelaut. Hal ini disebabkan karena angin yang bertiup kencang dan gelombang yang tinggi. Sehingga produski rumput laut menurun di tingkat petani.
Berdasarkan PO yang diterbitkan oleh SAW pada bulan desember 2007 yang bersikan pembelian rumput laut dari SAW dengan harga Rp 6500/kg FOB Makassar dengan volume 10 ton per akhir Desember 2007. Namun Juku Ejaya hanya mampu mensuplai 4501 kg per 16 Januari 2008 dan selebihnya akan dikirim setelah mencukupi target selanjutnya yaitu 5499 kg. Namun setelah dilakukan penimbangan ulang setalah di press oleh pihka SAW maka terjadi penyusutan sebesar 0.3% sehingga total barang adalah 4488 kg. Kejadian ini adalah suatu hal yang lumrah terjadi akibat adanya penyusutan selama perjalanan dan berat karung.
Dari hasil pengiriman pertama yang dilakukan ini mendapat respon yang baik dari pihak SAW dalam hal ini diungkapan lewat Pak Sutopo dan Pak Sabar yang menjadi penanggung jawab penuh dalam hal pembelian rumput laut di Makassar. Meskipun belum memenuhi target yang telah disepakati bersama, namun hal ini bisa membuktikan bahwa meskipun dengan kondisi curah hujan yang tinggi, tingkat kekeringan masih bisa dipertahankan sesuai perjanjian yang telah disepakati yaitu 35% MC. Lebih lanjut lagi Pak Sutopo mengharapkan agar kerjasama ini bisa dipertahankan termasuk kualitas barang.
Bulukumba saat ini bisa dikatergorikan sebagai lead prices di tingkat petani hal ini juga karena kualitas rumput laut di daerah ini masih lebih unggul di bandingan dengan 3 daerah lain penghasil utama rumput laut yaitu Takalar, Jeneponto dan Bantaeng. Dalam hal kandungan air (MC), dan besarnya tallus (batang) dan umur panen, para petani di bulukumba lebih sadar akan hal ini. Hal ini bisa juga di tandai dengan model pasca panen dengan model penjemuran yang dilakukan oleh petani.
Disepanjang pinggir pantai ketika melakukan perjalanan di daerah bantaeng, para petani melakukan penjemuran di atas tanah yang hanya beralaskan rang plastik dan rumput lautnya masih bersentuhan langsung dengan tanah. Akibtanya pasir-pasir dan tanah akan melengket di batang rumput laut. Tentunya hal ini akan sangat mengurangi kualitas rumput laut.
Satu hal yang sangat memprihatinkan adalah para pembeli di tingkat desa masih membeli rumput laut tersebut meskipun kualitasnya kurang bagus. Hal inilah juga yang menjadikan satu alasan kuat mengapa para petani masih saja melakukan praktek-praktek demikian. Mereka akan berasalan bahwa meskipun dengan pasaca panen seperti itu, para pembeli masih saja membeli rumput laut merek.
Kenaikan harga rumput laut memberikan kabar gembira tersendiri bagi para petani rumput laut dan kenaikan harga sampai awal tahun 2008 ini adalah yang tertinggi selama hampir lebih 20 tahun rumput laut ada di sulawesi selatan. Rumput laut jenis cottonii hanya pernah mencapi harga Rp 5300 per kg ditingkat petani tepatnya di awal tahun 2005 dan sekarang sudah mencapai angka Rp 6.200/kg. Tentunya ini adalah harapan petani dan bahkan mereka masih juga manaruh harapan besar untuk adanya lagi kenaikan harga.
Disisi lain, keadaan ini membuat para pembeli, khususnya para processor harus menghemat biaya untuk masih bisa tetap berproduksi. Selain itu karena pasokan rumput laut yang sangat kurang abibat musim yang kurang bersahabat mengakibatkan para pembeli harus bersaing harga di tingkat petani. Hal ini bisa berdampak buruk bagi peningkatan kualitan rumput laut di tingkat petani yang diakibatkan jika para pembeli di tingkat desa (pengumpul) diharuskan untuk mendapatkan barang lebih banyak dalam waktu yang singkat. Sehingga cara yang sering dipratekkan adalah membeli rumput laut di tingkat petani meskipun belum memenuhi standar kekeringan yaitu 35-36 % kandungan airnya (MC).