
Kemampuan produksi rumput laut gracilaria sebagai bahan baku agar-agar di Indonesia hanya 8.000 ton per tahun, padahal kebutuhan industri mencapai 45.000 ton. Masyarakat terus didorong membuka usaha dan meningkatkan budidaya rumput laut jenis ini karena permintaannya terus meningkat.
"Budi daya rumput laut sistem organik relatif mudah dan bisa dilakukan secara bersamaan dengan udang dan bandeng," tutur Dirjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan, Made L Nurjana, saat meninjau tambak rakyat di Desa Uripjaya, Babelan, Bekasi.
Sekitar 200 keluarga di Desa Urip Jaya sejak tahun 2001 telah menjalankan pola polikultur di tambak-tambak mereka dengan hasil sangat signifikan. Penghasilan pembudi daya udang dan bandeng yang disatukan dengan rumput laut meningkat tajam. Pengusaha mendatangi mereka untuk membantu bibit dan modal kerja serta menyerap hasilnya.
"Penghasilan kami meningkat sejak mulai budi daya rumput laut. Panennya bisa selang seling dengan udang dan bandeng. Perusahaan datang membantu dan membeli hasilnya," ucap Suwardi yang memiliki 2,5 hektare tambak dengan penghasilan bersih Rp 10 juta per bulan.
Rumput laut jenis gracilaria dihargai sekitar Rp 2.000 per kg atau Rp 2 juta per ton dalam keadaan kering. Perawatannya yang mudah dan tidak memerlukan pupuk, menyebabkan keuntungan yang besar, sehingga diminati para pembudi daya perikanan. Untuk mengeringkan, cukup di jemur di bawah terik matahari selama enam jam.
Seaweed Development Manager Agarindo Bogatama, Soerianto Kusnowirjono, dan Managing Director Ohama Indonesia, Handy Pardjoko, mengemukakan, mereka membutuhkan rumput laut gracilaria tanpa batas karena kapasitas industri yang besar dan sebagian produknya diekspor.
Saat ini Agarindo Bogatama yang antara lain memproduksi agar-agar bermerek "swallow" merupakan produsen agar-agar terbesar di dunia. Perusahaan ini membutuhkan pasokan sekitar 24.000 ton rumput laut gracilaria per tahun, namun hanya bisa dipenuhi sepertiganya.
"Kami ikut mendorong pembudi daya di desa-desa. Kalau perlu kami membantu pengadaan bahan baku, modal kerja, dan teknisnya. Jika hasilnya memenuhi syarat, langsung dibeli dan dibayar tunai. Berapa pun jumlahnya pasti kami serap," ujar Handy Pardjoko.
Polikultur
Made Nurjana mengungkapkan, selain dibutuhkan industri, rumput laut gracilaria juga dicari eksportir. Sebagian industri di Indonesia terpaksa mengimpor hasil olahannya. Rumput laut jenis ini sangat dibutuhkan industri pangan, obat-obatan, dan kosmetika di banyak negara.
Pengembangan budi daya di tambak, katanya, selain dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan para petambak juga dapat memperbaiki kualitas lingkungan tambak yang cenderung menurun. Rumput laut dapat dibudi daya secara terpadu (polikultur) sehingga dapat meningkatkan pendapatan petambak dan efisiensi penggunaan lahan.
Budi daya polikultur, ujar Made, didasarkan atas prinsip keseimbangan alam. Rumput laut akan berfungsi sebagai penghasil oksigen dan tempat berlindung bagi ikan-ikan kecil dari predator. Selain itu, juga berfungsi sebagai penyerap racun yang terkandung di dalam air tambak.
"Rumput laut yang ditanam akan menghasilkan klekap sebagai makanan ikan bandeng. Sedangkan bagi udang, lingkungan sekitar rumput laut merupakan penyedia makanan berupa plankton dan jasad renik," ucapnya.