ARLI Optimis Bila Didukung Pemerintah
MAKASSAR – Pengusaha rumput laut yang tergabung dalam Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) terus mendorong pemerintah agar Indonesia, terutama Sulsel untuk bisa menjadi produsen utama dunia. Bahkan, ARLI optimis pada 2010 saat kebutuhan mencapai 274.100 ton
Eucheuma, Indonesia mampu menyuplai 139,1 ribu ton, jika crash program pengembangan rumput laut yang dibuat ARLI mendapat dukungan kebijakan.
Ketua Umum DPP ARLI Safari Azis Husain menjelaskan rumput laut (ganggang) merupakan salah satu organisme laut potensial, dan lama menjadi komoditi ekspor. Dari hasil penelitian, setidaknya terdapat lima jenis rumput laut yang ekonomis di tanah air. Yakni;
Eucheuma cottonii, Eucheuma spinosum, Gracillaria sp, Gelidium sp, dan Sargassum sp.
Pentingnya, rumput laut kata Safari, selain karena sangat dibutuhkan untuk bahan makanan dan obat tradisional, ekstrak rumput laut yang merupakan hidrokoloid seperti karaginan, agar dan alginat juga diperlukan dalam berbagai industri baik sebagai bahan penstabil, pengemulsi, pembentuk gel, pengental, pensuspensi, pembentuk busa dan pembentuk film.
Rumput laut jenis
Eucheuma cottonii dan
Eucheuma spinosum (karaginofit), terang dia, setelah diolah menjadi
carrageenan, dimanfaatkan industri farmasi, kosmetik, makanan dan minuman seperti: saus, keju, kecap, susu, cokelat, sirup, biskuit, es krim dan pet food serta keramik. Rumput Laut jenis
Gracilaria dan Gelidium (agarofit) diolah menjadi agar yang banyak digunakan pada industri farmasi, kosmetik, makanan dan minuman, kultur jaringan dan fotografis. Sedangkan rumput laut jenis
Sargassum (alginofit) diolah menjadi alginat dan digunakan pada industri makanan dan minuman, cat, kertas, fotografis, tekstil dan farmasi.
“Inilah yang membuat permintaan rumput laut dunia terus meningkat. Sedangkan produksi, dari tahun ke tahun, belum mampu memenuhi jumlah permintaan,” terangnya, akhir pekan lalu. Sebagai negara produsen rumput laut nomor dua di dunia untuk jenis
eucheuma (karaginofit), Indonesia masih berpeluang untuk meningkatkan produktivitasnya bahkan lebih besar dari apa yang dihasilkan oleh Filipina yang kini mencapai 96.600 ton
(karaginofit) kering per tahun.
“Ini didasarkan pada beberapa kelebihan yang dimiliki Indonesia yaitu luas lahan yang tersedia. Sebaliknya keterbatasan lahan dan gangguan cuaca/iklim di Filipina justru menjadi faktor pembatas pengembangan budidaya rumput laut di negara tersebut,” urai Safari Azis.
Ironisnya, lanjut dia, faktor-faktor yang menjadi kelebihan Indonesia yang memberikan peluang untuk budidaya rumput laut seperti tingginya permintaan bahan baku rumput laut, baik nasional maupun pasar global, tingginya kebutuhan hasil olahan bagi industri pengguna dalam negeri, besarnya dampak sosial ekonomi petani/nelayan pesisir berupa peningkatan pendapatan dan perluasan lapangan kerja, ternyata belum mampu mengangkat komoditas ini menjadi unggulan.
“Jika kebutuhan rumput laut dunia yang diprediksi sebanyak 274.100 ton eucheuma pada 2010, maka Indonesia berpeluang mengisi sekitar 139.100 ton dan selebihnya negara lain sekitar 135.000 ton,” tandasnya.
Karena itu, dalam rangka mendukung program pemerintah untuk mengurangi jumlah pengangguran atau menciptakan lapangan kerja, lanjut Safari, sudah saatnya pemerintah, ARLI, dan semua unsur yang terkait dalam pengembangan rumput laut membuat program kerja sama.
“ARLI sudah membuat crash program mulai dari pemetaan potensi, kendala, strategi dan rencana produksi. Tetapi, crash program ini tidak bisa jalan tanpa dukungan pemerintah,” tandasnya.