
Bangsa ini memang patut bersyukur. Soalnya, sekitar 75% wilayah Nusantara berupa laut. Luas lautan kita mencapai 5,8 juta kilometer persegi-- menghubungkan lebih dari 17.500 pulau besar dan kecil. Dengan panjang garis pantai yang mencapai 81 ribu kilometer, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia setelah Kanada. Para pakar dan praktisi kelautan dunia meyakini bahwa wilayah laut dan pesisir Indonesia mengandung potensi ekonomi kelautan (maritime) terbesar di dunia. Itu sebabnya, ekonomi kelautan di negeri ini mulai terasa semakin berkembang. Yang dimaksud dengan ekonomi kelautan sendiri adalah seluruh kegiatan (sektor) ekonomi yang memanfaatkan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan wilayah pesisir dan lautan untuk menghasilkan barang dan jasa yang berguna bagi manusia.
Salah satu kegiatan ekonomi kelautan yang cukup penting adalah budidaya rumput laut.
“Indonesia punya potensi besar dalam pembudidayaan rumput laut untuk diekspor,” ujar Jana Anggadiredja, Ketua Indonesian Seaweed Society (ISS). Sayangnya, lanjut Jana yang juga Deputi BPPT bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam itu, Indonesia belum memanfaatkan potensi itu secara optimal. Paling tidak, Indonesia Belum mampu menjadi produsen utama rumput laut di dunia. Saat ini, urutan produsen utama rumput laut
terbesar dunia adalah Cili, Maroko, dan Filipina. Indonesia hanya berada di peringkat empat
dengan skala ekspor sebanyak 96 ribu ton.
Namun, bukan tanpa alasan jika negeri ini hanya mampu berada di peringkat ke empat. Hingga saat ini, menurut Jana, luas efektif lahan budi daya rumput laut baru sekitar 222.180 hektar, atau 20% dari luas lahan yang mencapai 1.110.900 hektar. Padahal, kebutuhan dunia akan rumput laut suah mencapai 300 ribu ton per tahun. Dan itu berpotensi terus meningkat nantinya. ISS sendiri telah menargetkan, pada tahun 2012, Indonesia bisa menjadi produsen utama rumput laut di dunia. “Itu sangat mungkin terjadi,” tutur Jana.
Sebuah harapan yang memang bukan mustahil terwujud. Sebab, produktivitas rumput laut di
dalam negeri juga terus menunjukkan peningkatan. Berdasarkan catatan Ditjen Perikanan
Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan, produksi rumput laut nasional pada 2004 baru sekitar 410.570 ton. Skala itu meningkat menjadi 910.636 ton. Begitu pula pada 2006, skala produksinya mengalami peningkatan menjadi 1.079.850 ton. Di tahun 2007, bahkan, pemerintah telah menargetkan produksi rumput laut nasional bisa meningkat lagi menjadi 1.343. 700 ton.
Jika Indonesia bisa mewujudkan mimpi menjadi produsen utama rumput laut di dunia, maka
sumbangan devisa negara dari sektor kelautan bakal semakin meningkat. Besarnya potensi
rumput laut di sektor perekonomian tampak pada data Badan Pusat Statistik (BPS) 2004. Dengan volume mencapai sekitar 50 ribu ton, nilai ekspor komoditi ini mencapai US$ 24,3 juta. Bukan itu saja, pada periode yang sama, ekspor olahan rumput laut seperti agar-agar mencapai 3 ribu ton dengan nilai US$ 6,2 juta. Sementara itu, hingga pertengahan 2006, nilai ekspor rumput laut nasional mencapai US$ 28,5 juta.
Sampai di sini, jelas, rumput laut merupakan salah satu komoditi ekspor unggulan di sektor
kelautan dan perikanan. Sejatinya, ada tiga jenis rumput laut yang bisa dibudidayakan. Itu
misalnya, jenis grasilaria yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku agar-agar atau makanan sejenis lainnya. Lalu, jenis cottoni yang menghasilkan keraginan yakni berupa tepung yang berfungsi sebagai pengemulsi (digunakan dalam proses pembuatan susu, pasta gigi, hingga pewarna baju). Selain itu, ada juga rumput laut jenis sargasum yang bia dimanfaatkan sebagai alginat.
Lazimnya, rumput laut dibudidayakan di kawasan pesisir dengan kedalaman sekitar dua meter. Seperti tumbuhan darat lainnya, rumput laut juga memerlukan sinar matahari yang cukup agar dapat tumbuh dengan baik. Sebagai negara tropis yang bisa menikmati sinar matahari sepanjang tahun, siklus panen rumput laut di Indonesia hanya membutuhkan waktu sekitar 40-45 hari. Masa panen itu lebih singkat dibandingkan di negara lainnya, seperti Korea Selatan—yang memiliki empat musim—yang membutuhkan waktu hingga empat bulan. Makanya, wajar saja, jika ada sejumlah negara yang tertarik menanamkan modalnya untuk berinvestasi di bisnis rumput laut di Indonesia.
Investor dari Jerman, misalnya, yang berniat mengucurkan modalnya dalam pembudidayaan
rumput laut sekaligus membangun industri olahannya seperti pasta gigi, balsam dan anggur.
Rizald Rompas, Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, menuturkan, rencana investasi investor asal negeri bavaria itu sedang menuju pada nota kesepahaman (MoU), dan mereka masih akan melakukan survei sebelum memutuskan
menanamkan modalnya di negeri ini. “Investor Jerman itu sudah melakukan presentasi di
Indonesia. Diharapkan, kerjasama tersebut dapat dilanjutkan ke tahapan yang diinginkan semua pihak,” ujar Rizald. Mengenai lokasinya, Rizald menambahkan, tergantung pada hasil tim survei investor yang bersangkutan. Namun begitu, “Kawasan Timur Indonesia (KTI) merupakan salah satu daerah potensial untuk pengembangan budidaya. Sebab, produksi rumput laut di kawasan ini cukup baik,” katanya. Rizald memang tak salah. Produksi rumput laut Indonesia memang lebih banyak dihasilkan dari KTI. Sekitar 53% produksi nasional, adalah rumput laut yang dihasilkan nelayan di Propinsi Sulawesi Selatan dengan total produksi 75 ribu ton yang terdiri dari jenis grasilaria 25 ribu ton dan cottoni 50 ribu ton.
Selain Sulawesi Selatan, daerah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia adalah Nusa
Tenggara Timur. Contohnya di Kabupaten Sikka, produksi rumput laut dari kabupaten ini saja bisa mencapai 350 hingga 400 ton setiap bulannya. Singkat kata, daerah KTI memang cocok untuk dijadikan pusat budidaya rumput laut. Apalagi, kawasan itu terkenal sebagai daerah minus, alias kebanyakan masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Nah, jika memang investasi asing berminat menanamkan modalnya di kawasan itu, niscaya kesejahteraan masyarakat di sana akan meningkat. Paling tidak, kesempatan mereka untuk bekerja juga menjadi terbuka. Dengan sendirinya, jumlah pengangguran akan berkurang. Maklum, rata-rata penghasilan para petani rumput laut di negeri ini hanya berkisar antara Rp 1,5 sampai Rp 2 juta untuk sekali panen, atau dalam waktu 1,5 bulan. Nilai penghasilan sebesar itu pun didapat, jika para petani bisa memaksimalkan produksi lahannya. Untuk diketahui, satu hektar tambak bisa menghasilkan satu ton rumput laut kering, yang harganya Rp 3.500 per kilogram.
Namun masalahnya, jika sedang tidak punya uang, para petani kerap memanen rumput laut
sebelum masa panen tiba. Alhasil, kualitas rumput laut yang dijualnya sangat rendah. Itu
sebabnya, rumput laut dari Indonesia tak jarang diekspor dulu ke Filipina untuk ditingkatkan
kualitasnya. Lalu, negara jiran itu yang mengekspor ke negara lain, tentu saja dengan harga jual yang lebih tinggi. Sayang, memang. Padahal, cara itu tak perlu terjadi, jika esejahteraan para petani sudah lebih baik. Karena itu, upaya pemerintah untuk mendatangkan investasi asing masuk ke budidaya rumput laut harus didukung.