
Pembangunan yang sedang dilakukan umat manusia telah mengubah planet kita pada skala dan tingkat yang tak terkatakan. Kita semua perlu mempelajari dan memahami permasalahan serta solusinya. Tidak cukup sekedar mengkaji permasalahan: Kita harus berkomunikasi satu sama lain (pada tingkat local, juga antar Negara dan budaya).
Apakah ikan-ikan megalami kepunahan? Ya! Stok makanan laut secara global diperkirakan akan colaps pada tahun 2048 (29% sudah punah), science 2006.
Pada 2030 diperlukan 37 juta ton ikan per tahun untuk mempertahankan level konsumsi ikan seperti saat ini. Budidaya ikan adalah sector produksi pangan yang tumbuh paling pesat (tingkat pertumbuhan tahunan sejak 1970 sebesar 8,8%). 45% dari konsumsi (48 juta ton) ikan berasal dari produk budidaya. 2 milyar tambahan penduduk pada 2030, mengharuskan produksi budidaya yang setara dengan 85 juta ton ikan untuk mempertahankan tingkat konsumsi saat ini (tidak ada pertumbuhan).
Potensi Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang yang meliputi: Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Kepulauan Salomon dan Papua New Guinea) antara lain merupakan “Marine Amazon”, sebagai pusat keragaman dan kelimpahan keanekaragaman hayati laut di bumi; memiliki sumberdaya kelautan yang menopang kehidupan lebih dari 120 juta jiwa; tempat pemijahan dan sumber makanan yang penting bagi ikan tuna dan merupakan daerah migrasi dan habitat yang penting bagi spesies-spesies yang dilindungi.
Issu utama di wilayah Coral Triangle antara lain: sangat sensitive terhadap banyak ancaman seperti eksploitasi yang tidak ramah lingkungan, illegal fishing, polusi dan perubahan iklim.
Secara garis besar tujuan dari pertemuan ini adalah untuk mencari solusi yang berkesinambungan atas permasalahan yang sedang terjadi di Segitiga Terumbu Karang serta berbagi sejumlah pembelajaran yang telah dilakukan oleh sejumlah pihak.
Lokakarya yang berlangsung pada 27-30 November ini digagas oleh Konsorsium Mitra Bahari dan didukung oleh IFC, Yayasan SEAPlant Net, Mars Symbioscience dan Bakti. Konsorsium Mitra Bahari adalah sebuah konsorsium yang independen dan bekerja bersama untuk menguatkan kapasitas masyarakat pantai dan pulau-pulau kecil dalam mengelola dan mengembangkan sumberdaya kelautan. Lokakarya ini diikuti lebih dari 100 peserta dari unsur Pemerintah, Perguruan Tinggi, Pengusaha, Donor dan Peneliti dari berbagai Negara (Indonesia, Australia, Amerika, Philipina, Jerman dan Jepang). Berlangsung di Makassar Golden Hotel dan diikuti dengan pembuatan struktur biorock di Pulau Barang lompo dan Pulau Badi, Sulawesi Selatan.
Lokakarya ini menghadirkan Dr. Tom Goreau dari Coral Reef Alliance; Dr. W. Gallardo dari The Asian Institute of Technology; Dr. Jamaluddin Jompa dari Coremap, Dr. R. Coloso dari SEAFDEC, Dr. Dave McKinnon dari Australian Institute of Marine Science, Noel Janetski dari Mars Symbioscience, Dr. Iqbal Djawad dari UNHAS dan Dr. Iain Neish dari SEAPlant.Net serta Dr. Peter Chaille dari University of California, Santa Barbara. Kesemuanya memaparkan perkembangan terkini dari marikultur yang terintegrasi dan lestari dan mendiskusikan kesempatan-kesempatan bekerjasama yang lebih besar.
Dari diskusi kelompok yang difasilitasi jelas terlihat keinginan para pengusaha untuk terlibat aktif dalam mendukung Konsorsium Mitra Bahari. Ujicoba dan pengembangan pupuk dari tanaman laut serta budidaya abalone dan tripang menarik minat banyak pihak untuk segera membuat pilot project. Dua MoU berhasil ditandatangani dalam lokakarya tersebut, yaitu antara Mars Symbioscience - Fakultas Perikana UNHAS untuk redevelop fasilitas hatchery di Pulau Barang Lompo dan antara Yayasan SEAPlant.Net – Mars Symbioscience – Fakultas Perikanan UNHAS untuk mengembangkan Integrated Mariculture di Kepulauan Spermonde.
Peserta lokakarya yang dipandu oleh Dr. Tom Goreau juga berkesempatan untuk ikut aktif dalam membuat struktur biorock di Pulau Barang Lompo. Selain itu para peserta juga terlibat aktif dalam pemasangan struktur biorock di Pulau Badi. Saat ini di Pulau Badi sedang diujicobakan maricultur (Kappaphycus alvarezii, gracilaria spp dan biorock).