
Musim hujan yang tak kunjung datang membuat tingkat kadar garam air laut menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini yang membuat para petani rumput laut menjadi resah karena tanaman mereka tidak bisa tumbuh dengan baik seperti pada bulan-bulan sebelumnya dimana suplai air tawar cukup yang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kadar garam di lautan tidak terlalu tinggi. Padahal hampir disemua kawasan pesisir, rumput laut sampai saat ini sudah menjadi mata pencaharian utama demi memenuhi kebutuhan sehari-hari baik sandang maupun pangan.
Dilain sisi harga rumput laut menunjukkan terjadi kenaikan harga dari bulan ke bulan namun sayangnya tidak bisa dinikmati oleh sebagian para petani rumput laut. Meskipun mereka sudah berusaha menanam rumput laut sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki namun kondisi alam yang kurang bersahabat membuat mereka tidak bisa berbuat banyak untuk membuat rumput laut mereka dapat tumbuh dengan baik.
Rumput laut jenis cottonii tidak bisa bertahan tumbuh dengan baik di saat kadar garam yang tinggi dan juga kurangnya pergerakan air sehingga supali oksigen juga berkurang. Pada kondisi kritis seperti ini akan memicu jaringan pada tallus rumput bisa rusak sehingga muncul gejala ice ice. Namun untuk tetap bisa bertahan dan bekerja, mereka memilih untuk tetap menanam rumput laut jenis Spinosum yang relativ lebih tahan terhadap perubahan iklim yang lebih eksrim
Meskipun sampai saat ini harga spinosum di tingkat petani masih berkisar 1000/kg dan belum menunjukkan adanya perubahan harga yang menggembirakan buat petani yang menanam spinosum. Di para petani rumput laut ini lebih dikenah dengan sebutan sp atau pemburu. Pemburu mereka identikkan karena pertumbuhan rumput laut ini lebih cepat dari jenis cottonii sedangkan sp mereka singkat saja dari dua huruf dari kata spinosum dan bukan dari nama latinnya
(Spinosum sp) .
Beradasarkan pengalaman sebelumnya spinosum pernah mencapai harga 2000/kg di tingkat petani dan itu terjadi pada saat menjelang pergantian tahun baru masehi dan tahun baru imlek. Pada dasarnya bulannya itu cocok dengan pola pertumbuhan spinosum. Keadaan ini juga sudah dipahami oleh para petani sehingga meskipun sampai saat ini harganya belum menunjukkan kabar baik namun mereka juga tetap optimis menanam spinosum dengan penuh harap akan ada perubahan harga disaat-saat menuju akhir sampai tahun baru.
Meskipun spinosum harganya kurang begitu baik namun disebagain tempat seperti di papanloe, bantaeng tidak mempunyai alternative pendapatan lain. sebagaimana yang dipaparkan oleh Dg Lili, anggota kelompok tani rumput laut Sumber Laut, Papanloe, bahwa untuk menanam spinosum modal yang dibuthkan sama dengan menanam cottonii sedangkan harganya lima kali lebih murah dibandingkan cottonii. Jika beruntung dengan memanen 100 bentang (25 m) bisa mencapai 1 ton. jika harganya 1000 ditingkat petani maka mendapatkan penghasilan kotor 1 juta. 100 bentang kurang kebih membutuhkan modal 500 ribu tanpa membeli bibit sehingga keuntungan yang di dapat selama kurang lebih 45 Hari adalah 500 ribu.
Meskpin cottonii tidak menunjukkan pertumbuhan yang baik namun masih terdapat sedikit tempat yang masih bisa tumbuh meskipun tidak sebagus bulan bulan sebelumnya seperti di Cappagusung, Bulukumba, Borkal, Bantaeng. Ditempat ini terdpat aliran sungai yang menjadi pensuplai air tawar sehingga kadar garam air laut relative lebih stabil di musim-musim kering. Selain itu juga, masih terdapat beberapa petani yang tetap menanam cottonii meskipun pertumbuhannya sangat minim. Sebagaimana yang dilakukan oleh Dg Lewa, anggota kelompok tani rumput laut Sinar Rezeki, Bonto Ujung, yang dulunya menanam spinosum dan kemudin hanya menanam cottonii saja dan tidak mau lagi menanam spinsum tetap menanam cottonii. Salah satu alas an yang disampaikan adalah untuk tetap mempertahankan bibit sampai pada musim hujan datang.
Satu hal yang sangat petinng dan perlu juga dipahami oleh para petani adalah tidak mencapurkan antara spinosum dan cottonii pada saat menjemurnya karena kalau tidak para pengumpul akan mendapatkan masalah yang besar mereka menjual cottonii yang sampai ada tercampur spinsoum meskipun sebatang. Sudah terjadi pengalaman bagia bagi beberapa pengumpul yang menjual langsung ke makassar yang rumput lautnya tercampur dengan spinsoum.