
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengungkapkan bahwa serat yang terkandung dalam rumput laut atau agar-agar dapat menurunkan kolesterol, darah tinggi, serta mengurangi keasaman pada lambung dan lain-lain. “Hingga saat ini, rumput laut sudah dibudidayakan di Indonesia tercatat sekitar 17 jenis, namun kalau genusnya yang dibudidayakan baru dua genus,” kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam, Prof. Dr. Jana T. Anggadiredja, MS di Jakarta, Senin (11/6).
Dari beberapa penelitian baru sekitar 54 jenis yang sudah dimakan atau dikonsumsi olah masyarakat di wilayah pesisir secara langsung, artinya secara langsung diolah/dimasak menjadi makanan, dan tidak diproses untuk menjadi agar-agar dan lain-lain.
Dari 54 jenis yang dimakan atau dikonsumsi oleh masyarakat dengan berbagai bentuk makanan tersebut, sebanyak 37 jenis diantaranya terbiasa untuk kepentingan obat-obat tradisonal. Dalam kandungan rumput laut yang paling menarik awalnya, menurut Jana, bukan gisi tetapi sebetulnya adalah serat yang paling utama, baru kemudian gisi. Disamping itu, rumput laut juga mengandung Vitamin D1, vitamin A, dan vitamin B.
Agar vitamin-vitamain tersebut masih tetap terkandung dalam makanan yang diolah, tinggal bagaimana cara mengolah atau memasaknya, apakah dimasak sebagai puding dan sebagainya.
Ada beberapa jenis rumput laut yang memang diolah untuk karaginan, dimana karaginan bisa dipakai di dalam berbagai industri, yaitu sekitar 200 industri bisa menggunakan bahan baku karaginan, tetapi bahan baku agar-agar hanya digunakan sekitar 100 item industri atau produk industri.
Sementara itu, kandungan dalam agar-agar atau rumput laut banyak dimanfaatkan di berbagai industri sebagai bahan baku atau sebagai bahan penolong di dalam industri. Jana memberikan contoh, untuk agar-agar misalnya selain dimakan langsung diolah menjadi puding/makanan juga bisa dipakai sebagai media tumbuh bakteri, media untuk tanaman, dan lain-lain.
Di sisi lain, agar-agar dikonsumsi yang utama adalah kandungan seratnya, karena susunan kimianya adalah rantai polisakarida panjang yang mempunyai kandungan serat yang cukup besar 84%, tetapi punya karbohidratnya kecil, artinya agar bisa dipakai sebagai makanan dingin.
Jana mengatakan, apa yang disebut dengan Agarpac adalah agar instan atau yang disebut Oligo Agar, rantai polisakarida yang panjang kemudian dipotong didalam proses industri sehingga rantai Agarpac tersebut yang sebenarnya Oligo Agar dapat dikemas sedemikian rupa untuk memudahkan orang mengkonsumsinya. Dengan menggunakan Agarpac orang tinggal menyeduhnya tanpa harus mengolah di dapur, dan bisa memanfaatkan seratnya.