
Gelombang tinggi di perairan berpengaruh pada aktivitas masyarakat. Salah satunya nelayan atau pembudi daya rumput laut yang ada di Sekotong, Lombok Barat (Lobar). ”Gelombang tinggi laut yang membuat pembudidaya kesulitan untuk menanam,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lobar Lalu Sukawadi.
Sukawadi menjelaskan, rumput laut yang dihasilkan pembudi daya dalam cuaca normal bisa mencapai 80 sampai 100 ton. Hasil ini berasal dari pertambakan di Empol, Sekotong. Ini merupakan jumlah yang cukup banyak dengan kualitas yang bagus.
Setelah terjadi kemarau panjang pada 2023 lalu dan hasilnya sedikit berkurang. ”Minat masyarakat untuk menanam sedikit lesu, karena cuaca eksrem yang menyebabkan air yang diserap sedikit,” jelasnya. Sukawadi optimis cuaca akan kembali normal.
Namun nyatanya, rumput laut dengan jenis katoni yang tumbuh di pesisir pantai saat ini tidak terlalu banyak. Akibat dari gelombang tinggi, yang menghantam rumput laut.
Adanya gelombang tinggi bisa mempengaruhi gerak rumput laut, jika tidak mampu ditopang maka akan jatuh. Ia berharap, cuaca akan kembali normal karena pasar dari rumput laut ini disebutnya cukup besar.
Apalagi jenis katoni yang dapat diolah menjadi manisan, agar-agar, dan berbagai olahan makanan lainnya. ”Itu banyak yang cari di pasaran. Permintaannya tinggi,” ucapnya.
Menurut Sukawadi melihat potensi rumput laut tersebut, pihaknya pada 2022 sudah membentuk kelompok budidaya rumput laut. Nelayan bisa menjadikannya penghasilan tambahan selain menunggu hasil pelepasan bibit bandeng dan udang yang hanya sekali dalam empat bulan.
Sedangkan kalau rumput laut hanya membutuhkan 15 hari sekali untuk panen. ”Kita mendorong masyarakat untuk kembali menanam varietas rumput laut di tambak Gracilaria dengan jenis rumput laut Katoni,” tandasnya.