
Produksi rumput laut jenis alga merah (red seaweeds) dunia menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Produksi rumput laut dunia pada tahun 2002 mencapai 2,6 juta ton. Jika dibandingkan dengan produksi tahun 1998 sebesar 1,8 juta ton, maka dalam kurun waktu 1998-2002, produksi rumput laut dunia mengalami kenaikan rata-rata sebesar 8,81 % pertahun. Berdasarkan produksi tahun 2002, maka negara yang mendominasi sebagai produser rumput laut (alga merah) dunia terbesar adalah
Philipina (34,34%), kemudian China (26,05%), Jepang (16,94%) dan Korea (8,69%) dari produksi total. Sedangkan negara
Indonesia baru bisa menempati posisi ke lima dengan volume produksi sebanyak 223.080 ton atau 8,66 % dari produksi rumput laut dunia. Angka produksi rumput laut Indonesia yang dikeluarkan resmi oleh FAO terbitan 2002 lebih kecil dari angka resmi yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Dengan demikian seharusnya negara Indonesia menempati posisi ke empat sebagai negara produser rumput laut dunia (red seaweed).
Negara Philippina sebagai produser utama rumput laut dunia, produksi rumput lautnya sebagian besar berasal dari species Eucheuma cotonii dan sebagain kecil dari species Eucheuma denticulatum, Kapphycus aluarezu dan Gracilaria. Produksi rumput laut dari negara China dan Jepang kebanyakan berasal dari jenis species Porphyra tenera, sedangkan dari negara Indonesia berasal dari jenis Eucheuma cottonii dan Gracilaria.
Hal ini tentu perlu mendapat perhatian, karena luas perairan atau potensi negara kita jauh lebih luas dari negara Philipina, China maupun Jepang. Oleh karena itu kegiatan budidaya rumput laut perlu mendapat dukungan secara bersama-sama (terkoordinasi) sesuai dengan kapasitas masing-masing dari hulu sampai ke hilir (secara terpadu), sehingga hasil yang dicapai dan dampaknya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat serta perolehan devisa negara lebih mudah untuk dicapai.
Tabel 1. Negara Produser Rumput Dunia Utama, 1998 - 2002

Sumber : Statistical Year Book FAO 2002.
Permintaan rumput mulai mengalami peningkatan sejak awal tahun 1980 untuk berbagai kebutuhan di bidang industri makanan, tekstil, kertas, cat, kosmetika dan farmasi. Di Indonesia pemanfaatan rumput laut di mulai dari industri agar-agar (Gelidium/Gelidiella dan Gracilaria) dan untuk industri karaginan (dari Eucheuma) sedangkan untuk industri alginat (dari Sargassum) baru dimulai semenjak tahun 1995. Menurut McHugh dan Lanier (1983) penggunaan rumput laut semakin meningkat di masa mendatang. Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan akan dunia industri, maka potensi sumberdaya alam rumput laut yang kita miliki memerlukan pengembangan secara lestari dan berkelanjutan. Negara lain selain Indonesia sebagai penghasil rumput laut adalah Jepang, Amerika Serikat, Kanada, daratan Eropa, Filipina, Thailand, Malaysia, India, Chille dan Madagaskar.
Tabel 2. Pemanfaatan Rumput Laut sebagai Makanan (Jansen, 1993)
Kelebihan dari rumput laut adalah dapat dimanfaatkan dalam bentuk raw material (seluruh bagian tumbuhan) sebagai sayuran, asinan dan manisan dan juga dalam bentuk hasil olahan. Bagi masyarakat Jepang dan Cina rumput laut digunakan sebagai campuran makanan atau minuman. Di Jepang dikenal dengan sediaan yang diberi nama NORI dari Porphyra sp, WAKAME dari Undaria sp, KOMBU dari Laminaria sp dan Kelmaniela gyrata. Nori diproduksi sebesar 40.000 ton pertahunnya atau dibutuhkan sebesar 400.000 ton basah, wakame sebesar 20.000 ton atau 300.000 ton basah, dan Kombu sebesar 300.000 ton atau memerlukan rumput laut basah sebesar 1.300.000.
Tabel 3. Rumput Laut, Penggunaan dan Eksploitasi di Dunia
Beberapa jenis rumput laut mempunyai kadar gizi yang tinggi. Substansi yang dikandungnya seperti karbohidrat, protein, lemak, asam amino, kalium, natrium, kalsium, mangnesium dan iodium. Menurut Rachmaniar (1994), kadar protein makro algae berkisar antara 2,8 - 6,08 %, karbohidrat antara 25-40 % dan kandungan serat tinggi yaitu 2-13 %.
Tabel 4. Produk Industri Rumput Laut (Jansen, 1993)
Sumber : McHugh dan Lanier (1983) *) Pupuk **) satuan ton (leering)
Produk olahan rumput laut yang memiliki pangsa pasar didunia dengan kuantitas permintaan ekspor yang besar adalah:
- Karaginan (Carragenan)
Pangsa pasar dunia rumput laut yang mengandung carragenan rata-rata mencapai 130.000 ton per tahun, sedangkan pasar carragenan mencapai 15.000 - 20 000 ton per tahun. Pasar terbesar di Eropa (35 %), Asia Pasiflk (25 %), Amerika Utara (25%), dan Amerika Selatan (15 %). Perusahaan-perusahaan yang mendominasi pasar rumput laut penghasil carragenan adalah FMG (Amerika), QPF (Denmark), dan France Setia (Perancis). Perdagangan rumput laut bersifat oligopolistik dimana petani pembudidaya atau produsen hanya dapat menjual kepada sejumlah kecil pembeli. Industri karaginan dunia mengalami pertumbuhan yang menggembirakan, khususnya produk yang konvensional Semi Refined Products (SRC). Hal ini disebabkan karana banyaknya indutri hilir seperti industri daging dan dairy di pasar Amerika Serikat yang membutuhkan karaginan (PPIP, Badan Agribisnis, 1996).
- Agar-agar
Perdagangan Internasional agar-agar sebagai bahan mentah dan sebagai penghasil produk jadi terus meningkat. Kebutuhan dunia diperkirakan sebesar 10.000 ton bahan mentah agar-agar dan 3.500 ton produk jadi pertahun. Jepang adalah Negara konsumen utama agar-agar dengan volume kebutuhan sekitar 2.000 ton per tahun. Industri pengolahan agar Jepang sudah begitu maju sehingga Jepang hanya mengimpor ramput laut penghasil agar dengan kualitas A. Kebutuhan Amerika Serikat mencapai 1000 ton/tahun (80 % dipenuhi impor). Negara pembeli agar-agar lainnya adalah Jerman sebesar 210 ton/tahun, Italia mencapai 100-400 ton/tahun dan Thailand, Singapura dan Malaysia masing-masing sekitar 200 ton per tahun.
- Alginat
Negara pesaing utama Indonesia dalam menghasilkan rumput laut kering adalah Philipina. Sedangkan negara pesaing produk olahan rumput laut adalah Chili, Canada, Perancis, Spanyol, dan Jepang. Dilihat dari kondisi alam, seharusnya Indonesia dapat memproduksi rumput laut lebih banyak dari Negara Philipina. Hal ini dapat dilakukan bila persyaratan sistem manajemen budidaya, dan pengolahan diperbaiki.
Tabel 5. Peluang Pasar Perdagangan Rumput Laut
Catatan: Dihitung dari berbagai sumber. *). Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Itali, ailand, Singapura, dan Malaysia.
Hal ini merupakan tantangan dan sekaligus peluang pemasaran rumput laut Indonesia. Pasar utama produk rumput laut Indonesia adalah adalah Jepang, Hongkong dan Denmark vane diperkirakan dapat menyerap sebesar 71 % dari total produksi rumput laut Indonesia. Seandainya Indonesia dapat memperbaiki kualitas bahan baku dan produk rumput laut peluang pasar ke negara-negara lain masih terbuka lebar. Peluang pasar dalam negeri dan luar negeri disajikan dalam tabel diatas.
Perdagangan internasional rumput laut mengalami peningkatan rata-rata 6% dari sisi demand dan 5% dari sisi supply. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan harga rumput laut yang akan meningkat. Eksportir terbesar rumput laut adalah China yang memproduksi 27% rumput laut dunia. Pertumbuhan produksi rumput laut di China didorong oleh permintaan dalam negeri yang meningkat pesat, terutama dalam bentuk makanan dan farmasi. Selain itu permintaan dari Jepang akan rumput laut China yang meningkat 25% pada tahun 2004 juga menjadi pemicu peningkatan produksi rumput laut China. Korea juga memiliki tingkat produksi rumput laut yang cukup tinggi didorong oleh kebutuhan industri kosmetik dan farmasi dalam dan luar negeri.
Tabel 6. Eksportir Rumput Laut Dunia
Sumber : ITC, Diolah 2006
Grafik. Importir Rumput Laut Dunia
Sumber : ITC, Diolah 2006
Sumber : Buku Profil Rumput Laut Indonesia, Ditjen P. Budidaya