
Petani rumput laut di Sulawesi Selatan kini berada di tengah sorotan atas masalah serius yang menghantui industri mereka. Penurunan tajam harga jual komoditas unggulan yaitu rumput laut. Harga rumput laut kering jenis Cottonii, yang menjadi primadona budidaya di wilayah ini, saat ini mengkhawatirkan para petani. Kabupaten Jeneponto mencatat harga sekitar Rp. 11.000, Kabupaten Takalar sekitar Rp. 14.000, dan Kabupaten Bantaeng sekitar Rp. 10.000, yang semuanya di bawah ekspektasi petani.
Meskipun ada kebingungan di kalangan petani mengenai akar penyebab penurunan harga ini, beberapa indikasi menunjukkan bahwa kurangnya permintaan dan persaingan harga yang ketat antar petani menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada permasalahan ini. Harga turun juga disebabkan permintaan turun akibat beberapa pabrik tutup dan tidak mendapatkan PO. Eksporter buka tutup gudang. Informasi mitra Jasuda menyampaikan bahwa harga carrageenan di pasar internasional juga turun. China menjual produknya dengan harga lebih rendah. Informasi pasar lokal dan internasional sedang terjadi penurunan permintaan carrageenan. Dugaan faktor lain penurunan harga karena krisis ekonomi di China. Penurunan harga yang berkelanjutan telah mendorong para petani rumput laut untuk mencari solusi kreatif guna menjaga keberlanjutan usaha mereka.
Selain masalah harga yang mendesak, petani rumput laut juga harus menghadapi tantangan lain yang lebih luas, yaitu dampak perubahan iklim global. Perubahan cuaca yang tidak stabil dan pemanasan air laut telah menyebabkan pertumbuhan bakteri ice-ice yang mengganggu produktivitas budidaya rumput laut. Kondisi ini menunjukkan perlunya tindakan berkelanjutan untuk melindungi sektor pertanian ini dari ancaman perubahan iklim.
Petani rumput laut di Sulawesi Selatan kini berada dalam situasi yang menuntut inovasi dan kolaborasi untuk mengatasi tantangan yang ada. Dalam menghadapi penurunan harga dan dampak perubahan iklim, upaya bersama antara pemerintah, ilmuwan, dan para petani akan menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan dan keberhasilan industri rumput laut yang sangat penting bagi perekonomian lokal dan nasional.
JaSuDa, bekerja sama dengan Wageningen University and Research, telah mengambil langkah inovatif dengan melakukan penelitian yang memfokuskan perhatian pada bibit lokal dan kultur jaringan. Dalam rangka penelitian ini, tiga variasi bibit digunakan, termasuk bibit lokal yang berasal dari Desa Ujung Baji, Kabupaten Takalar, bibit lokal dari Desa Pantai Bahari Jeneponto, dan bibit kultur jaringan yang diperoleh dari Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar. Penelitian ini bertujuan untuk menggali daya tahan bibit terhadap fluktuasi cuaca dan kemampuannya dalam mengatasi penyakit, sambil memantau daya tahan hidup rumput laut.