
Harga rumput laut yang merupakan komoditas unggulan Nunukan saat ini belum stabil. Saat ini harga ditingkat petani mulai dari Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu per kilogram. Untuk menaikkan harga salah satu syarat yang harus dipenuhi yakni memperbaiki kualitas.
Ketua Asosiasi Pedagang Rumput Laut (APRL) Nunukan, Fery menyampaikan perubahan harga saat ini dapat diatasi dengan cara petani memperbaiki kualitas. Dengan begitu harga rumput laut dapat dijual mulai dari Rp 13 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram.
“Harga jual bisa Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu dengan catatan kadar air rumput laut 37-39. Jika dengan kadar 40 sampai 45 tentunya harga di bawah kadar rendah,” ucap Fery kepada Radar Tarakan, Selasa (19/9).
Karena situasi ini, pihaknya mendorong petani agar memperhatikan kadar air rumput laut yang akan dijual pedagang. Sebab, jika dengan kadar air 40-45 sebelumnya dikirim ke Makassar atau Surabaya rumput laut tersebut harus dikeringkan lagi hingga sesuai kadar.
“Kalau petani siap sediakan rumputnya dengan kadar 37 atau 38, saya berani ambil Rp 13 ribu per kilogramnya. Tapi kalau dengan kadar 40 sampai 45 persen pasti harganya di bawah itu,” jelasnya.
Ia menegaskan, perbedaan harga karena berbeda kadar air lantaran ada biaya yang harus dikeluarkan lagi. Misalnya, rumput laut dibeli dengan kadar air 40-45, agar memenuhi kualitas kadar air harus diturunkan mulai dari 37 hingga 39.
“Ada biaya tambahan untuk penjemuran agar mendapatkan kadar atau kualitas yang ditentukan. Kalau kami ambil harga sama dengan kadar standar maka operasional kami yang membengkak,” jelasnya.
Untuk itu, ia mengajak petani untuk memproses rumput laut dengan kadar 37 hingga 39. Sehingga, harga jual juga tinggi. Situasi ini tentunya akan saling menguntungkan antara petani dan pembeli rumput laut.
“Jujur saja, kita juga sebagai pedagang ingin memastikan petani tidak rugi kami juga begitu. Tapi kalau dengan harga sekarang baru dengan kadar 40 sampai 45 sudah pasti hitungannya tidak masuk dan tidak menutupi,” tukasnya.