Jumat, 31 Aug 2007 - Sumber: Tribun Timur, Makassar - Terbaca 10084 x - Baca: 04 May 2026
Sulawesi Selatan (Sulsel) tercatat sebagai penghasil rumpul laut terbesar kedua di dunia dengan potensi lahan 250 ribu hektar di pinggir laut dan 98 ribu hektar areal budidaya.
Dari areal itu, Sulsel menghasilkan sekitar 25 ribu ton per tahun. Penghasil rumpul laut terbesar dunia adalah Chile dengan produksi sekitar 50 ribu ton per tahun.
Kepala Dinas (Kadis) Kelautan dan Perikanan Sulsel Syahrun mengungkapkan hal tersebut di sela-sela Workshop Rumput Laut dalam Rangka Sulsel Menuju Penghasil Rumput Laut Terbesar di Dunia yang dilaksanakan Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) dan Pemerintah Provinsi Sulsel di Baruga Sangiangseri, Makassar, Selasa (15/5).
Kegiatan ini juga dihadiri Direktur Jenderal (Dirjen) Budidaya Departemen Perikanan dan Kelautan Dr L Made Nurjana, Ketua HKTI Sulsel Apiaty Amin Syam sebagai penggagas, dan Ketua Komisi B DPRD Sulsel Chairul Tallu Rahim. Gubernur Amin Syam membuka acara.
Alih Teknologi
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sulsel, Andi Syamsul Alam Mallarangeng, mengatakan, pihaknya membina sejumlah koperasi yang bergerak dalam bidang usaha rumput laut.
Bahkan, salah satu koperasi di Jeneponto berhasil menjalin kerja sama langsung dengan pengusaha dari Cina setelah mendapat alih teknologi. Pihaknya juga membina koperasi rumput laut di Takalar dan Luwu Timur.
"Usaha rumput laut adalah usaha yang potensial. Kita bergerak di sektor hulu untuk menciptakan lapangan kerja. Apalagi ini tidak perlu keterampilan yang tinggi. Kita akan terus melakukan pembinaan," katanya.
Menurutnya, yang juga perlu menjadi perhatian adalah gejolak harga yang bergerak cepat sehingga kadang merugikan petani. Dengan alih teknologi diharapkan hal tersebut bisa teratasi karena rumput laut yang sudah di-processing bisa bertahan lama sehingga petani dan koperasi bisa menyimpannya lebih lama.
"Kalau kami di dinas koperasi dan UKM lebih pada masalah lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Kita mendorong warga di pesisir terjun ke bisnis ini karena cukup liquid. Sedangkan leading sector-nya ada di perikanan," tambahnya.
Dinas koperasi juga menjalin kerja sama dengan Canada Fund untuk membina petani rumput laut di sejumlah daerah.
Harga rumput laut di pasaran cukup bervariasi dan fluktuatif. Dalam kondisi normal, harganya Rp 4.500- 5.000 per kilogram. Namun, tak jarang harganya merosot hingga Rp 2.000 hingga Rp 2.500.
Penghasil Utama
Sulsel telah memposisikan diri sebagai penghasil rumput laut utama di Indonesia jenis Gracilaria sp sebesar 58,50 persen dan Euchema sp sebesar 35 persen dari produksi nasional dalam tiga tahun terakhir.
Syahrun mengatakan, wilayah pengembangan rumput laut di Sulsel tersebar di pantai barat (Maros, Pangkep, Barru, Pinrang). Sedang di teluk Bone, meliputi Sinjai, Bone, Luwu, Palopo, Luwu Timur, Luwu Utara, dan Wajo. Sedangkan pantai selatan berada di wilayah Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Selayar.
Dengan dasar potensi sumberdaya, pengalaman, kerjasama seluruh stakeholder dalam mengatasi masalah, Sulsel bercita-cita menjadi sentra rumput laut dunia pada tahun 2012, utamanya jenis gracilaria.
Industri pengolahan rumput laut yang memproduksi keraginan di Sulsel sebanyak tiga unit yaitu PT Bantimurung Indah di Maros, PT Giwang Citra Laut di Takalar, dan CV Cahaya Cemerlang di Makassar. Raw material roduksi Sulsel ini sebagian dikirim ke industri pengolahan dalam negeri seperti PT Agarindo Bogatama di Tangerang dan PT Sriti di Malang, Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Amin meminta stakeholder tidak saja meningkatkan produsen dan pendapatan tapi juga mengutamakan kesejahteraan petani. Wakil Bupati Luwu Timur Saldy Mansyur dan Wakil Bupati Selayar Nur Syamsina Aroepala hadir mempresentasikan potensi sumberdaya laut di daerahnya.
Kemampuan Sulsel
Kemampuan produksi: 25 ribu ton per tahun
Potensi lahan: 250 ribu hektar di pinggir laut dan 98 ribu hektar areal budidaya
Penghasil rumput laut terbesar dunia, Chile, menghasilkan 50 juta ton per tahun
Lokasi Usaha Rumput Laut
Pantai Barat: Maros, Pangkep, Barru, dan Pinrang
Teluk Bone: Sinjai, Bone, Luwu, Palopo, Luwu Timur, Luwu Utara, dan Wajo
Pantai Selatan: Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Selayar