
Pertemuan tahunan ketiga Forum kawasan Timur Indonesia di ikuti juga oleh JaSuDa.net. Tujuan dari pertemuan ini untuk peningkatan partisipasi dan transparansi dalam pembangunan melalui Forum Reformer Kawasan Timur Indonesia.
Keberlanjutan jangka panjang program pembangunan di Indonesia akan semakin bergantung pada kawasan Timur Indonesia. Kawasan Timur Indonesia (Maluku, Sulawesi, Papua dan Nusa Tenggara) mewakili hampir setengah dari total wilayah dan 80% keragaman budaya Indonesia. Saat ini, perwakilan dari kawasan Timur Indonesia (KTI) hanya mencapai 15% dari keseluruhan jumlah anggota wakil rakyat karena berbanding dengan jumlah penduduk KTI yang berjumlah 40 juta penduduk.
Disamping itu, prevelansi rata-rata dari kemiskinan di wilayah ini hampir 105 lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Kondisi ini sangat ironis mengingat KTI tidak berkekurangan sumberdaya alam dan juga tidak memiliki masalah kelebihan penduduk. Sebaliknya, masalah yang dihadapi oleh kawasan ini adalah terbatasnya akses pada pelayanan dasar publik, fasilitas, dan infrastruktur.
Seiring dengan upaya pembangunan yang diarahkan ke kawasan Timur Indonesia, terdapat banyak pengalaman yang dapat dianalisa dan disusun kembali guna menghindari kesalahan-kesalahan pembangunan di masa lalu. Salah satu kesalahan di masa lalu adalah kurangnya interaksi antara setiap aktor dan motor pembangunan di setiap level, juga antara pemerintah dan organisasi sipil dan komunitas pembangunan internasional.
Pada tingkat lokal, masalah lain adalah kuranngya interaksi horizontal antara pelaksana pembangunan di tingkat kabupaten dan provinsi. Forum Kawasan Timur Indonesia (Forum) hadir untuk menjembatani isu-isu tersebut dan memberi kesempatan bagi seluruh pelaku pembangunan untuk saling berinteraksi dan membangun kepercayaan agar terjadi reformasi dan proses pembangunan yang lebih efektif.
Diskusi berbagai ide, pendekatan dan isu yang berkembang di 12 provinsi kawasan Timur Indonesia terbukti mampu meningkatkan pengetahuan, kapasitas dan jaringan para reformer di wilayah ini untuk dapat membawa perubahan positif. Hubungan yang terbangun melalui Forum ini juga meningkatkan efisiensi perencanaan dan evaluasi kegiatan, dimana para partisipan mampu memberikan input yang lebih strategis berdasarkan pemahaman dan pengetahuannya yang semakin berkembang mengenai isu-isu lokal dan kendalanya serta juga keberhasilan inisiatif dan kapasitas lokal yang ada.
Dari perspektif komunitas pembangunan internasional, Forum ini juga menjadi wadah yang bernilai, dimana berbagai ide, program, dan rencana tindak lanjut dapat dibahas, dikembangkan dan dimasukkan dalam arsitektur regional yang ada, menjadi struktur lokal masyarakat umum dan pemerintah.
Para anggota Forum dapat membimbing hal-hal yang terkait dengan budaya yang ada, nilai dan hubungan yang dapat mempengaruhi efektivitas dan keberlanjutan program-program pembangunan. Karena beberapa anggota kunci Forum ini juga memegang posisi kunci secara nasional, Forum ini juga dapat mempengaruhi kebijakan-kebijakan nasional.
Forum KTI juga menjadi akses kunci bagi pembangunan dan pemerataan berbagai perangkat pengetahuan dan program untuk mendukung prinsip-prinsip Deklarasi Paris. Yang cukup penting, terlibatnya Forum secara cepat meningkatkan rasa memiliki hasil pembangunan. Kerjasama para anggota Forum juga mencerminkan peningkatan yang sejalan dengan program-program pembangunan menuju prioritas pembangunan daerah. Masukan dari Forum diperlukan untuk menciptakan indikator kinerja pembangunan yang sesuai dengan kondisi lokal dan memastikan tujuan pembangunan dapat dicapai.
Secara simultan, sebagai praktik komunitas, Forum ini menjadi penting jika mereka berfungsi sebagai portal untuk penyebaran pengetahuan terkait pembangunan kepada jaringan dan mitra-mitranya. Para anggota Forum juga dapat menyalurkan pengetahuan dan pembelajaran dari berbagai kegiatan di lapangan kepada para pengambil keputusan di tingkat nasional dan internasional.