KARAKTERISTIK MASYARAKAT PESISIR
Kebudayaan masyarakat pesisir menunjukkan kebudayaan
folk yang ditandai dengan kecil, terisolasi, buta huruf dan homogen dengan ikatan yang kuat dalam solidaritas kelompok.
Sikap masyarakat pesisir pada alam bergerak dalam kontinum tunduk pada alam dan ada juga yang merusaha selaras dengan alam. Sikap tunduk pada alam dilatar belakangi oleh kepercayaan mereka bahwa alam memiliki kekuatan magis. Upaya sedekah laut adalah contoh sikap tunduk pada alam. Sedangkan
awig-awig di lombok dan
sasi di maluku adalah contoh sikap masyarakat yang selaras dengan alam.
Lebih jauh karakteristik masyarakat pesisir sebagai representasi komunitas desa-pantai dan desa terisolasi dapat diuraikan dalam berbagai aspek:
1. Sistem Pengetahuan
Pengetahuan masyarakat umumnya didapat dari warisan orangtua atau pendahulu mereka berdasarkan pengalaman empiris. Kuatnya pengetahuan lokal menjadi salah satu penyebab terjadinya kelangsungan hidup para nelayan maupun petani. Misalnya nelayan menggunakan
dugo-dugo yaitu seutas tali dengan batu pemberat untuk mengetahui arah dan kekuatan aliran arus sekaligus kedalaman laut. Arah arus diketahui dari kecendrungan arah tali
dugo-dugo setelah dimasukkan ke laut. Sedangkan kekuatan arus dapat dirasakan dengan memegang
dugo-dugo.
Mereka juga menggunakan tanda alam lain seperti rasi bintang maupun kondisi air. Pada suku laut dikenal konsep
perbani yaitu kondisi air laut pada saat surut atau pasang tanggung ketika air laut berwarna merah dan tenang. Mereka meyakini pada kondisi ini banyak ikan. Tapi dalam kondisi air dalam dan berwarna hijau kemerah-merahan para nelayan percaya banyak ikan besar berkeliaran. Sementara jika banyak ulat air atau
ekor-ekor dipercayai tidak banyak ikannya.
Berbeda lagi dengan
patorani (nelayan penangkap ikan terbang) di Sulawesi Selatan, untuk mengetahui apakah di suatu wilayah banyak ikan terbang, maka para
juragan (pemilik kapal) mencelupkan tangannya sampai sebatas siku ke dalam laut. Dengan merasakan kehangatan tertentu dari air laut ,
juragan dapat mengetahui banyaknya ikan torani di tempat itu. Selain itu bila banyak ikan torani yang beterbangan sangat rendah di sekitar perahu menandakan mereka siap bertelur, kondisi sebaliknya bila ikan-ikan itu terbang tinggi.
Pengetahuan lokal (
indigenous knowledge) merupakan kekayaan intelektual mereka yang sampai kini terus dipertahankan. Bila pengetahuan lokal ini dapat dikombinasikan dengan temuan-temuan modern tentu akan menghasilkan suatu sistim pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kemajuan usaha para nelayan dan petani ini.
2. Sistem Kepercayaan
Secara umum nelayan masih memiliki kepercayaan yang kuat bahwa laut memiliki kekuatan magis sehingga perlu mendapat perlakuan-perlakuan khusus dalam melakukan berbagai aktifitas nafkah di laut agar pelakunya selamat dan usahanya berhasil. Diantara nelayan
patorani ada ritual khusus selama alat tangkap dioperasikan di laut, saat itu mesin dimatikan sehingga perahu dan alat tangkap diombang ambingkan arus. Sambil menunggu ikan masuk perangkap, para
juragan dan
sawi (awak kapal) akan menyanyikan lagu-lagu semangat. Dimana dalam pandangan
patorani dengan menyanyikan lagu – lagu semangat tersebut ikan torani (ikan terbang) akan masuk alat tangkap.
Pada masyarakat nelayan di Pekalongan biasa ada ritual
cadranan di pertengahan bulan
suro dimana sesajen berupa kepala kerbau dan beberapa jenis makanan yang disusun di atas sebuah tumpeng diletakkan di atas kapa kecil dan dilayarkan ke laut dengan diiringi kapal-kapal nelayan. Tujuan ritual ini agar aktifitas penangkapan ikan selamat dan hasil tangkapannya banyak.
3. Peran wanita
Aktifitas ekonomi perempuan merupakan gejala umum di kalangan masyarakat lapisan bawah. Umumnya selain mengurus rumah tangga, para istri nelayan dan petani juga melakukan berbagai fungsi ekonomi bahkan tidak jarang melibatkan anak-anaknya yang remaja maupun di bawah umur. Melibatkan seluruh anggota keluarga adalah salah satu strategi ekonomi rumahtangga untuk memaksimalkan pendapatan rumahtangga. Berbagai aktifitas ekonomi yang biasa dilakukan perempuan mulai dari penangkapan ikan di perairan dangkal, pengolahan ikan maupun kegiatan jasa dan perdagangan.
Pada usaha tani rumput laut pekerjaan mengikat benih dan panen banyak dilakukan oleh perempuan, ada yang melakukan kegiatannya di rumah jaga di tengah laut atau di tenda-tenda di tepi pantai sambil mengasuh anak-anak balitanya. Sedangkan anak-anak tanpa pandang usia dan jenis kelamin, dari balita sampai dewasa turut serta dalam mengikat bibit rumput laut. Nampaknya ketrampilan ini disosialisasikan secara tidak sengaja karena ibu melakukan pekerjaan ini sambil mengasuh anaknya.
4. Posisi sosial nelayan
Kebanyakan nelayan dan petani memiliki status sosial yang relatif rendah, meskipun demikan mereka sangat bangga akan profesinya. Rendahnya posisi sosial ini karena keterasingan mereka yang mengakibatkan masyarakat lain kurang mengenal cara hidup mereka dan kurangnya sosialisasi dengan masyarakat lain akibat keterbatasan waktu. Nelayan lebih banyak melakukan kegiatan mencari nafkah di laut daripada bersosialisasi dengan masyarakat yang secara geografis relatif jauh dari pantai.